Majalah Sunday

Avoidant Attachment: Kenapa Kita Mulai Suka Menjauhkan Diri?

Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya

Sunners, sebenarnya apa sih itu avoidant attachment? Kalau kalian tahu, mungkin ada beberapa dari kalian atau seseorang yang mungkin kalian kenal mengalami hal ini. Yang suka tiba-tiba ngejauhin diri dari suatu permasalahan, nah kira-kira kenapa ya hal ini bisa terjadi? Disini, kita akan bahas hal tersebut agar kalian dapat memahaminya lebih baik.

Avoidant attachment merupakan suatu ikatan yang terus dihindari, kenapa? Disini kalian akan tahu alasan, macamnya, dan cara untuk pulih.

Avoidant Attachment?

Pasti kalian sering kan mendengar istilah avoidant attachment ini, tapi sebenarnya apa sih maksudnya? Jadi, istilah tersebut merupakan suatu ikatan emosional orang tua dan anak tetapi ikatan ini dapat membuat kita terus menghindari dari permasalahan tertentu. Sesuai dengan istilahnya yaitu ‘avoidant’ yang berarti menghindari atau menjauh sehingga terkadang permasalahan yang sedang dihadapi nggak selesai seutuhnya.

Penyebab Terjadinya Avoidant Attachment

Nah, kira-kira kenapa hal ini bisa atau dapat terjadi? Sebenarnya tergantung pada masa kecil kita seperti apa dulu. Ketika kita masih kecil, tentu kita memerlukan berbagai macam kebutuhan dari orang tua kita, bukan? Respon merekalah jawabannya. Dengan mereka merespon kita dengan nggak baik dan mengabaikan kebutuhan tersebut, maka yang terjadi adalah kita nggak dipedulikan. Pasti perasaan kita kecewa dan sedih, hal ini dapat berpengaruh kepada emosi kita juga.

Dengan kita yang secara terus menerus dikecewakan oleh orang tua akibat dikecewakan dan kebutuhan kita nggak dipenuhi, muncullah coping mechanism tersebut. Secara gak langsung kita terapkan hingga kita menuju remaja dan dewasa, kebiasaan itu yang akan terus membuat kita menghindari berbagai macam hal.

Tipe-Tipe Avoidant Attachment

Menurut Grow by WebMD, dalam istilah ini terdapat 3 macam tipe yaitu:

Anxious

Untuk seseorang yang mengalami tipe ini, biasanya merupakan orang yang suka cemas tanpa sebab dan merasa dirinya nggak baik untuk siapapun. Namun di satu sisi, mereka ingin banget untuk dekat sama orang lain tapi lagi-lagi adanya kecemasan takut orang tersebut nggak merasakan hal yang sama. Sesuai dengan sub judulnya, pokoknya selalu cemas dengan banyak hal.

Fearful

Untuk seseorang yang mengalami tipe ini, biasanya dikenal dengan orang yang sering berantakan untuk mengelola beberap ahal tertentu. Sesuai dengan sub judulnya, selalu merasa takut untuk mencoba hal-hal baru. Sering kesusahan untuk mempercayai orang yang baru dikenal dan terkadang suka susah juga untuk mengendalikan emosi.

Insecure

Untuk seseorang yang mengalami tipe ini, sangat berbeda terbalik dengan kedua tipe yang lainnya. Kalau yang insecure, cenderung lebih suka sendiri dan tipe yang mandiri. Terkadang jika terdapat permasalahan tertentu, mereka lebih sering menjaga jarak dibandingkan menyelesaikan masalah dengan jelas.

Kira-kira gambar ini menunjukkan tipe yang mana? (Pict by Unsplash)

Cara Mengetahui bahwa Kita Mengalami Avoidant Attachment

Setelah kita mengetahui penyebab dan macam tipenya, kira-kira gimana biar kita tahu kalau kita mengalaminya? Sebenarnya udah dapat diketahui melalui masa-masa ketika kecil seperti kita yang mempunyai masa lalu yang buruk waktu kecil, mengalami depresi, mempunyai keinginan untuk suicide, dan adanya sexual assault. Tapi bisa juga terjadi pada saat kita besar karena perasaan nggak nyaman ketemu orang baru secara terus menerus, kadang suka tiba-tiba mau menjauh aja, dan lain-lain.

Sekiranya kalian merasa hal-hal yang disebutkan itu ada dalam diri kalian, bisa jadi kalian mengalami avoidant attachment. Namun agar lebih pasti, akan lebih baik kalian coba untuk datang ke psikolog, psikiater, atau bantuan kesehatan mental lainnya agar nggak self-diagnose.

Beberapa Hal yang Bisa Dilakukan agar Bisa Pulih

Gimana nih agar kita bisa pelan-pelan pulih dari avoidant attachment ini? Tentu untuk ini, pasti salah satu jawabannya udah ditebak yaitu dengan menemui psikolog, psikiater, atau bantuan dalam kesehatan mental lainnya. Dengan kita coba untuk terbuka kepada mereka, pelan-pelan kita akan mengetahui bagaimana untuk cara menghilang kebiasaan tersebut dengan pelan-pelan.

Tetapi kita bisa pelan-pelan untuk coba terbuka kepada salah satu orang yang kita percaya aja. Kita dapat coba untuk mencurahkan isi perasaan kita yang sesungguhnya. Namun, kali ini dapat dicoba dengan nggak tiba-tiba menghindar dari obrolan tersebut terutama jika ditanya lebih lanjut mengenai hal tersebut. Memang nggak mudah, cuma agar bisa pulih dapat diselesaikan dulu dengan masalah, trauma, dan hal lainnya yang membuat kita mengalami avoidant attachment ini.

Nantinya kita bisa lepas dari avoidant attachment ini. (Pict by Unsplash)

Avoidant attachment dapat terjadi, namun hal ini kembali ke diri sendiri. Mungkin dengan melindungi diri sendiri melalui menjauhi diri dari orang lain merupakan upaya terbaik agar lagi-lagi, kita merasa gak disakiti. Walaupun begitu, sangat wajar jika kita memutuskan untuk melakukan hal tersebut. Tetapi kita masih bisa mencoba juga untuk pelan-pelan terbuka dengan orang lain terkait apapun itu. Nggak perlu terburu-buru, mulai dari hal-hal terkecil dulu aja sampai kalian merasa mampu untuk menjalaninya.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1