Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia
Awalnya aku tidak percaya dengan hal-hal mistis. Nama ku Faiz, dan aku menjalani kehidupan biasa sampai rasa frustasi karena berjuang untuk maju membuat terhenti. Rasanya begitu berat dan aku putus asa, aku pun mengambil jalan pintas. Suatu malam di pantai selatan, yang anginnya menyesakkan, ku putuskan untuk “menjual”. Aku pun menjadi pecinta makhluk gaib. Pada awalnya, rasanya seperti mimpi indah dimana semua keinginan duniawi terpenuhi.
Hidupku dulunya biasa-biasa saja, aku adalah seorang siswa kelas 12 SMA dengan nilai rata-rata dan tidak memiliki status khusus. Pacarku, Abel, putus denganku karena aku dianggap tidak mampu memberikan masa depan. Ayah ku kehilangan pekerjaan, dan ibu ku bekerja sebagai pedagang kecil. Setiap malam aku mendengar mereka bertengkar tentang iuran sekolahku.
Aku frustrasi.
Suatu sore, sepupu ku Fajar tiba. Dia membawa mobil baru dan ponsel mahal. Aku terkejut karena Fajar pernah menghadapi tantangan yang sama dengan ku.
“Wailah cakep nih mobil Jar, kok lu bisa dapet mobil begini?” Aku bertanya dengan sedikit cemburu.
Dia tersenyum penuh teka-teki. “Adalah Iz, ya gitu deh. Jadi gw menjalin hubungan gitu dah sama penguasa selatan. Namanya Nyi Mas Gombang.”
Mendengar kata “nyi” membuatku merinding. Namun Fajar menjelaskan secara detail. Dalam kepercayaan mistik Jawa, selir bukan sekedar pasangan manusia melainkan seseorang yang menjalin ikatan perkawinan dengan makhluk halus, seperti jin, setan, atau roh penguasa gaib. Sebagai imbalan nya, manusia akan menerima kekayaan, status, dan bahkan perlindungan dari bahaya. Namun, ada aturan ketat yang harus dipatuhi.
“Lah seriusan lu ada aturannya segala?”
“Ya adalah bre, pokoknya lu gak boleh berkencan dengan manusia, tidak diperbolehkan tidur sebelum tengah malam. Dan setiap Jumat Legi, lu harus datang ke pantai untuk melakukan pelayanan.”
aku bergidik. Namun saat Fajar membeberkan rekening banknya yang berisi miliaran rupiah, ekspresi ku berubah. Logikaku memudar satu demi satu. “Aku ingin,” kataku tanpa berpikir.
Tiga malam kemudian, Fajar membawaku ke pantai selatan. Lokasinya sepi dan tidak ada lampu. Pasirnya berwarna hitam, dan deburan ombak menimbulkan suara seperti tangisan. Bau busuk makanan busuk bercampur dupa menyengat hidung.
Fajar membisikkan mantra yang aku tidak mengerti. Dia memintaku duduk di tengah lingkaran batu dengan mata tertutup.
Bicaralah dengan Ratu Pantai Selatan. Bersumpah setia, Iz. Jangan setengah hati.
Jujur aku gemetar, namun keputusasaan ku sudah bulat. Aku berbisik dengan penuh harapan, “Aku Faiz.” Aku tidak datang ke sini untuk mencari hiburan. Aku menginginkan kekayaan, kesuksesan, dan rasa hormat. Aku rela menyerahkan semua jiwa dan ragaku untuk mu, biarlah rembulan dan sunyinya laut menjadi saksi antara kita berdua. Aku sungguh akan menjadi satu untuk mu, biarlah deraian ombak manis menjadi pengikat kita yang harmonis.
Tipis-tipis terdengar bisikan seorang wanita, dan tanpa ku sadari aku pingsan.
Aku terbangun di tempat tidur mewah di sebuah ruangan yang dihiasi dengan emas dan sutra. Di sampingku berdiri seorang wanita cantik dengan kulit yang agak pucat, mata tajam seperti elang, dan riasan tebal khas putri istana. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi tajam.
“Faiz,” bisiknya, “suami baruku.” Ingatlah kata-kataku sayang, mulai sekarang kamu milikku. Jangan pernah mendekati wanita manusia manapun. Dan jangan pernah mencoba melarikan diri. Atau.”.
Dia berhenti. Tapi aku melihat sekilas warna merah di matanya. Aku merasakan hawa dingin merambat di punggungku.
Keajaiban segera tiba. Keesokan harinya, aku menemukan dompet tebal berisi uang tunai di laci sekolah. Itu bukan sembarang uang, tapi total lima puluh juta. Aku percaya ini adalah mimpi. Namun, mencubit pipiku menyebabkan rasa sakit yang nyata.
Seminggu berikutnya, bisnis penjualan pulsa online yang tadinya sepi, tiba-tiba menjadi ramai. Tanpa alasan yang jelas, banyak orang yang salah mengirimkan uang ke rekening ku dan tidak pernah memintanya kembali. Ujian nasional yang ku takuti akhirnya membuahkan hasil, dan aku mendapat nilai sempurna. Semua karena “pertolongan” yang datang dari dunia ghaib.
Namun peraturan mulai berlaku.
Seminggu setelah ritual, pacar baru ku Anisa memberitahuku bahwa dia mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, seorang wanita bertopeng emas berdiri di samping tempat tidurnya dan berkata, “Jauhi Faiz.” “Dia milikku.”
