Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda Mulia
Pernah nggak sih Sunners lagi asyik makan di restoran bareng teman-teman, terus ada yang nyeletuk, “Kalau belum makan nasi, rasanya belum kenyang deh.” Stereotip ini emang melekat banget di masyarakat kita. Tapi buat kamu para Sunners, tahu nggak kalau jutaan saudara kita di wilayah Indonesia Timur punya isi piring yang beda total, tapi energinya tetap juara? Yap, mereka punya sagu.
Menariknya, jika kita menelusuri asal usul sagu, tanaman ini sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih tua dari sejarah persawahan di Nusantara. Jauh sebelum beras mendominasi meja makan modern, untaian pohon sagu di Papua dan Maluku sudah menjadi saksi bisu bagaimana peradaban manusia bertahan hidup selaras dengan alam. Penasaran bagaimana pohon hutan bisa bertransformasi jadi kuliner hits yang kenyal dan mind-blowing?

Sebagai salah satu makanan pokok sagu dan olahan makanan dari sagu telah tercatat sejak zaman prasejarah di wilayah kepulauan Maluku dan Papua, menjadikannya salah satu komoditas pangan tertua di Nusantara. Sagu berhasil bertahan sebagai pilar pangan lokal karena pohonnya tumbuh subur secara alami di lahan basah Indonesia Timur, kaya akan karbohidrat murni, serta diolah melalui ritus tradisi gotong royong yang diwariskan turun-temurun.

Sagu itu sebenarnya diambil dari bagian inti atau daging dalam batang pohon palem tropis bernama latin Metroxylon sagu, kulit luar pohon sagu dikupas, di bagian dalamnya ada jaringan lunak penuh serat. Nah, bagian inti itulah yang diperas untuk diambil sarinya. Indonesia boleh berbangga, karena sekitar 85% dari total populasi pohon sagu di seluruh dunia berada di dalam negeri, dengan konsentrasi terbesar membentang luas di daratan Papua dan kepulauan Maluku.
Bagi masyarakat lokal, tanaman ini sering dijuluki sebagai “pohon kehidupan”, dan juga mengapa sering disebut pangan tertua? Ketika nenek moyang kita di bagian barat Indonesia masih berada dalam fase berburu dan belum mengenal sistem budidaya padi, masyarakat di Indonesia Timur sudah berhasil memetakan bahwa pohon yang tumbuh liar di rawa-rawa ini menyimpan cadangan energi yang luar biasa besar. Mereka tidak perlu merusak hutan untuk menanamnya alam sudah menyediakannya dalam jumlah yang melimpah ruah sejak ribuan tahun lalu.
Menariknya, hampir seluruh bagian pohon sagu memiliki manfaat. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan atap rumah tradisional, pelepahnya digunakan sebagai dinding atau pagar, sementara batangnya menjadi sumber pati yang kemudian diolah menjadi tepung sagu. Tak heran jika masyarakat setempat menyebut sagu sebagai “pohon kehidupan”, karena hampir tidak ada bagian yang terbuang sia-sia.
Dalam sebatang sagu terkandung karbohidrat kompleks yang cukup untuk memberi energi seharian penuh. Satu porsi papeda olahan sagu paling klasik bisa bikin perut kenyang berjam-jam meskipun tampilannya sederhana. Belum lagi, sagu juga rendah gula dan bebas gluten, membuatnya cocok untuk berbagai kebutuhan diet modern.
Jadi, pilihan untuk menjadikan sagu sebagai makanan pokok bukanlah keterpaksaan, melainkan kearifan membaca alam. Nenek moyang kita di timur paham betul alam sudah menyediakan yang terbaik sesuai kondisi setempat.

