Majalah Sunday

Deja Vu: Glitch atau ingatan versi kita yang mati?

Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia

Kita semua pernah merasakan déjà vu. Tapi pernah gak sih, kamu ngerasa kalau déjà vu yang kamu alami itu bukan sekadar “otak lagi ngelag”? Aku dulu juga mikir gitu. Sampai suatu hari, Aku nemuin teori yang bikin bulu kuduk berdiri yaitu dejavu glitch & ingatan kematian versi lama”. Teori ini bilang, setiap kali kita merasa familiar dengan suatu momen, sebenernya kita sedang mengingat kematian kita sendiri di versi sebelumnya dari hari yang sama. Keren? Iya. Serem? Jutaan persen. Tapi aku gak pernah kebayang kalau teori itu bakal terjadi persis di depan mata ku.

Sore itu di taman dekat lab

Aku suka menyendiri di taman sekolah ku, sebenarnya ada banyak hal yang selalu aku pikirkan di kepala ku. Aku ngerasa kalau kepala ku rasanya ada suara klik… suara yang aku sendiri nggak tau secara pasti tapi, aku merasa familiar dengan suara itu.

Taman sekolah ku ini ramai pada jam istirahat. Biasanya tempat ini ramai dipakai anak-anak ekskul pramuka untuk latihan tongkat, tapi hari ini sepi banget. Mungkin karena hujan baru reda. Bangku kayu masih terasa basah. Bau tanah dan daun basah begitu kuat sampai ke hidung ku.

Ditaman itu aku lagi memotong kertas asturo warna hijau buat poster biologi. Yah begitulah, Sendiri. Sepi. Cuma suara gunting krek krek krek dan suara jangkrik dari semak belakang.

Lalu tiba-tiba…

Rasanya kayak ada yang narik sesuatu dari dalam dadaku. Rasanya nggak sakit. Lebih kayak… ada ingatan yang dipaksa masuk tanpa izin. Aku bingung mendeskripsikannya, karena jujur rasanya begitu cepat. 

Aku agak terkejut disini, karena aku tahu persis tiga detik lagi bakal ada sesuatu.

Aku melihat ke pintu gerbang taman, sambil menghitung didalam hati ku dengan perasaan yang susah dijelaskan. Tegang, kaget, dan nggak nyaman.

Dua detik.

Satu detik.

Dan tiba-tiba… pak Budi guru olahraga yang perutnya agak buncit, lewat sambil bawa botol minum biru. Ekspresinya sama persis seperti yang aku “ingat”. Mulai dari perawakannya yang sedikit ngantuk, sampai langkah kakinya agak nyeret karena sendal jepitnya kebesaran.

Lima detik kemudian, burung gagak terbang ke timur.

Semuanya terjadi persis.

Dan aku mendengar suara klik kecil di kepalaku.

Klik.

Bukan dari kuping. Tapi seperti dari dalam. Kayak ada orang ngeklik mouse. Atau saklar lampu yang nyala-mati dalam sekejap.

Aku diam. Cutter di tanganku gemeretak.

Ah, cuma kebetulan, pikirku.

Deja Vu: Glitch atau ingatan versi kita yang mati?
Image Source: pexels.com

Esok harinya di laboratorium

Keesokan harinya. Di lab biologi. Masih jam yang sama. Kosong. Tapi kali ini bukan taman. Aku di dalam ruangan.

Tugasnya bikin poster sel tumbuhan. Meja-meja disusun berhadap-hadapan. Aku duduk di dekat lemari kaca berisi kerangka manusia plastik yang sudah menguning karena umurnya yang sudah cukup lama di lab biologi sekolah ku. Matanya bolong. Senyumnya creepy.

Jam kosong. Guru keluar sebentar ke kantin. Teman-teman mulai ribut sendiri. Ada yang main Mobile Legends. Ada yang senggakin pensil buat lomba siapa yang paling jauh jatuhnya.

Sedangkan aku,  masih fokus pegang cutter. Motong kertas warna hijau buat gambar kloroplas.

