Skip to main content

Majalah Sunday

Mengenal Suku Cia-Cia, Masyarakat Indonesia
yang Menulis Bahasa Daerah dengan Aksara Korea.

Penulis: Amour Glorya  – Universitas Bunda Mulia.

Pernah gak sunners membayangkan menemukan tulisan yang terlihat seperti bahasa Korea, tetapi ternyata saat dibaca itu adalah bahasa daerah Indonesia? Hal itu bisa kamu temukan di Kampung Karya Baru, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Di wilayah yang kemudian populer disebut Kampung Hangeul atau Kampung Korea ini, masyarakat Suku Cia-Cia menggunakan Hangeul sebagai sistem tulisan untuk bahasa Cia-Cia.

Sekilas, pemandangan tersebut mungkin bikin bingung. Apakah masyarakat Cia-Cia sebenarnya menggunakan bahasa Korea? Jawabannya, bukan. Hangeul di sini berfungsi sebagai aksara untuk menuliskan bahasa Cia-Cia, sementara bahasa Korea dan bahasa Cia-Cia merupakan dua bahasa yang berbeda. 

Papan nama Pasar Karya Baru di Baubau menampilkan tulisan Latin dan aksara Hangeul di tengah lingkungan permukiman masyarakat Cia-Cia.

Mengenal Suku Cia-Cia dan Bahasa Daerahnya

Suku Cia-Cia merupakan salah satu kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah Pulau Buton dan Kota Baubau, termasuk Kecamatan Sorawolio. Bahasa Cia-Cia sendiri termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, khususnya kelompok Muna-Buton, sehingga tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan bahasa Korea.

Sebelum mengenal sistem tulisan berbasis Hangeul, bahasa Cia-Cia lebih banyak diwariskan secara lisan. Kondisi ini membuat berbagai cerita, kosakata, dan pengetahuan yang hidup dalam bahasa tersebut menghadapi tantangan ketika harus didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Penelitian Tae-Young Cho pada 2012 mencatat bahwa masyarakat Cia-Cia sebelumnya tidak memiliki satu sistem tulisan tersendiri yang digunakan untuk merepresentasikan bahasa mereka secara luas.

Di sinilah persoalan pelestarian bahasa mulai muncul. Sebab, bahasa tidak hanya perlu digunakan untuk berbicara, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk didokumentasikan dan diwariskan.

Siswa SD Negeri Karya Baru berfoto di depan sekolah yang menggunakan tulisan Latin dan Hangeul pada papan namanya.

Bagaimana Aksara Korea Bisa Sampai ke Buton?

Cerita ini mulai berkembang pada pertengahan 2000-an ketika muncul upaya mencari sistem tulisan yang dapat digunakan untuk bahasa Cia-Cia. Pemerintah Kota Baubau kemudian menjalin hubungan dengan akademisi dan kelompok pemerhati Hangeul dari Korea Selatan, termasuk Hunmin Jeongeum Society.

Pada 2008, akademisi Korea seperti Chun Tai-Hyun dan Lee Ho-Young mengunjungi Baubau. Dua guru dari komunitas Cia-Cia juga kemudian dikirim ke Seoul untuk mengikuti pelatihan dan menyusun sistem transkripsi bersama akademisi Korea. Setahun berikutnya, buku Bahasa Cia-Cia 1 disebut diterbitkan dan pengajaran tulisan Cia-Cia berbasis Hangeul mulai dilakukan di SD Karya Baru pada Juli 2009.

Penelitian akademik juga mencatat bahwa penggunaan Hangeul tersebut sejak awal dimaksudkan sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa minoritas Cia-Cia. Jadi, alasan masyarakat Cia-Cia menggunakan Hangeul bukan karena mereka ingin “menjadi orang Korea”. 

Guru mengajarkan aksara Hangeul kepada siswa di ruang kelas di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Kenapa Harus Hangeul?

Hangeul merupakan sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Korea. Namun, sebuah sistem tulisan pada dasarnya dapat diadaptasi untuk bahasa lain. Dalam kasus Cia-Cia, Hangeul digunakan untuk merepresentasikan bunyi-bunyi dalam bahasa lokal tersebut.