Aku yakin ini adalah perbuatan Nyi Mas Gombang yang mulai cemburu. Namun, keesokan harinya, ibu ku tiba-tiba merasakan sakit kepala yang parah setiap kali aku kembali ke rumah.
“Kau membawa sesuatu, Iz,” kata ibuku sambil mengerutkan kening. “Rumah ini semakin dingin.” Seseorang memperhatikanmu dari sudut kamarmu.
Aku terlalu takut untuk membahas ritual pantai.
Aturan pertama, jangan tidur sebelum tengah malam. Jika aku tidur jam 10 malam, aku akan terbangun dengan tubuh memar. Rasanya seperti ada seseorang yang menggaruk kulitku secara perlahan.
Aturan kedua, jangan menolak panggilan. Setiap Jumat Legi, badan ku terasa panas dan dingin, aku harus berjalan menuju pantai dalam keadaan kesurupan. Di sana, makhluk itu “melayani” ku. Setiap kali aku bangun, rasanya lemas dan berbau tidak sedap. Dan ada darah. Darah selalu ada. Aku tidak tahu milik siapa.
Setelah enam bulan, aku merasa muak. Tubuhku langsing, dan mataku cekung. Aku tidak bisa tidur tanpa bermimpi bahwa seorang wanita tak berwajah mengejar ku. Teman-teman menjaga jarak karena mengaku auraku gelap, bahkan kakek-kakek di pos ronda seakan tau apa yang ku lakukan. Siap pulang sekolah mereka selalu menatapku, bahkan ada yang menganggap kalau aku memiliki burong tujuh. Para guru curiga karena kinerja ku meningkat terlalu tiba-tiba.
Kemudian aku bertemu Vani, murid pindahan baru. Dia manis dan baik hati, tapi tidak menyadari masa laluku. Untuk pertama kalinya, aku merasa dicintai apa adanya, bukan sebagai “mainan”.
Kami berkencan secara diam-diam. Namun bencana segera tiba.
Suatu malam, saat aku sedang bergandengan tangan dengan Vani di taman, layar ponselku tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Ada pesan teks yang tidak memiliki nomor pengirim.
“Sudah ku berikan peringatan di awal, tapi kamu tetap lancang Faiz”. Sekarang pertimbangkan konsekuensinya.
Aku panik. Sepuluh menit kemudian, Vani pingsan. Busa hijau keluar dari mulutnya. Matanya melotot, hingga seluruhnya hitam, dan tidak ada bagian putihnya. Saat itu aku juga pingsan, dan ketika terbangun. Terdengar suara, ini bukan suara Vani. Suaranya dalam, dengan logat yang terasa sangat asing seperti bahasa daerah, dan penuh amarah.
Tak lama suara itu menjadi jelas. “Faiz, kamu anak kurang ajar. Kamu menukar hidupmu dengan kekayaan, dan sekarang kamu menyangkalnya? Bahkan berani melanggar aturan ku”.
Itu adalah suara Nyi Mas Gombang dari pantai selatan.
Tak lama Vani terangkat seperti melayang, lalu kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa. Ada yang aneh disini, karena Vani tidak seperti dirinya. Dia menggaruk lengan ku dengan kuku panjang yang tidak bisa dimiliki manusia normal. Darah muncrat. Aku menjerit, tapi tidak ada yang mendengarnya.
“Hari ini,” kata suara itu, “kamu telah kehilangan segalanya.” Kekayaan, reputasi baik, dan orang-orang yang kamu cintai”.
Dan itu benar. Keesokan harinya, dana di rekening ku hilang. Usaha pulsa ku gulung tikar. Rumah ku dirampok. Bahkan nilai ujianku tiba-tiba disebut tidak valid. Semua “berkah” itu lenyap dalam semalam.
Yang paling menyakitkan adalah Vani dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dokter menyatakan dia mengalami “trauma parah, dan mengidap skizofrenia”, padahal aku tahu kebenarannya. Dia dihantui oleh Nyi Mas Gombang.
Bahkan sekarang, aku masih hidup dalam ketakutan. Setiap malam, aku dicekik saat tidur. Setiap kali aku melirik ke cermin, aku melihat sosok seorang wanita berdiri di belakangku. Dia tertawa sesekali. Dia sesekali menangis. Namun seringkali, dia hanya membisikkan satu kalimat saja.
“Kamu milikku selamanya. Bahkan kematianmu tidak akan membebaskanmu”.
Aku sudah mencoba mengunjungi dukun, kyai, bahkan pengusir setan. Semua orang mengatakan bahwa ikatan pergundikan tidak mudah diputuskan. Sejak aku memulainya, mengambil sumpah sendiri, dan menuai hasilnya, hutang ku kepada dunia gaib masih belum terbayar.
Saat ini aku tinggal sendiri. Keluargaku mengusirku karena mereka takut aku akan mendatangkan kutukan atas mereka. Fajar, sepupuku yang mengajariku ritual itu, ditemukan tewas di kamarnya dengan ekspresi ketakutan di wajahnya. Dia mendapat luka tusukan di dadanya, namun tidak ada senjata di dekatnya. Polisi menutup kasus tersebut, memutuskannya sebagai serangan jantung.
Tapi, aku tahu yang sebenarnya. Aku sadar disini, bahwa sesuatu yang instan bisa mendatangkan hal buruk. Nikmatnya sesaat, penderitaan nya bisa sampai akhirat.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.