Dan tiba-tiba, ada suara klik yang terdengar.
Klik

Dan Déjà vu pun terjadi kembali.

Tapi kali ini lebih kuat.

Bukan cuma rasa familiar. Bukan cuma tahu apa yang bakal terjadi.

Aku melihat ke lantai.

Dan aku membeku.

Deja Vu: Glitch atau ingatan versi kita yang mati?
Image Source: pexels.com

Seseorang ada di sana

Di antara meja guru dan lemari kaca, ada sesosok tubuh terbaring.

Posturnya kayak aku. Seragamnya sama. Putih abu-abu, lengan digulung sedikit ke siku. Sepatu Converse hitam yang tali kirinya udah putus.

Wajahnya… wajahku.

Tapi dadanya robek.

Bukan berdarah. Lebih kayak kertas yang disobek. Sobekan di seragam, terus sobekan di kulit, terus di bawahnya… gelap. Kosong. Kayak lubang hitam kecil. Kayak kamu lihat ke dalam sumur tengah malam.

Matanya melotot. Gak berkedip.

Dan dia mulai merangkak.

Krek… krek… krek… suara jari-jari tangan nempel di lantai keramik. Kayak kuku digoresin pelan-pelan.

Dia mendekat. Mulutnya bergerak, tapi suaranya kayak bisikan lewat radio rusak. Putus-putus. Berdesis.

“Kamu… ingat… gimana… kamu mati… yang pertama kali?”

Aku mau teriak. Udah persiapan buka mulut sebesar-besarnya. Sampe lidah rasanya mau copot.

Tapi suara ku gak keluar.

Aku lirik ke kanan-kiri. Temen-temenku asyik potong kertas. Ada yang lagi ketawa lihat video TikTok. Ada yang malah ngedengerin lagu pake earphone.

Mereka gak lihat apa-apa.

Sepasang tangan dingin nyentuh pergelanganku.

Klik… Suara itu terdengar lagi.

Siklus yang gak ada ujungnya

Aku sadar lagi. Duduk di kursi. Cutter masih di tangan. Kertas hijau masih utuh.

Gak ada apa-apa di lantai.

Tapi bekas sentuhan di pergelangan tanganku masih terasa dingin. Kayak habis ditempelin es batu dari freezer yang udah setahun.

Hari-hari berikutnya, déjà vu itu terus datang.

Gak cuma di lab. Tapi ini benar-benar di mana-mana.

Saat itu di tangga darurat lantai 2. Pas lagi turun, tiba-tiba muncul suara klik dan perasaan ku kayak familiar banget sama setiap anak tangga.

Dan aku tahu, dalam tiga detik kedepan aku bakal kepleset. Karena itu aku putusin untuk hentikan langkahku, biar aku gak kepleset.

Ini rasanya aneh tapi entah kenapa aku ngerasa kalau ini merupakan ingatan ku dari versi lain, aku seakan diberitahu dan disuruh untuk melihat “ingatan” itu, kepleset. Diingatan itu kepala ku duluan yang nyungsep ke lantai keramik di sekolah ku, hingga pecah. Aku denger suara “dok pelan-pelan” di ingatanku.

Aku takut sebenarnya dengan hal ini, tapi kalau aku coba untuk pahami lebih dalam lagi. Semuanya terasa semakin tidak masuk akal, jadi aku putuskan untuk melanjutkan jalan ku ke lapangan upacara.

Di lapangan upacara. Pas lagi baris, aku ngerasa pernah berdiri di titik yang sama. Persis di sebelah tiang bendera. Anginnya familiar. Bau rumputnya familiar. Dan aku “tahu” bahwa di versi sebelumnya, tiang bendera roboh ke kiri. Tapi sekarang tiangnya kokoh-kokoh aja. Cuma ada rasa aneh di perutku.

