Skip to main content

Majalah Sunday

Peran Figur Ayah bagi Remaja

Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto

Hi Sunner! Pernah nggak kamu merasa bahwa setelah anak mulai remaja, ayah jadi lebih sering berkata, “Kamu kan sudah besar, harusnya bisa sendiri.”?

Memang benar, remaja mulai belajar mandiri. Mereka mulai punya pendapat sendiri, lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, dan mulai menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Tapi, mandiri bukan berarti nggak lagi membutuhkan orang tua.

Justru di masa ini, hubungan dengan orang tua tetap punya peran penting. Hubungan orang tua–remaja yang suportif dapat membantu remaja dalam mengatur emosi dan beradaptasi dengan berbagai tantangan.

Lalu, bagaimana dengan peran ayah? Apakah ketika anak sudah remaja, ayah cukup memastikan anak sekolah dan pulang tepat waktu?

Ternyata, perannya masih jauh lebih besar dari itu.

Anak remaja memang butuh ruang, tapi bukan berarti ditinggalkan

Memasuki masa remaja, anak mulai ingin dipercaya dan memiliki kendali atas dirinya sendiri. Kalau setiap keputusan terus diatur, anak bisa merasa tidak dipercaya.

Di sinilah ayah perlu belajar membedakan antara mengawasi dan mendampingi.

Misalnya, daripada langsung berkata:

“Pokoknya kamu nggak boleh begitu.”

Ayah bisa mencoba bertanya:

“Menurut kamu, pilihan itu punya risiko apa?”

Dengan begitu, ayah tetap memberikan batasan sekaligus mengajak anak belajar mengambil keputusan.

Mau kuliah di jurusan unik? IKK IPB jawabannya! Kamu bakal belajar tentang keluarga, anak, dan konsumen dengan peluang kerja yang oke banget.
(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Peran ayah berubah: dari pemberi aturan menjadi tempat berdiskusi

Saat anak masih kecil, aturan mungkin lebih banyak diberikan secara langsung. Namun ketika anak mulai remaja, komunikasi menjadi semakin penting.

Ayah nggak harus selalu punya jawaban atas masalah anak. Kadang, anak hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan orang tua–remaja yang terbuka, menerima, dan responsif berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi serta penyesuaian perilaku remaja.

Jadi, ketika anak bercerita tentang masalah sekolah, pertemanan, hubungan, atau kegagalannya, respons seperti “Ayah dengerin dulu” bisa jauh lebih berarti daripada langsung memberikan ceramah.

Dukungan ayah bukan berarti selalu membenarkan anak

Mendukung bukan berarti membiarkan semua hal.

Ayah tetap bisa memberikan batasan dan mengatakan bahwa suatu tindakan kurang tepat. Bedanya, batasan diberikan dengan komunikasi yang membuat anak merasa dihargai, bukan dipermalukan.

Misalnya:

“Ayah nggak setuju sama keputusanmu, tapi Ayah mau dengar alasan kamu memilih itu.”

Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat tidak harus membuat hubungan menjadi jauh.

Kualitas pola asuh orang tua juga berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan mental anak dan remaja, meskipun hubungan tersebut tidak selalu sederhana dan dipengaruhi banyak faktor.

Kalau Peran Ayah Tidak Didapatkan dengan Tepat, Bagaimana?

Nggak semua remaja mendapatkan peran ayah seperti yang mereka butuhkan. Ada yang ayahnya jarang hadir, sulit diajak berkomunikasi, terlalu mengatur, atau justru tidak memberikan arahan sama sekali.

Padahal, remaja tetap membutuhkan sosok yang bisa membuat mereka merasa didengar dan didukung. Ketika hubungan dengan ayah kurang berjalan dengan baik, remaja mungkin jadi lebih memilih memendam masalah, merasa kurang dipahami, atau mencari tempat bercerita di luar rumah.

Tapi, bukan berarti remaja yang tidak mendapatkan peran ayah dengan baik pasti akan mengalami masalah. Setiap remaja punya pengalaman dan kondisi yang berbeda. Dukungan dari ibu, keluarga, guru, atau orang dewasa lain yang dipercaya juga bisa menjadi sumber rasa aman bagi mereka.

Karena itu, yang penting bukan hanya soal “Ayah ada atau tidak?”, tetapi juga “Seperti apa hubungan dan dukungan yang diberikan kepada anak?”

Maladaptive Daydreaming

Produk Rekomendasi Sunday

Menjadi ayah bagi anak remaja bukan berarti harus selalu tahu apa yang terbaik untuk mereka.

Kadang, menjadi ayah berarti hadir ketika anak ingin bercerita, memberikan arahan ketika mereka bingung, menetapkan batas ketika diperlukan, dan memberi ruang ketika mereka ingin belajar mandiri.

Anak memang semakin besar. Tapi kebutuhan mereka terhadap hubungan yang aman dan suportif tidak otomatis menghilang.

Jadi, Ayah…

Anakmu sudah remaja. Mungkin mereka nggak selalu menunjukkan bahwa mereka membutuhkanmu. Tapi bukan berarti kehadiranmu sudah nggak penting.

Mulai dari hal sederhana: tanya kabarnya, dengarkan ceritanya, dan jangan buru-buru menghakimi.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 9