Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Tiba-tiba hilang, padahal kemarin masih sayang.

Pernah nggak sih, lagi asyik ngobrol sama seseorang, lalu tiba-tiba semuanya berubah?
Pesan yang biasanya cepat dibalas mendadak cuma centang satu. Kalaupun dibaca, nggak ada jawaban lanjutan. Kamu lihat dia masih aktif, masih upload story, masih online seperti biasa. Tapi entah kenapa, kehadirannya buat kamu seperti menghilang.
Rasanya mirip lagi baca buku yang seru banget, tapi halaman terakhirnya robek.
Fenomena ini dikenal sebagai ghosting, yaitu ketika seseorang memutus komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan. Dalam konteks hubungan modern, ghosting menjadi salah satu bentuk penolakan yang paling membingungkan karena tidak memberi kejelasan.
Jujur saja, banyak orang merasa ghosting lebih menyakitkan daripada diputusin langsung. Bukan karena kata “putus” itu ringan, tapi karena ketidakjelasan sering lebih melelahkan daripada kenyataan.

Banyak orang menganggap pelaku ghosting itu kejam atau nggak punya empati. Memang ada yang seperti itu. Tapi nggak sedikit juga yang sebenarnya cuma takut menghadapi situasi yang nggak nyaman.
Mengatakan hubungan harus selesai itu butuh keberanian. Harus siap melihat orang lain kecewa, menjawab pertanyaan sulit, atau menerima label sebagai pihak yang pergi duluan.
Akhirnya, sebagian orang memilih diam lalu menghilang.
Psikolog menyebut pola ini sebagai conflict avoidance, yaitu kecenderungan menghindari percakapan sulit demi mengurangi rasa tidak nyaman sesaat. Namun, masalah yang dihindari sering muncul dalam bentuk lain yang lebih rumit.
Mereka pikir dengan tidak mengatakan apa-apa, semuanya akan selesai sendiri. Padahal yang selesai cuma komunikasi. Kebingungan justru baru dimulai.

Diputusin secara jujur memang sakit.
Tapi kejujuran ibarat pintu yang ditutup rapat. Mungkin bunyinya keras dan bikin kaget, tapi jelas bahwa semuanya selesai. Dari situ, seseorang bisa mulai menerima dan melangkah pergi.
Ghosting berbeda.
Ghosting seperti pintu yang dibiarkan terbuka sedikit. Tidak tertutup, tapi juga tidak benar-benar terbuka. Akhirnya orang yang ditinggalkan terus menoleh ke arah pintu itu, berharap suatu saat ada yang kembali membawa penjelasan.
Dalam psikologi hubungan, kondisi tanpa kejelasan seperti ini sering memperpanjang proses move on karena otak terus mencari jawaban yang tidak ada. Ketidakpastian cenderung meningkatkan stres emosional.

Di zaman sekarang, semuanya serba cepat.
Nggak suka? Tinggal swipe.
Bosan? Tinggal close tab.
Capek? Tinggal mute.
Tanpa sadar, kebiasaan itu ikut terbawa ke cara kita memperlakukan hubungan.
Kita jadi terbiasa memilih jalan tercepat, bukan jalan terbaik.
Padahal di balik layar ponsel itu ada manusia sungguhan, bukan sekadar username dan foto profil. Ada perasaan yang bisa bingung, kecewa, bahkan hancur karena ditinggalkan tanpa alasan.
Jujur terasa mahal karena butuh kedewasaan emosional dan kemampuan untuk menghadapi percakapan tidak nyaman tanpa lari dari tanggung jawab.

Kalau memang perasaan berubah atau hubungan tidak sehat, sampaikan dengan jelas. Menunda sambil tetap memberi harapan sering lebih menyakitkan daripada kejujuran itu sendiri.
Jika hubungan cukup serius, jangan akhiri dengan hilang mendadak atau pesan dingin satu kalimat. Usahakan berbicara langsung atau melalui percakapan yang pantas dan penuh rasa hormat.
Tidak perlu berputar-putar.
Contoh:
Kalimat jelas mungkin menyakitkan sesaat, tapi tidak menyiksa dalam ketidakpastian.
Mengakhiri hubungan bukan berarti merendahkan orang lain. Fokus pada kondisi hubungan, bukan menghina kekurangan pasangan. Putus yang dewasa tetap menjaga hormat.
Setelah selesai, beri batas yang sehat. Jangan masih memberi perhatian seperti pasangan jika memang sudah ingin pergi, karena itu bisa membuka luka dan memberi harapan palsu.

Tidak semua hubungan harus bertahan selamanya. Kadang berpisah memang jadi keputusan paling sehat.
Namun, cara seseorang pergi seringkali lebih diingat daripada alasannya. Saat rasa sudah berubah, hormat seharusnya tidak ikut hilang.
Ghosting mungkin terasa mudah bagi yang menghilang, tapi bisa meninggalkan luka dan tanda tanya panjang bagi yang ditinggalkan.
Kalau suatu hari kamu merasa hubungan ini memang harus selesai, pilihlah cara yang lebih dewasa. Beranikan diri untuk jujur, sampaikan dengan baik, dan jangan menggantungkan harapan.
Dan kalau kamu pernah di-ghosting, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Kepergian tanpa penjelasan sering lebih menunjukkan ketidaksiapan mereka, bukan kurangnya nilai dirimu.
Belajarlah bukan hanya mencintai dengan baik, tapi juga mengakhiri dengan baik.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.