Di toilet belakang dekat gudang olahraga. Yang paling parah. Dinding toilet itu ada coretan nama-nama pake spidol. Dan setiap kali aku masuk, aku ngerasa ada yang memegang pundakku dari belakang. Tapi gak ada siapa-siapa. Cuma bayangan lampu neon yang kedap-kedip pelan.

Setiap kali habis déjà vu, selalu ada suara klik.

Dan setiap kali, aku ngerasa ada yang berubah. Tipis. Kayak… ada satu frame yang di-skip dari film. Atau ada satu memori yang baru saja dihapus. Kayak copilot yang buru-buru nutup jendela error seakan-akan gak mau aku liat.

Deja Vu: Glitch atau ingatan versi kita yang mati?
Image Source: pexels.com

Dia muncul lagi

Dua minggu kemudian. Di lab biologi. Tempat yang sama. Jam yang sama. Poster yang sama, tapi sekarang udah hampir kelar. Tinggal ditempel gambar mitokondria.

Aku lagi nempel guntingan kloroplas.

Dan dia ada di depan aku.

Bukan di lantai kali ini. Tapi dia duduk di kursi. Persis di seberang meja. Wajahku. Mataku. Dan bekas luka di dagu yang sama dari jatuh pas kelas 7 dulu, bahkan ada bekas jahitan tiga senti.

Cuma dadanya masih robek. Dan sekarang tambah lebar. Kayak ada yang terus merobeknya dari dalam.

Dia gak merangkak kali ini. Dia cuma ngeliatin aku. Matanya kosong, tapi boreh. Kayak kaca jendela yang udah lama gak dibersihin.

Mulutnya bergerak. Suaranya lebih jelas dari sebelumnya. Gak putus-putus lagi.

“Kamu udah mati tiga kali di sekolah ini.”

Aku cuma bisa diem. Mulut kering kayak habis makan kerupuk tanpa minum.

“Pertama. Jatuh dari tangga darurat lantai 2. Kamu jatuh telentang. Kepala dulu yang nyentuh lantai keramik.”

Aku ingat. Itu salah satu déjà vu yang paling kuat. Di tangga darurat. Dulu aku cuma mikir, ah kebetulan.

“Kedua. Tabung reaksi meledak di lab ini. Dada kamu kena pecahan kaca. Gede banget sobekannya. Sampai kamu bisa liat isi perut kamu sendiri.”

Dia nunjuk dadanya yang robek itu. Kayak lagi nunjukin koleksi pribadi.

“Ketiga. Tiang bendera roboh. Kamu gak bisa lari karena barisan terlalu rapat. Temen di sebelah kiri dan kanan kamu megang tangan kamu erat-erat. Jadi kamu cuma bisa diem pas tiang itu jatuh.”

Mata aku mulai panas. Bukan nangis. Tapi ada sesuatu yang ingin keluar secara paksa dari dalam tubuhku. Kayak mau muntah tapi gak bisa. Kayak dada aku juga mau robek.

“Dan kamu,” dia menunjuk aku. Jarinya putih pucat. Kuku nya hitam. “Sekarang yang keempat. Tapi beda. Kali ini kamu sadar.”

Deja Vu: Glitch atau ingatan versi kita yang mati?
Image Source: pexels.com

Pesan dari yang bikin merinding sampai ujung rambut

“Setiap kamu mati, sistem mereset kamu ke pagi hari. Alarm HP bunyi jam 5. Kamu bangun. Mandi. Sarapan. Naik angkot. Masuk gerbang sekolah. Dan semua dimulai lagi dari awal.”

Dia narik napas. Tapi paru-parunya udah bolong, jadi suaranya kayak orang nyedot sedotan di gelas kosong.

“Tapi versi kamu yang mati, gak hilang.”

Dia nunjuk dadanya yang robek. Terus nunjuk ke lantai. Ke lemari kaca. Ke kursi. Ke langit-langit.

“Kita tertinggal. Di lantai lab ini. Di tangga. Di lapangan upacara. Di toilet belakang.”

