Penulis: Muhammad Helmy Mustafa
Sepulang tarawih di malam pertama bulan Ramadan bersama istriku tiba-tiba aku teringat kenangan masa kecilku di bulan Ramadan waktu itu…
Pada pagi hari itu saat aku masih terlelap dan masih terbawa mimpi tidurku, aku mencium bau masakan ibu yang terasa begitu sedap, seketika membuatku terbangun dari mimpi indahku. Aku bermimpi bahwa pada saat Lebaran nanti aku memegang uang ratusan juta, aku tidak menyangka dari mana datangnya uang itu.
Tidak lama setelah aku mendapatkan uang aku terbangun oleh bau sedap masakan ibu.
“Ah sudahlah, lupakan saja soal uang, lagian masakan ibu lebih menggoda untuk sahur.”

Pagi itu juga bertepatan pada malam terakhir bulan Ramadan, di mana besok sudah saatnya Lebaran. Usai sahur, 15 menit kemudian azan subuh dikumandangkan dan aku segera bergegas menuju masjid depan rumah. Singkat cerita sepulang dari masjid aku bertemu dengan temanku.
“Hey Brandon! Gimana dengan sahurmu pagi ini?” sapa Sutris.
Lalu aku menjawab “Alhamdulilah sahurku lancar. Gimana dengan sahur terakhirmu bulan ini?”
“Aku sahur kebanyakan hari ini, terlalu semangat nih buat Lebaran besok, hehe.” jawab Sutris dengan nada keberatan.
Setelah percakapan yang berlangsung kurang lebih 10 menit itu aku melanjutkan aktivitas di hari puasa terakhir ini. Singkat cerita, pukul 8 pagi, entah kenapa aku merasa jauh lebih bersemangat dari hari-hari biasanya, bahkan saat menyapu halaman masjid, aku merasa ada yang berbeda entah dari apanya.
“Eh, ini kok tiba-tiba kayak ada yang beda gini ya? Apa mungkin karena besok udah lebaran?”
Aku hanya bisa berpikir dan tersenyum tipis-tipis saja. Hari terus berjalan hingga pada pukul 13 siang. Cuacanya begitu panas dan aku memutuskan untuk mandi air es. Benar memang rasanya sejuk tapi ini tidak menghilangkan dahaga puasa
“Gapapa, memang kalo sudah diniatkan puasa, haus dan lapar gak ada apa-apanya toh. Sekarang juga udah siang, habis ini sore terus buka.”
Setelah mandian yang berasa sejuk dan adem itu aku memutuskan untuk tidur sejenak dan bangun pada saat azan Ashar dikumandangkan. Tiba-Tiba!
“Loh udah jam 5, salat Ashar aja belom,” ucapku sambil tergesa-gesa, aku langsung mandi dilanjut salat Ashar hingga menunggu waktu berbuka tiba.
Pukul 17.40, saat azan Magrib yang dinanti-nanti telah tiba. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil makanan dan es secara langsung dan buru-buru.
“Ah sedapnya berbuka di hari terakhir bulan Ramadan ini,” ujarku setelah menikmati segelintir makanan yang telah ibu masak untuk keluarga di rumah.

Setelah itu malam takbiran pun tiba dan aku bersama teman-temanku memulai takbiran di masjid depan rumahku.
“Eh awas itu di situ (DUARRR)!” ujarku saat melempar petasan letus ke Wildan.
“Brandon, awas kau (CIUTTTT … DUARRR)!” ucap Wildan dengan nada balas dendam padaku.
Tidak sampai di situ saja, kami terlalu asik bermain hingga pada akhirnya petasan setelah sekian lama bermain.
“Udah habis nih, ayo ke masjid,” ajakku.
“Yok!” “Gass…” “Ayook,” balas teman-temanku.
Singkat cerita sepulang takbiran dari masjid, aku sempat termenung di depan teras rumah, berharap tahun berikutnya dapat bertemu lagi dengan bulan suci Ramadan.
“Ramadan tahun ini terasa begitu cepat ya. Bahkan malam ini sudah di ujung hari terakhir bulan Ramadan dan besok udah masuk bulan Syawal aja. Sudahlah biarkan hari hari berjalan dengan seharusnya,” ujarku sebelum aku terlelap pada malam itu.
Pagi di hari Idul Fitri
“BRANDON…. BANGUN!” teriak ibu dengan nada lantang, dan aku pun langsung bergegas mandi dan salat subuh setelah itu langsung salat ied. Sepulang salat Ied, aku termenung dan berbicara pada diriku sendiri. “Wah udah hari raya aja nih, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Jadi gak sabar nanti dapet THR berapa dari saudara-saudara, hehe.” Tiba tiba Ibu menegurku dan mengajakku untuk bersilaturahmi ke para tetangga sekitar rumah bersama ayah dan adik.

Pukul 10, setelah berkeliling di sekitar rumah akhirnya bisa kembali ke rumah. “Ah, capek ya jam segini udah panas aja. Tapi gapapa yang penting kantong ga kosong, hehe.”
Tak lama setelah aku sampai di rumah tiba tiba ada seorang yang tak dikenal datang ke rumah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Dengan siapa ya?” ujarku dengan nada bertanya-tanya.
“Kami dari PT. Semangka Belah Dua. Benar dengan Ananda Brandon Vestico dan alamat Desa Macan Barokah, Dusun Cakar Macan RT-2 RW-8?” sahut orang tak kukenal tersebut.
“Wah kok tau mas, saya mau diapain ini?” tanyaku dengan nada ketakutan.
Tiba-tiba… “SELAMAT ANDA MEMENANGKAN HADIAH UANG TUNAI 100.000.000 Rupiah DARI UNDIAN MINUMAN KEMASAN.”
Aku sontak kaget dan baru ingat bahwa dua minggu lalu aku iseng mencoba mengikuti undian berhadiah setelah membeli minuman kemasan dari warung untuk berbuka.
“Wah beneran mas? Gak nyangka saya.”

“Beneran dong,” sembari menyerahkan amplop beserta foto bersama dengan perwakilan perusahaan tersebut.
“Alhamdulillah, yang tadinya hanya mimpi, sekarang udah di depan mata nih uang segepok.”
Setelah aku menerima hadiah undian tersebut aku sadar bahwa rezeki menang sudah ada yang mengaturnya. Maka dari itu aku berniat menyisihkannya untuk bersedekah dan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Aku juga sadar bahwa kenikmatan di dunia itu hanya berlangsung sementara, maka dari itu aku ingin mengamalkannya sehingga sesuatu yang kuberi kepada sesama dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dan aku berharap suatu saat nanti aku bisa masuk ke surga yang Allah janjikan dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang abadi di sisi-Nya.
Betapa indahnya kenangan masa kecilku di bulan Ramadan. Hal ini membuat aku sadar bahwa sejatinya kita hidup di dunia ini hanya sementara dan sesuatu yang kita dapat itu hanya titipan dari Sang Maha Kuasa. Meski sekarang aku sudah berkeluarga aku berharap para anak-anak dan remaja jaman sekarang sadar akan hal itu dan senantiasa menyisihkannya untuk bersedekah.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.