Karena itu, bisa membaca bentuk Hangeul tidak berarti seseorang bisa berbahasa Korea. Tulisan yang terlihat seperti bahasa Korea di Karya Baru dapat sebenarnya digunakan untuk menuliskan bahasa Cia-Cia. Sama seperti kita bisa membaca alfabet Latin tanpa otomatis memahami semua bahasa yang ditulis menggunakan alfabet tersebut.

Menariknya, penggunaan Hangeul pada bahasa Cia-Cia bukan sekadar mengganti huruf Latin dengan bentuk huruf Korea. Hangeul diadaptasi untuk menuliskan kata, kalimat, dan bunyi dalam bahasa Cia-Cia secara utuh, sehingga bahasa lokal tersebut dapat ditulis menggunakan sistem aksara yang berbeda dari bahasa asal Hangeul. Kecocokan ini bahkan memungkinkan orang yang terbiasa membaca Hangeul untuk melafalkan tulisan Cia-Cia berdasarkan sistem penulisannya. Dalam beberapa contoh yang terdokumentasi, penutur bahasa Korea dapat membaca tulisan Cia-Cia dan mengucapkannya dengan pelafalan yang dapat dikenali oleh masyarakat Cia-Cia. Hal ini menjadi salah satu gambaran menarik tentang bagaimana sebuah aksara dari Korea dapat digunakan untuk “menghidupkan” bahasa lokal di Pulau Buton.

Halte di kawasan Pasar Karya Baru Baubau dengan tulisan Hangeul besar di atasnya dan warga beraktivitas di bawahnya.

Seperti Apa Kampung Hangeul di Karya Baru?

Di Kelurahan Karya Baru, keberadaan Hangeul dapat dijumpai di sejumlah ruang publik dan lingkungan pendidikan. Tulisan berbasis Hangeul dapat berdampingan dengan aksara Latin pada papan nama, penanda, maupun media pembelajaran yang digunakan masyarakat. Pemandangan ini terasa unik karena aksara yang identik dengan Korea justru hadir di tengah kehidupan masyarakat Suku Cia-Cia di Pulau Buton. Dari sinilah Karya Baru kemudian dikenal secara populer sebagai “Kampung Hangeul” atau “Kampung Korea”, meskipun sebutan tersebut bukan merupakan nama administratif resmi kelurahan.

Penggunaan Hangeul juga pernah diperkenalkan di lingkungan sekolah sebagai salah satu cara untuk menuliskan bahasa Cia-Cia kepada generasi muda. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya mengenal bahasa daerah mereka melalui percakapan sehari-hari, tetapi juga dapat melihat dan mempelajarinya dalam bentuk tulisan. Inilah yang membuat Karya Baru memiliki pemandangan yang tidak biasa aksaranya berasal dari Korea, tetapi kata-kata dan kalimat yang dituliskan tetap berasal dari bahasa Cia-Cia.

Siswi menulis aksara Hangeul di papan tulis dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Ketika Pelestarian Budaya Bukan Sekadar Menyimpan Tulisan

Keunikan Suku Cia-Cia bukan sekadar karena mereka menggunakan aksara yang berasal dari Korea Selatan. Di balik tulisan Hangeul yang terlihat di Karya Baru, ada cerita tentang sebuah masyarakat yang berusaha mencari cara agar bahasa daerah mereka tidak hilang begitu saja. Hangeul telah menjadi bagian dari sejarah upaya tersebut dan membuat bahasa Cia-Cia semakin dikenal. Namun, perjalanan pelestariannya masih membutuhkan lebih dari sekadar aksara. Bahasa harus terus digunakan agar tetap hidup.

Sunners, di tengah derasnya budaya global yang kita konsumsi setiap hari, mengenal dan menggunakan bahasa daerah bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk kita menjaga bagian dari identitas Indonesia untuk tetap hidup. Karena budaya bukan cuma sesuatu yang kita banggakan saat menjadi viral, tetapi sesuatu yang perlu terus kita kenal, gunakan, dan wariskan.

Produk Rekomendasi Sunday

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 5