Dia mendekat. Meja gak jadi penghalang. Kayak dia bisa lewat tanpa nabrak apa-apa. Kayak dia cuma proyeksi. Tapi tangannya dingin. Aku udah pernah ngerasain. Dengan senyum tipis dibibirnya. Dia menyampaikan pesan yang entah kenapa di sertai juga dengan suara klik secara samar-samar.

Klik…

“Kita menumpuk, disini. Setiap hari. Setiap reset. Setiap kematian baru. Kita semakin banyak. Kita makin ramai dan nggak akan melepaskan kamu.”

“Dan setiap kali kamu ngerasa deja vu?” Kami akan mendekat. Jarak kita tinggal setengah meja. “Itu karena kita lagi narik kamu. Kita pengen kamu balik. Biar siklusnya tamat.”

“Tamat gimana?” Aku akhirnya bisa bersuara Tapi rasanya serak. Kayak habis teriak di konser padahal gak pernah ke konser.

Dia senyum. Gak ramah. Gak jahat juga. Lebih kayak… lelah. Kayak guru yang udah jelasin materi yang sama buat keseratus kalinya.

“Kamu ikut kita. Jadi versi yang mati juga. Biar gak ada lagi yang di-reset. Biar berhenti. Biar gak ada kamu yang baru dan lahir setiap pagi.”

Dia ngulurin tangan.

“Klik,” kataku pelan, sebelum dia sempat ngomong.

Klik.

Dia menghilang

Teman-temanku mulai berisik lagi. Guru biologi masuk bawa teh poci. Aku disuruh maju nunjukin poster. Aku berdiri. Kaki ku goyah kayak anak baru belajar jalan.

Aku liat ke lantai.

Gak ada siapa-siapa.

Tapi di bawah meja guru, dekat lemari kaca yang menguning itu… ada sepatu Converse hitam. Tali kiri putus. Bekas pulpen di bagian kanan. Itu sepatuku. Yang aku pake sekarang juga sama.

Cuma satu. Sepasang? Gak. Cuma satu.

Sepatu kiri.

Mengkilap. Baru. Gak ada debu. Padahal lab itu jarang disapu.

Aku nunduk. Mau ngambil.

Tapi pas tanganku nyentuh…

Klik.

Sepatu itu ilang.

Dan di kepala aku, ada bisikan. Banyak. Puluhan. Mungkin ratusan.

“Nanti aja, ini belum waktunya.”

“Kita tunggu kamu.”

“Di lab. Di tangga. Di toilet.”

“Kapan aja.”

Sekarang, di mana aku?

Aku nulis ini di sela-sela jam pelajaran. Di buku catatan biologi. Halaman paling belakang. Pakai pulpen merah.

Tangan aku masih agak gemetaran. Leher aku masih ngerasa dingin. Padahal cuaca lagi panas-panasnya.

Kenapa aku nulis?

Bukan karena aku pengen cerita seram. Bukan karena aku pengen terkenal.

Tapi karena aku takut.

Bukan takut mati. Karena kalau mati udah tiga kali, mungkin lebih, tapi aku gak inget karena sistem selalu di reset.

Aku takut kalau suatu saat nanti, aku ngerasa déjà vu, lalu klik, lalu aku lupa semua yang udah aku ketahui.

Dan bangun lagi di pagi hari. Di kasur. Dengar alarm HP jam 5.

Berangkat ke sekolah. Naik angkot yang sama. Lewat taman dekat lab. Lalu potong kertas. Liat guru olahraga lewat bawa botol biru.

Lagi. Dan lagi. 

Sampai kapan? Sampai aku mau ngeklik sendiri? Sampai aku milih buat ikut mereka?

Atau sampai admin realitasnya panik dan matiin server buat selamanya?

Gak ada yang tahu.

Yang aku tahu, besok aku bakal ke lab lagi. Di jam yang sama. Kursi yang sama.

Dan mungkin, aku bakal liat sepatu kiri itu lagi.

Atau mungkin aku bakal liat versi aku yang keempat.

Atau mungkin…

Klik.

Apakah ini sebuah akhir atau pengulangan kembali?

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1