Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, kalau kamu pernah makan di warung mie Aceh atau warung kopi khas Aceh, kemungkinan besar kamu pernah melihat atau bahkan mencicipi timphan. Kue berbentuk memanjang yang dibungkus daun pisang ini memang mudah ditemukan sebagai camilan sehari-hari, sekaligus jadi hidangan yang sering disajikan saat Hari Raya dan acara adat. Timphan juga merupakan simbol kehangatan, penghormatan, dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Yuk, kita kenali lebih lanjut!

Timphan adalah kue tradisional sejenis lepat yang berasal dari Aceh. Bahan utamanya sederhana, yaitu tepung beras atau tepung ketan, pisang, dan santan, yang diaduk hingga menghasilkan tekstur kenyal. Adonan ini kemudian dibentuk memanjang dan diisi dengan srikaya, campuran santan, telur, dan gula yang dimasak hingga menjadi pasta halus. Beberapa timphan juga ada yang menggunakan isian kelapa parut manis.
Setelah diisi, adonan dibungkus dengan daun pisang muda dan dikukus selama kurang lebih satu jam hingga matang. Aroma khas daun pisang yang menguap begitu kue ini dibuka menjadi salah satu ciri yang paling dikenali dari timphan.
Nama timphan diyakini berasal dari bahasa Aceh yang berarti ditimpa. Istilah ini menggambarkan proses pembuatannya secara harfiah, yairu adonan ketan yang telah dihaluskan dipipihkan, diberi isian, lalu ditimpa kembali sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang.
Hal yang menarik, proses pembuatan timphan bukan sekadar kegiatan memasak. Bagi beberapa masyarakat di Aceh, momen mengolah timphan menjadi ruang untuk berkumpul, bercakap, dan saling berbagi cerita. Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih dijaga hingga sekarang.
Bahan utama timphan terdiri dari tepung ketan atau tepung beras, pisang, dan santan yang diaduk hingga menyatu sempurna membentuk adonan yang kenyal. Adonan ini lalu dibentuk memanjang dan diisi dengan srikaya atau kelapa parut manis. Beberapa masyarakat di Aceh bahkan menambahkan potongan nangka ke dalam isian untuk memberikan aroma dan cita rasa yang berbeda.
Salah satu langkah yang tidak boleh dilewatkan adalah pengolahan daun pisang. Daun pisang harus dipanaskan terlebih dahulu agar lentur, mudah dibentuk, dan tidak mudah robek saat digunakan untuk membungkus adonan. Penggunaan daun pisang ini memberikan aroma khas yang menjadi bagian penting dari cita rasa timphan.
Setelah dibungkus, timphan dikukus selama kurang lebih satu jam. Secara tradisional, masyarakat Aceh menggunakan periuk tanah liat yang memiliki sekat seperti saringan, karena dipercaya menghasilkan kukusan yang lebih harum dan lezat dibandingkan menggunakan panci aluminium atau stainless steel modern.
Timphan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari masyarakat Aceh. Kue ini mudah ditemukan di warung kopi dan kedai mie Aceh sebagai camilan pendamping kopi atau teh hangat. Bahkan, tidak jarang penjual timphan kehabisan stok karena tingginya permintaan pembeli yang ingin menikmatinya sebagai teman ngopi.
Meski akrab ditemukan sehari-hari, timphan tetap memegang peran istimewa dalam momen-momen besar masyarakat Aceh. Kue ini tak pernah absen dalam perayaan Idulfitri, Iduladha, dan hari besar lainnya.
Di Aceh, ada tradisi unik di mana timphan khusus dibuat menjelang Ramadan. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap meja makan, melainkan pengingat filosofis bagi masyarakat untuk menjaga hati dan menahan diri selama menjalani ibadah puasa.

Timphan mudah ditemukan di warung kopi, kedai mie Aceh, hingga di perayaan hari besar. Di balik kesederhanaannya, timphan menyimpan nilai kebersamaan yang besar. Kalau kamu sedang berada di Aceh atau menemukan warung Aceh di kotamu, jangan lewatkan untuk mencicipinya langsung!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.