Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia”
Gaes, kalian tua gak sih kalau di zaman dahulu kerajaan di Indonesia tuh banyak banget, dan salah satunya yang paling terkenal yaitu Mataram. Tapi, kalian pernah nggak sih kepikiran kalo ternyata ada makam atau kuburan yang emang sengaja dibikin untuk diinjek-injek orang selama ratusan tahun bahkan sampe sekarang?
Ini kedengeran nyeleneh tapi ini emang beneran ada di kompleks makam raja-raja Mataram Islam, Pajimatan Imogiri, Yogyakarta lho.
Di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri, ada satu makam yang konon dipercaya berada di bawah anak tangga. Bukan karena salah bangun, tapi makam itu justru jadi bagian dari hukuman untuk seorang tokoh yang dikenang sebagai pengkhianat kerajaan.
Makam biasanya dibuat sebagai tempat untuk menghormati orang yang telah meninggal bukan? Namanya diabadikan, batu nisan dirawat, dan orang-orang yang datang akan menundukkan kepalanya di hadapan makam. Tapi, ada satu kisah yang justru berjalan dengan sebaliknya di kompleks makam raja-raja Mataram Islam, imogiri, Yogyakarta.
Disana, ada satu bagian dari anak tangga yang dikaitkan sama Masyarakat setempat dengan makam Tumenggung Endranata, beliau adalah tokoh yang dikenang karena pengkhianatan terhadap Sultan Agung dalam kisah sejarah Mataram.

Tumenggung Endranata yang bernama asli Ngabehi Mertajaya merupakan putra dari Tumenggung Wiraguna. Namanya muncul dalam berbagai kisah mengenai masa pemerintahan Sultan Agung, pengusa Mataram yang memerintah pada abad ke-17. Endranata disebut sebagai seorang pejabat atau punggawa yang pernah membantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dalam menaklukan Demak dan sekitarnya.
Pada masa Sultan Agung, Mataram berusaha memperluas pengaruhnya di Pulau Jawa. Salah satu lawan yang kemudian menjadi ancaman besar adalah VOC yang saat itu berpusat di Batavia.
Sultan Agung mengirim pasukan Mataram ke Batavia dalam dua ekspedisi besar, pada tahun 1628 dan 1629. Jarak antara pusat kekuasaan Mataram dan Batavia bukan persoalan kecil. Selama perjalanan dan pengepungan ribuan pasukan prajurit membutuhkan persediaan makanan, senjata, dan jalur logistik yang panjang.
Namun kesetiaan Endranata tidak bertahan lama, Endranata diiming-imingi akan menjadi raja Mataram selanjutnya jika Kerajaan Mataram runtuh. Karena tergiur, ia pun akhirnya membocorkan informasi penting mengenai lumbung-lumbung makanan persediaan mereka kepada VOC. Di sinilah nama Endaranata bukan lagi dikenal sebagai pejabat kerajaan, melainkan sebagai pengkhianat kerajaan.
Pengkhiantan yang dilakukannya membuat Sultan Agung geram dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya.
Sultan Agung yang geram akhirnya memerintahkan agar Tumenggung Endranata dihukum mati dan jasadnya dibagi menjadi tiga bagian.
Kepalanya dipancangkan di Alun-Alun Jayakarta sebagai peringatan bagi Belanda, kakinya dibuang ke laut sebagai simbol pengusiran dari tanah Jawa, sementara badannya dikebumikan di Imogiri sebagai bentuk penghinaan.

Ada beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa ada dua tindakan besar yang membuat Tumenggung Endranata dijatuhi hukuman berat.
Kesalahan pertama Endranata adalah memprovokasi hingga terjadi perang saudara antara Sultan Agung dengan Adipati Pragola II dari Pati.
Adipati Pragola II merupakan saudara ipar dari Sultan Agung. Karena hasutan dari Endranata yang menuduh Pragola II akan memberontak, Sultan Agung pun memutuskan untuk menyerang Pati.
Dalam pertempuran sengit itu, Adipati Pragola II sempat mendesak pasukan Mataram hingga Sultan Agung membunyikan gong pusaka Kyai Bicak sebagai tanda serangan balik. Sultan Agung kemudian melemparkan tombak pusaka Kyai Baru kepada Iurah kapendak, Naya Derma.
Tombak itu akhirnya menewaskan Adipati Pragola II pada 4 Oktober 1627.
Perang saudara ini menelan ratusan ribu jiwa sehingga membuat Mataram melemah dan kehilangan banyak kekuatan untuk menghadapi musuh eksternal.
Kesalahan kedua dan terberat dari Endranata adalah dengan membocorkan strategi rahasia dari Sultan Agung kepada VOC.
Sultan Agung dua kali menyerang Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Setelah mengalami kekalahan pertama karena logistik, sultan agung merancang strategi baru dengan membangun lumbung beras di daerah Karawang dan Cirebon.
Namun rencana itu tidak berlangsung lama, rencana itu langsung diketahui oleh VOC karena bocor melalui Tumenggung Endranata.
VOC kemudian menghancurkan seluruh lumbung beras tersebut, membuat pasokan logistik Mataram habis sebelum perang berlangsung.
Penyerangan kedua pun berakhir dengan kegagalan total, yang menyebabkan ribuan prajurit mataram tewas dan tertawan. Pengkhianatan ini diangap sebagai dosa terbesar Tumenggung Endranata terhadap tanah Jawa.
Setelah terbukti bahwa ia berkhianat, ia pun ditangkap dan dijatuhi hukuman mati atas perintah langsung Sultan Agung.
Sebagai bentuk dari penghinaan, jasad Endranata dikebumikan di tangga kompleks makam Imogiri.
Penempatan ini menjadi simbol bahwa sang pengkhianat akan terus dilangkahi selama-lamanya. Berbeda dengan raja dan bangsawan lain yang dimakamkan di kedhaton terhormat, makamya justru menjadi peringatan abadi bagi siapapun yang melangkah ke kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram.

Kisah ini ngingetin kita kalo sejarah itu nggak melulu soal raja-raja yang hebat dan kemenangan, tapi ada juga sisi gelap yang justru ngajarin kita pelajaran hidup paling dalam. Makam yang sengaja dibikin ini nggak semata-mata cuma dijadiin monumen doang, tapi simbol abadi soal harga sebuah kepercayaan yang dikhianati. Setiap langkah orang-orang selama ratusan tahun ini jadi pengingat bahwa setiap penghianatan punya konsekuensi nya dan itu nggak akan pernah benar-benar hilang.
Kalau kamu lagi jalan-jalan ke Yogyakarta, coba deh mampir ke Pajimatan Imogiri buat liat secara langsung anak tangga legendaris ini. Tapi inget tetep hormatin juga situs bersejarahnya.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.