Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, siapa yang disini tahu tentang mumi, jasad yang diawetkan? Nah, pada kali ini, kita akan coba membahas mengenai proses pengawetan jasad juga nih. Berbeda dengan mumi yang diawetkan dengan bahan kimia ataupun menaruh di tempat yang kering maupun dingin, pengawetan ini dapat dilakukan dengan pengasapan. Teknik tersebut berasal tradisi Akonipuk dari Papua, ada yang tahu? Kalau belum, yuk kita simak baik-baik penjelasan di bawah ini!

Dalam bahasa Hubula, akonipuk adalah proses mengeringkan jasad pada saat udah meninggal atau mumifikasi. Di Papua, proses pengeringan jasad ini melalui teknik pengasapan, berbeda dengan proses mumifikasi yang ada di Mesir. Untuk tradisi ini berasal dari suku Dani, bahkan di suku tersebut menerapkan dua tradisi pada kematian; akonipuk dan kremasi. Untuk tradisi ini sebenarnya udah diketahui sejak akhir 1980-an sampai awal 1990-an.
Diketahui juga pada proses akonipuk ini hanya untuk orang-orang tertentu aja yang dapat melengkapi syarat dalam tradisi ini. Contohnya seperti orang-orang penting bagi masyarakat mereka; kepala suku, panglima perang, dan lain-lain yang dianggap layak. Kebanyakan dari hasil akonipuk ini akan dipajang serta dikenang oleh masyarakat disana.

Berdasarkan KPU Provinsi Papua Pegunungan dan Wikipedia, terdapat beberapa langkah dalam proses akonipuk. Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut:
Dari setiap suku sendirilah yang akan memilih beberapa anggota untuk mempersiapkan proses akonipuk ini. Yang harus dipersiapkan yaitu kayu bakar, rumah honai yang khusus untuk mumi, perlengkapan adat seperti senjata sage, pisau tulang, dan lainnya, serta seekor babi yang baru lahir sebagai penanda waktu.
Syarat dipilihnya anggota untuk melaksanakan proses akonipuk itu hanya laki-laki aja sesuai dengan tempat yang dilakukannya juga di rumah honai sehingga nggak memperbolehkan perempuan dan anak-anak masuk ke rumah tersebut.
Jasad dimasukkan khusus ke rumah honai yang hanya berisi mumi aja dan dapat diposisikan dalam keadaan duduk serta menyandarkan punggung ke kayu. Menggunakan posisi tersebut karena dapat dianggap ‘kembali ke rahim.’ Lalu, hal ini juga dilakukan untuk memudahkan proses keluarnya cairan dalam tubuh jasad tersebut. Untuk mengeluarkan darah bisa dengan mengiris siku, paha, dan bagian ketiak. Sedangkan pada bagian isi perut, dapat dikeluarkan melalui dubur.
Setelah proses mengeluarkan cairan dalam tubuh jasad udah selesai, jasad akan diletakkan di atas bara api dan memasuki proses pengasapan. Untuk menunggu proses akonipuk ini dibutuhkan berbulan-bulan sampai jasad mengering dan berwarna hitam.
Selama proses akonipuk berlangsung, bagi para laki-laki yang membantu atau dipilih untuk proses tersebut nggak diperbolehkan untuk mandi hingga tradisi selesai. Setelah tradisi selesai, diadakannya upacara pelepasan dan penghormatan dengan mengadakan ritual khusus untuk memandikan petugas, potong babi yang menjadi penanda waktu selama proses akonipuk dan ekornya dikalungkan ke jasadnya. Kemudian, dilanjutkan dengan merayakan pesta bakar batu.
Jasad yang udah di akonipuk biasanya ditaruh kembali di rumah honai, gua khusus, atau ruang leluhur keluarga. Biasanya kalau di rumah honai itu karena masih butuh proses untuk mengoleskan minyak babi setiap dua atau tiga hari sekali agar awet.

Terdapat berbagai macam nilai-nilai yang dapat diambil melalui akonipuk, berikut penjelasannya:
Nilai Religius — Nilai ini berhubungan dengan kepercayaan setempat, dengan melaksanakan proses ini hingga upacara, hal itu dapat dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengingat setelah meninggalkan banyak ilmu.
Nilai Sejarah — Nilai ini berkaitan jasad yang dijadikan sebagai mumi. Jasad tersebut biasanya merupakan tokoh penting sehingga nilai ini dapat dijadikan sebagai wawasan sejarah untuk masyarakat setempat. Kemudian, ini juga ada hubungannya dengan Lembah Baliem sehingga sampai saat ini pun sejarahnya akan berlanjut.
Nilai Kebersamaan — Nilai ini dapat menggabungkan beberapa suku dalam proses akonipuk, oleh karena itu terjadinya gotong royong dan membantu sama lain sehingga proses ini berjalan dengan lancar.

Tradisi Akonipuk memang biasanya dilakukan oleh orang-orang penting aja seperti kepala suku dan panglima perang terutama yang berkelamin laki-laki. Adanya tradisi tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk penghormatan karena telah mengabdi kepada daerahnya sehingga perlu diabadikan. Meskipun tradisi ini hanya ada di Papua saja, tapi setidaknya kita dapat mengetahui budayanya dan nilai apa aja yang dapat kita tanamkan dalam diri kita. Oleh karena itu, kita bisa menjaga serta melestarikan warisan tersebut agar tradisi tersebut nggak dilupakan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.