Pernah tidak sedang menonton film atau serial, lalu tiba-tiba berhenti karena membaca subtitle yang terasa aneh, atau yang biasa disebut subtitle kocak?
Adegan yang seharusnya serius malah membuat kita tertawa karena terjemahannya terasa tidak sesuai. Dialog romantis terdengar canggung, kalimat lucu kehilangan humornya, atau sebuah ekspresi dari karakter terasa “beda” ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Hal seperti ini sebenarnya bukan sekadar kesalahan kecil. Di balik sebuah subtitle film, ada proses penerjemahan yang membutuhkan pemahaman bahasa, budaya, dan konteks cerita.
Menurut Gunawan Tambunaribu, dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia, subtitle merupakan salah satu bentuk penerjemahan yang memiliki tantangan tersendiri. Seorang penerjemah tidak hanya bertugas mengubah kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga memastikan pesan dalam film tetap dapat dipahami oleh penonton.
Lalu, kenapa subtitle bisa menghasilkan terjemahan yang terasa lucu atau bahkan membingungkan?

Ketika menonton film berbahasa asing, teks yang muncul di layar membantu kita memahami percakapan para karakter. Teks tersebut disebut subtitle atau sari makna.
Namun, membuat subtitle tidak semudah memasukkan dialog ke aplikasi penerjemah lalu menyalin hasilnya.
Seorang penerjemah harus mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya adalah panjang teks yang muncul di layar.
Bayangkan jika satu karakter berbicara dalam waktu beberapa detik dengan kalimat yang sangat panjang. Subtitle tentu tidak bisa menampilkan seluruh kalimat secara utuh karena penonton tidak akan punya cukup waktu untuk membaca sambil mengikuti adegan.
Karena itu, penerjemah harus mampu membuat kalimat yang lebih singkat, tetapi tetap mempertahankan inti pesan dari dialog tersebut.
Inilah mengapa penerjemahan subtitle membutuhkan kemampuan khusus. Penerjemah harus mencari keseimbangan antara akurasi makna dan kenyamanan penonton.

Salah satu alasan subtitle terasa aneh adalah penggunaan kata yang tidak sesuai dengan konteks.
Misalnya, dalam bahasa Inggris terdapat ungkapan romantis:
“Kiss me.”
Jika diterjemahkan secara tidak natural menjadi:
“Cium-cium aku dong.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar lucu bagi penonton karena terasa seperti bahasa percakapan yang kurang sesuai. Padahal, pilihan yang lebih alami dalam bahasa Indonesia adalah:
“Cium aku dong.”
Hal kecil seperti ini dapat memengaruhi pengalaman menonton. Sebuah dialog yang seharusnya terasa romantis bisa berubah menjadi sesuatu yang membuat penonton tersenyum karena pilihan katanya kurang tepat.
Begitu juga dengan istilah populer seperti I’m single. Jika diterjemahkan menjadi “aku jomblo”, mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang dewasa. Namun, seorang penerjemah harus mempertimbangkan siapa yang menjadi target penonton.
Tidak semua istilah populer cocok digunakan dalam semua situasi.
Penerjemah harus memikirkan apakah kata tersebut dapat dipahami oleh berbagai kelompok usia dan latar belakang.

Bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Setiap bahasa memiliki hubungan erat dengan budaya masyarakat yang menggunakannya.
Karena itu, menerjemahkan ekspresi tertentu membutuhkan pemahaman budaya.
Contohnya adalah ungkapan:
“Oh my God.”
Jika diterjemahkan secara langsung menggunakan istilah keagamaan tertentu, hasilnya bisa menjadi kurang sesuai bagi sebagian penonton karena tidak semua orang memiliki pemahaman atau kebiasaan menggunakan istilah tersebut.
Dalam konteks Indonesia, ungkapan seperti “ya ampun” atau “ya Tuhan” lebih sering digunakan secara umum dan dapat dipahami oleh lebih banyak orang.
Seorang penerjemah harus mampu memilih kata yang dapat menjangkau penonton secara luas tanpa memasukkan interpretasi budaya tertentu yang tidak sesuai dengan konteks asli.

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah dengan berbagai ekspresi unik. Kekayaan bahasa ini tentu menjadi sesuatu yang menarik, tetapi bisa menjadi masalah jika digunakan dalam subtitle secara tidak tepat.
Misalnya, memasukkan kata atau ungkapan khas daerah tertentu ke dalam subtitle nasional.
Bagi sebagian penonton yang berasal dari daerah tersebut, kata itu mungkin mudah dipahami. Namun, bagi penonton dari daerah lain, istilah tersebut bisa terasa asing.
Contohnya penggunaan kata seperti “kumaha ieu” atau “kepriben” yang hanya dipahami oleh kelompok masyarakat tertentu.
Dalam subtitle film yang ditonton oleh masyarakat Indonesia secara luas, penerjemah harus memilih bahasa yang lebih umum agar pesan dapat diterima oleh semua orang.
Seorang penerjemah perlu menempatkan dirinya sebagai bagian dari seluruh penonton Indonesia, bukan hanya berdasarkan latar belakang daerahnya sendiri.

Selain dialog, menerjemahkan judul film juga memiliki tantangan tersendiri.
Sering kali kita menemukan judul film Indonesia yang tidak diterjemahkan secara harfiah, tetapi justru dibuat lebih menarik dan sesuai dengan cerita.
Contohnya, judul film My Mr. Mermaid.
Jika diterjemahkan kata demi kata, hasilnya menjadi “Bapak Putri Duyungku”. Tentu terdengar kurang menarik.
Karena itu, penerjemah perlu memahami keseluruhan cerita agar dapat menemukan judul yang lebih sesuai dengan pesan film.
Begitu pula dengan judul Flower of Evil. Terjemahan langsungnya adalah “Bunga Kejahatan”, tetapi judul tersebut terdengar kurang memiliki daya tarik dalam bahasa Indonesia.
Dengan memahami cerita dan suasana film, penerjemah dapat menghasilkan judul yang lebih natural dan memiliki nilai estetika.
Hal ini menunjukkan bahwa penerjemahan bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi juga membutuhkan kreativitas.
Saat ini, teknologi penerjemahan semakin berkembang. Banyak aplikasi yang mampu menerjemahkan teks dengan cepat dan membantu memahami bahasa asing.
Namun, ketika berhadapan dengan film, sastra, atau karya yang penuh emosi, manusia masih memiliki peran penting.
Mesin dapat mengenali kata, tetapi belum tentu memahami humor, budaya, perasaan, atau maksud tersembunyi di balik sebuah dialog.
Seorang penerjemah harus mampu membaca konteks, memahami karakter dalam cerita, dan memilih kata yang paling tepat agar pesan tetap hidup dalam bahasa lain.
*****
Jadi, ketika menemukan subtitle yang terasa lucu atau aneh, mungkin masalahnya bukan karena ceritanya, melainkan karena tantangan besar dalam menerjemahkan bahasa.
Pada akhirnya, subtitle yang baik adalah subtitle yang membuat penonton lupa bahwa mereka sedang membaca terjemahan. Mereka hanya menikmati cerita, merasakan emosi karakter, dan memahami pesan film dengan alami.
Karena menerjemahkan bukan hanya tentang mengganti bahasa. Menerjemahkan adalah tentang membawa sebuah cerita dari satu dunia ke dunia lainnya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.