Di tengah berkembangnya teknologi pengolahan pangan, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia Timur masih mempertahankan cara tradisional dalam mengolah sagu. Bukan karena mereka tidak mengenal mesin modern, tetapi karena setiap tahap pengolahan menyimpan pengetahuan lokal dan nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat adat, mengolah sagu bukanlah pekerjaan yang dilakukan sendirian. Proses ini biasanya melibatkan keluarga atau bahkan seluruh warga kampung. Mulai dari memilih pohon yang siap dipanen hingga menghasilkan tepung sagu, semuanya dilakukan dengan semangat gotong royong. Kebersamaan inilah yang membuat tradisi mengolah sagu tetap hidup hingga sekarang.
Perjalanan mengolah sagu dimulai dari memilih pohon yang sudah cukup umur. Tidak semua pohon bisa ditebang begitu saja. Masyarakat biasanya mengenali pohon yang siap dipanen dari usia, ukuran batang, hingga tanda-tanda alami yang menunjukkan bahwa kandungan patinya telah mencapai jumlah maksimal.
Pemilihan ini dilakukan dengan penuh pertimbangan agar pati yang dihasilkan melimpah sekaligus menjaga keberlangsungan hutan sagu. Pohon yang masih muda akan dibiarkan tumbuh, sementara pohon yang sudah dipanen akan digantikan oleh anakan sagu yang tumbuh di sekitarnya. Cara ini menjadi salah satu bentuk kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
Setelah pohon ditebang dan batangnya dibelah, masyarakat mulai mengambil bagian empulur, yaitu jaringan lunak berwarna putih yang berada di dalam batang. Bagian inilah yang menjadi sumber pati atau tepung sagu.
Empulur kemudian diparut menggunakan alat tradisional yang biasanya terbuat dari kayu dan diberi permukaan bergerigi. Dahulu proses ini sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia, sehingga membutuhkan kesabaran dan kerja sama. Kini di beberapa daerah memang sudah mulai menggunakan mesin sederhana, tetapi banyak masyarakat adat yang tetap mempertahankan cara tradisional sebagai bagian dari warisan budaya.

Hasil parutan empulur kemudian dicampur dengan air bersih sambil diremas dan diperas. Proses ini bertujuan memisahkan pati dari serat-serat kasar yang terdapat di dalam batang sagu.
Air yang membawa pati kemudian dialirkan ke wadah penampungan dan didiamkan selama beberapa waktu. Perlahan-lahan, pati akan mengendap di dasar wadah hingga membentuk endapan berwarna putih. Endapan inilah yang kemudian dikeringkan atau langsung diolah menjadi berbagai makanan khas seperti papeda, sagu lempeng, hingga bagea.
Meski terlihat sederhana, setiap tahapan tersebut membutuhkan ketelitian dan pengalaman. Pengetahuan mengenai waktu panen, teknik memeras, hingga cara mendapatkan pati berkualitas baik biasanya dipelajari secara langsung dari orang tua atau tetua adat. Karena itulah, tradisi mengolah sagu bukan hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi cara masyarakat mewariskan ilmu dan identitas budaya kepada generasi berikutnya.

Setelah melalui proses pengolahan yang cukup panjang, pati sagu kemudian diolah menjadi berbagai makanan khas yang masih dinikmati masyarakat Indonesia hingga sekarang. Papeda menjadi salah satu hidangan paling terkenal dari Papua dan Maluku dengan teksturnya yang kenyal dan biasanya disajikan bersama ikan kuah kuning. Selain itu, ada pula bagea, sagu lempeng, sinoli, hingga kapurung yang memiliki cita rasa dan cara penyajian berbeda di setiap daerah.
Beragamnya olahan tersebut menunjukkan bahwa sagu bukan sekadar sumber karbohidrat, tetapi juga bagian dari identitas kuliner masyarakat Indonesia Timur. Meski berasal dari bahan yang sama, setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah sagu sesuai tradisi, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat setempat. Inilah yang membuat sagu menjadi salah satu contoh nyata kekayaan budaya kuliner Indonesia.
Di tengah berkembangnya berbagai pilihan makanan modern, masyarakat di Papua, Maluku, hingga Sulawesi masih mempertahankan tradisi mengolah dan mengonsumsi sagu. Selain karena sudah menjadi bagian dari budaya, sagu juga dinilai mampu mendukung ketahanan pangan karena tumbuh alami, tidak membutuhkan banyak perawatan, dan menghasilkan sumber karbohidrat yang melimpah.
Sebagai Sunners, mengenal asal usul sagu mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki warisan pangan yang sangat beragam. Di balik setiap semangkuk papeda atau sepotong sagu lempeng, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan alam, menjaga tradisi, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Yuk, terus kenali dan banggakan pangan lokal Indonesia agar kekayaan budaya seperti sagu tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.