Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Double Tap

Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia

“Bagi Clarissa, satu notifikasi ‘like’ terasa seperti napas buatan; tanpa itu, ia merasa sedang tenggelam dalam lautan rasa minder.”

Candu Double Tap

Layar ponsel Clarissa berpendar terang di kegelapan kamar. Jarum jam sudah melewati angka dua pagi, tapi jempolnya seolah punya nyawa sendiri. Ia baru saja mengunggah foto selfie dengan balutan baju baru.

“Lima menit… baru tiga likes?” gumamnya lirih. Suaranya serak, matanya perih menatap layar. Ia mulai membandingkan fotonya dengan unggahan Tasya yang baru saja memposting foto di kafe estetik. Tasya sudah dapat ratusan likes. 

Clarissa mendekatkan layar ke wajahnya, meneliti setiap detail. “Apa karena hidung gue kurang lancip ya? Atau filternya ketebelan? Duh, pipi gue kelihatan kayak bakpao banget di sini.”

Menghela napas berat, jempolnya terus menekan tombol refresh.

“Harusnya tadi gue pakai filter soft glow aja. Tuh kan, si Tasya caption-nya cuma titik doang tapi yang komen banyak banget. Gue udah mikir caption puitis satu jam malah nggak ada yang peduli.” Rasa sesak mulai memenuhi dadanya. 

Clarissa merasa seolah nilai dirinya sedang diundi oleh algoritma. “Besok di sekolah gue mau taruh muka di mana kalau foto ini gagal total?”

Memutus Rantai Double Tap

Keesokan harinya, Clarissa duduk di pojok kantin. Matanya merah, kantung matanya menghitam. Ia melihat Tasya dan gengnya sedang tertawa sambil merekam video TikTok.

“Eh, Clar! Kok diem aja? Sini ikut challenge baru!” Seru Tasya sambil melambai.

Clarissa memaksakan senyum, tapi tangannya gemetar memegang ponsel. “Lagi nggak enak badan, Sya. Seru-seruan aja dulu,” jawabnya bohong. 

Di dalam hati, ia berteriak, Gue nggak se-estetik kalian! Gue nggak punya skincare mahal buat bikin muka gue glowing kayak gitu!

Menatap layarnya yang masih menampilkan jumlah likes yang stagnan. “Gue capek,” bisiknya pada diri sendiri. “Capek harus kelihatan sempurna tiap hari.” 

Sore itu, dengan tangan gemetar, ia menekan lama ikon aplikasi media sosialnya sampai muncul tanda silang kecil. “Hapus nggak ya? Kalau gue hapus, gue bakal ketinggalan info apa?” 

Ia terdiam sejenak, lalu memejamkan mata dan menekan tombol delete. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Clarissa mendengar suara napasnya sendiri tanpa gangguan notifikasi.

Stop Double Tap, Start Deep Breath!

Akhirnya Clarissa menyadari bahwa kebahagiaan yang ia cari selama ini hanyalah fatamorgana. Menghabiskan waktu berjam-jam demi mengejar double tap tidak akan pernah menyembuhkan rasa insecure jika ia tidak mulai menerima dirinya sendiri. 

Angka di layar ponsel bukanlah tolok ukur harga diri, melainkan sekadar validasi semu yang bisa hilang dalam sekejap mata. 

Stop scrolling, start living! Jangan biarkan harimu hancur hanya karena jumlah double tap yang sedikit. Yuk, mulai digital detox akhir pekan ini dan cari kebahagiaan yang nyata tanpa perlu haus validasi dari orang asing!

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1