Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia
Memamerkan perlakuan royal atau kiriman hadiah mahal memang marak menghiasi jagat maya yang sering kali terlihat menggemaskan. Namun, situasi ini mengkhawatirkan ketika aksi memberi tidak lagi lahir dari rasa rela dan mulai didorong oleh tekanan yang mengarah pada financial abuse.
Financial abuse atau kekerasan finansial merupakan eksploitasi penggunaan uang, aset pribadi, hingga sumber daya ekonomi orang lain secara sepihak demi mendapatkan kontrol penuh.
Eksploitasi ekonomi dalam hubungan romantis sering kali terselubung di balik dalih kepedulian. Perbedaan antara rasa sayang yang tulus dan tindakan memanfaatkan finansial pasangan pun kerap menjadi samar, terutama bagi remaja yang masih awam mengelola batasan finansial.
Namun, bagaimana jika pemberian tersebut mulai terasa seperti tanggung jawabmu? Bagaimana jika tidak memberi justru membuatmu merasa bersalah?
Ketika perlakuan ini tidak lagi murni didasari ketulusan, pemberian finansial berisiko beralih fungsi menjadi instrumen kontrol dan perampasan kebebasan pribadi. Di sinilah perilaku financial abuse perlu kamu kenali!
Dalam keseharian, kekerasan finansial sering kali bermula dari hal-hal yang terkesan sepele. Kebiasaan terus-menerus menuntut ditraktir, membebankan biaya kebutuhan pribadi seperti pulsa, kuota internet, atau gaya hidup, menggunakan kendaraan pribadi tanpa izin, hingga merasa berhak atas uang saku pasangan kerap dianggap sebagai hal biasa.
Apabila dibiarkan, perilakunya dapat berkembang pada tahap yang lebih berbahaya. Aksinya bertransformasi menjadi kontrol yang amat ketat. Pelaku tak ragu membatasi alokasi pengeluaran pribadi korban, memantau riwayat transaksi, dan menguasai akses PIN, OTP, password rekening, maupun aplikasi dompet digital.
Pelaku bahkan tak segan mengatur anggaran belanja korban secara ketat dan paksaan menanggung utang atau pinjaman digital atas nama pribadi. Korban ditekan untuk menggunakan paylater, mengambil pinjaman, menjadi penjamin, atau membuat perjanjian keuangan atas nama pribadi untuk kepentingan pasangan. Jika dilakukan tanpa persetujuan yang bebas, konsekuensinya dapat tetap ditanggung oleh orang yang namanya digunakan.

Eksploitasi ekonomi dalam hubungan romantis tumbuh bertahap melalui pembiasaan. Semuanya kerap berawal dari tindakan yang terkesan wajar, misalnya meminjam ongkos, meminta dibelikan barang, atau meminta bantuan dana saat terdesak. Seiring waktu, frekuensi tersebut meningkat hingga diposisikan sebagai sebuah kewajiban.
Uang yang tadinya hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi mulai turut menanggung kebutuhan pasangan. Tabungan mulai terpakai. Pengeluaran untuk sekolah, kuliah, hobi, atau kebutuhan sehari-hari mulai dikurangi. Bahkan, sebagian korban merasa perlu berutang agar tetap mampu memenuhi permintaan pasangannya.
Jika ditolak, berbagai tekanan emosional mulai dilancarkan. Pelaku memanfaatkan guilt tripping dengan menuduh pasangannya pelit, memakai taktik gaslighting untuk meruntuhkan kepercayaan diri pasangan, mengancam akan memutuskan hubungan, atau melancarkan silent treatment hingga korban terdesak dan mengalah.
Dampak dari praktik manipulatif ini merusak aspek finansial secara langsung. Uang saku harian menyusut drastis, tabungan pribadi yang dihimpun terkuras habis, bahkan pemenuhan kebutuhan esensial untuk pendidikan sering kali terbengkalai demi menutupi tuntutan pasangan.
Pengikisan sumber daya pribadi ini pada akhirnya bermuara pada krisis keuangan diri sendiri. Ketika uang saku dan tabungan pribadi terkuras habis untuk memenuhi tuntutan pasangan, kemampuan untuk membiayai kebutuhan harian atau pendidikan pun lenyap.
Mengambil risiko finansial seperti memberikan akses keuangan, berutang, dan mengaktifkan fitur paylater untuk kepentingan pasangan adalah hal yang perlu kamu hindari. Menggunakan paylater, mengambil pinjaman, atau menanggung utang atas nama sendiri untuk memenuhi keinginan pasangan dapat membawa konsekuensi yang tetap melekat apabila hubungan berakhir.
Secara emosional, beban yang ditimbulkan merusak kesejahteraan mental secara perlahan. Korban akan terus diliputi rasa bersalah, rasa takut untuk menetapkan batas, stres keuangan, hingga hilangnya kepercayaan pada kemampuan diri sendiri. Rasa terisolasi dan ketiadaan tabungan pribadi pada akhirnya membuat seseorang merasa terjebak dan sulit melepaskan diri dari relasi toxic ini.

Selain melindungi kendali atas aset pribadi, menjalin hubungan romantis berarti memastikan seluruh akses finansial berada penuh di tangan pemiliknya. Privasi atas akun bank, nomor PIN, OTP, password, kartu pembayaran, hingga fasilitas dompet digital merupakan area personal yang tidak wajib dibagikan kepada pasangan di tahap berpacaran.
Langkah awal yang penting adalah menentukan batasan yang jelas terkait traktiran, pinjam-meminjam, pertukaran hadiah, dan pembagian pengeluaran bersama.
Menyimpan bukti transaksi atau percakapan mengenai persoalan finansial juga dapat membantu ketika terjadi penyalahgunaan uang atau akun. Jika intimidasi keuangan terasa mulai melampaui batas kemampuan, mengamankan tabungan pribadi dan berkonsultasi dengan orang-orang tepercaya, seperti orang tua, guru konseling, sahabat, atau orang dewasa yang dipercaya adalah langkah yang bijak.
Berbagi atau memberikan bantuan finansial kepada pasangan sejatinya adalah sebuah pilihan sukarela secara sadar dan bukan kewajiban yang dapat dipaksakan oleh pihak mana pun. Hubungan berpacaran yang sehat selalu berlandaskan rasa saling menghargai dan kesetaraan. Mengenali bentuk financial abuse adalah kunci utama untuk melindungi diri dan masa depanmu.
Jadi, Sunners, mulailah berani mengenali batas kemampuan diri dan jangan pernah ragu untuk bersikap tegas jika tuntutan pasangan sudah membuatmu merasa tidak nyaman atau berada di luar batas kemampuanmu!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.