Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
“Suit suit~ lihat sini dong cantik!”
“Makin seksi deh tiap lewat sini!”
“Cowok, godain kita dong!”
Kalimat barusan pasti kerap kita dengar kalau lagi jalan-jalan bahkan di dalam beberapa situasi formal. Meski ada kata-kata seperti “cantik” atau “bagus”, kalau diucapkan dengan gestur seksual, itu termasuk catcalling, bukan pujian! Simak lebih lanjut tentang apa itu catcalling agar kita lebih aware tentang perilaku pelecehan seksual dan berani speak up tentang pengalaman kita.
Catcalling merupakan perilaku pelecehan seksual di mana sang pelaku melontarkan komentar seksual mengenai penampilan korban, memberi siulan, tatapan mesum, memegang atau memukul area tubuh, atau mencari perhatian dengan klakson mobil dan motor. Sebagian besar korban catcalling adalah perempuan, terutama saat berada di ruang publik seperti di jalanan. Namun nggak jarang cowok turut menjadi korban catcalling. Dan catcalling juga dapat terjadi di dalam institusi formal seperti sekolah, universitas, atau kantor.

Mengutip dari Halodoc, contoh-contoh perilaku yang termasuk catcalling adalah:
Fenomena catcalling sayangnya masih sering terjadi dan pelakunya nggak mandang usia baik muda maupun tua. Tetapi, banyak yang masih suka membela diri dengan alasan memuji korban, pakaian yang dikenakan korban dianggap menggoda, atau menganggap perilaku catcalling sebagai hal yang wajar untuk dilakukan.
Padahal, catcalling sangat berbeda dari pujian yang tulus dan bisa membuat orang merasa risih. Dan catcalling nggak melulu terjadi kepada orang yang berpakaian ketat atau terbuka. Banyak lho teman-teman kita yang mengalami catcalling meski sudah menggunakan pakaian tertutup. Korban catcalling juga bisa mengalami trauma, nggak percaya diri, takut kalau harus jalan-jalan sendiri, bahkan nggak nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain.
Menurut psikolog sekaligus dosen prodi psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Berliana Widi Scarvanovi, M.Psi., ada perbedaan energi yang tersalurkan saat seseorang memberikan pujian dengan seseorang yang melakukan catcalling. Ketika seseorang memberikan pujian, energi positif akan keluar sehingga otomatis si penerima juga merasa tersanjung dan senang ketika dipuji. Sebaliknya, seseorang yang melakukan catcalling dapat menciptakan energi yang negatif sehingga korban merasa nggak nyaman dan nggak bisa menerima kata-kata yang diucapkan sebagai bentuk pujian.
Perbedaan nada dan cara mengucapkan kata juga sangat berpengaruh dalam membedakan pujian atau catcalling. Contohnya, memuji penampilan seseorang seperti “Kamu cantik banget,” “Dia ganteng ya,” “Bajumu bagus deh, beli di mana?” dengan nada yang apresiatif adalah hal yang wajar. Tetapi, tentu nggak etis kalau sampai membahas bagian tubuh dengan komentar seksual dengan nada cabul, yang dapat membuat korban merasa direndahkan.
Secara garis besar, pujian berasal dari ketulusan si pemberi yang ingin menunjukkan penghargaan atau kekaguman secara sopan. Sebaliknya, catcalling bertujuan untuk mengobjektifikasi, merendahkan, atau menunjukkan dominasi pelaku dalam sebuah situasi.

Catcalling sangat nggak pantas untuk dinormalisasikan karena itu sama sekali bukan pujian, tetapi bentuk pelecehan seksual yang masih menjadi kebiasaan buruk dalam beberapa lingkup sosial. Korban akan terus bertambah dan rasa aman berinteraksi dengan sesama bisa menurun jika kita masih mewajarkan pelecehan.
Untuk kamu yang pernah mengalami catcalling, itu bukan salahmu atau penampilanmu kok! Penampilanmu bukan menjadi alasan pelaku pantas melakukan catcalling, perasaanmu valid dan layak untuk didengar. Jadi jangan ragu untuk kasih batasan pada pelaku, berani melawan, atau mencari bantuan kepada orang terdekat atau psikolog ya!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.