Nanti lagi, nanti, nanti lagi. Penantian yang membunuh ego, kadang tak pernah membuat seseorang membenci hidupnya sendiri. Akan tetapi, di manakah sebenarnya pelarian atas penantian itu? Rasanya, yang dinanti pun tak tahu bahwa ia sedang dinantikan, atau sebenarnya mengetahuinya, tapi memiliki pilihan yang lain.
