Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga

Hi, Sunners! Kalau kamu mendengar istilah “kain tradisional”, kira-kira apa yang akan muncul di benakmu? Pakaian yang wajib dikenakan saat perayaan Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober? Atau mungkin, pakaian yang paling cocok untuk menghadiri kondangan?
Namun, kain tradisional tidak hanya bisa dipakai untuk acara formal, lho! Belakangan ini, ada sebuah fenomena menarik yang sedang trending di kalangan Generasi Z, yaitu fenomena “Berkain”. Banyak tokoh publik telah mempromosikan gerakan ini, mulai dari penyanyi Yura Yunita hingga aktris Dian Sastrowardoyo. Bahkan, beberapa promotor konser dan fanbase idola K-Pop juga pernah menghimbau para penontonnya untuk memakai kain tradisional selama menikmati konser.
Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita gali fenomena “Berkain” lebih dalam!
Berkain adalah sebuah fenomena dalam dunia fashion yang memadukan kain tradisional (disebut juga sebagai wastra) seperti batik dan tenun dengan pakaian kasual modern.
Salah satu teknik berkain yang paling populer adalah melilitkan kain batik menjadi rok atau celana kulot, lalu dipadukan dengan atasan kaus polos, kemeja oversized, atau outer modern. Biasanya, kain batik yang dililit dibentuk secara tidak simetris sehingga menimbulkan kesan artsy dan tidak kaku.

Fenomena Berkain pertama kali diinisiasikan pada tahun 2018 oleh sebuah komunitas bernama Swara Gembira yang menyadari adanya jarak antara pemuda Indonesia dengan kain tradisional. Sebagian besar pemuda Indonesia menganggap kain tradisional terkesan kuno, kaku, dan tidak bisa dipakai untuk fashion sehari-hari sehingga minat mereka terhadap wastra perlahan menurun. Bahkan, penggunaan kain tradisional seringkali dihubungkan dengan hal-hal mistis. Karena hal tersebut, Swara Gembira membuat kampanye #BerkainGembira dimana mereka mengunggah video mix and match dan eksperimen makeover penampilan tokoh-tokoh publik menggunakan kain tradisional.
Pada awalnya, kampanye ini belum begitu di-notice masyarakat Indonesia. Namun, pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 melanda dunia dan perhatian semua orang tertuju pada media sosial, kampanye #BerkainGembira mulai dilirik masyarakat terutama kalangan Gen Z dan mendapat respons positif. Banyak kreator konten dan influencer mengunggah video OOTD (Outfit of The Day) yang memadukan wastra dengan pakaian sehari-hari sehingga fenomena Berkain berkembang pesat menjadi suatu tren.
Tentunya Sunners mengenal aktris Dian Sastrowardoyo. Rasa cintanya terhadap wastra Nusantara seringkali ia ekspresikan melalui pakaiannya sehari-hari yang memadukan kain batik atau songket dengan kaos oblong bahkan jaket kulit, dilengkapi juga dengan alas kaki modern seperti sneakers dan ankle boots. Pemeran serial ‘Gadis Kretek’ ini juga mempopulerkan Kebaya Janggan yang berasal dari Yogyakarta sehingga menjadi buronan masyarakat akibat viralnya serial tersebut. Kebaya Janggan sangat khas dengan tutup kancing di sebelah kiri, berkerah tinggi menutupi leher, dan berwarna hitam. Kebaya ini tidak hanya cocok untuk acara adat, tetapi juga cocok dipakai dalam acara semi-kasual atau sebagai seragam kerja.
Selain Dian Sastrowardoyo, tokoh publik yang selalu bangga menampilkan OOTD berkainnya adalah penyanyi Tanah Air Yura Yunita yang terkenal dengan lagu-lagunya yang berjudul “Tutur Batin”, “Dunia Tipu-tipu”, dan masih banyak lagi. Dalam berbagai penampilannya di atas panggung, Yura Yunita kerap memakai wastra Nusantara yang sangat memukau. Tak hanya saat manggung, Yura Yunita juga sering mengintegrasikan kain tradisional dengan outfit kasual dalam kesehariannya.

IFenomena Berkain tidak hanya dilakukan oleh tokoh publik Indonesia, tetapi juga promotor konser yang menghadirkan artis-artis K-POP. Pada tahun 2023, promotor konser SMTOWN Live in Jakarta, Dyandra Global, menginisiasikan dress code batik sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal Indonesia di tengah konser musik global. Sejak saat itu, fanbase atau kelompok penggemar dari berbagai artis K-POP ikut menghimbau para penonton untuk mengenakan batik atau kain tradisional lainnya ketika idola mereka mengadakan konser di Indonesia.

Sebelum munculnya tren Berkain, terdapat stigma yang dimiliki remaja Indonesia bahwa kain tradisional terkesan kuno dan ketinggalan zaman sehingga hanya bisa dipakai di acara-acara tertentu seperti saat perayaan Hari Batik Nasional, upacara kelulusan, atau acara kondangan. Maka dari itu, wastra menjadi jarang dipakai dan hanya mengendap di lemari.
Namun, berkat adanya tren Berkain, remaja Indonesia dapat menghapus stigma tersebut termotivasi untuk memakai wastra menjadi outfit sehari-hari tanpa adanya rasa malu dan khawatir. Outfit yang menggabungkan wastra dengan pakaian kasual pun membuat penampilan menjadi lebih unik dan fresh.
Tak dapat dipungkiri, globalisasi telah menyebarkan budaya dari negara lain dengan sangat cepat tanpa batasan geografis. Budaya seperti Hollywood dari Amerika Serikat, Hallyu Wave dari Korea Selatan, Bollywood dari India, dan lain-lainnya, turut memengaruhi cara berpakaian anak-anak muda Indonesia. Akibatnya, perlahan-lahan budaya Indonesia, termasuk pakaian tradisional, semakin luntur dan dilupakan oleh para remaja, bahkan dianggap kurang “keren” atau “trendy”.
Tren Berkain pun hadir sebagai pengingat bagi para remaja untuk terus melestarikan budaya Indonesia, bahkan dengan cara sederhana seperti mengenakan wastra. Dengan demikian, jati diri remaja Indonesia dapat terus berdiri kokoh dan warisan leluhur kita dapat relevan dengan perkembangan zaman.
Sunners, apakah kamu tahu apa itu sustainable fashion?
Sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan adalah praktik mengedepankan nilai-nilai dari berbagai pihak yang terlibat dalam pembuatan fesyen seperti lingkungan dan para pekerja. Fesyen yang dibuat, baik itu untuk gaya hidup pribadi maupun bisnis, harus memakmurkan segala pihak dan minim menimbulkan kerugian secara kelingkungan dan kemanusiaan.
Berbanding terbalik dengan sustainable fashion, faktanya, saat ini fast fashion sedang merajalela di Indonesia dan seluruh dunia. Fast fashion merupakan praktik memproduksi pakaian secara massal, cepat, dan meniru tren terkini. Praktik fast fashion tentunya menimbulkan berbagai dampak negatif seperti konsumerisme, kerusakan lingkungan akibat banyaknya limbah tekstil, dan eksploitasi para pekerja.
Sementara itu, wastra atau kain tradisional sangat berkaitan erat dengan sustainable fashion. Alasannya karena wastra diproduksi menggunakan serat alami (sutra, kapas, rami), perwarna alami dari tumbuhan (kayu secang, kulit buah, daun indigo), dan menerapkan proses manual atau handcraft yang memberdayakan para perajin lokal dan mendukung perekonomian Indonesia.
Maka dari itu, munculnya tren Berkain tentu dapat menghidupkan kembali sustainable fashion di tengah maraknya fast fashion.
Nah, setelah mengenal tren Berkain lebih dalam, Sunners semakin tertarik untuk berkain juga, kan? Melalui tren ini, melestarikan budaya tidak lagi membosankan. Kita bebas mengekspresikan diri dan berkreasi lewat selembar kain tradisional, sekaligus menunjukkan kebanggaan kita terhadap budaya Nusantara. Jadi, ayo cari kembali kain tradisional yang mengendap di lemarimu dan mulai temukanlah gaya berkain yang cocok untukmu, karena stylish dan cinta budaya bisa jalan berbarengan!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.