Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
Emosi punya banyak jenis mulai dari senang, sedih, marah, takut, atau jijik. Kalau kita bisa tetap selow atau stecu dalam menyikapi berbagai hal, berarti kita punya tingkat regulasi emosi atau emotional regulation yang baik.
Regulasi emosi punya peran yang andil dalam kesehatan mental, so penting banget buat kita untuk bisa mengendalikan emosi secara sehat. Check it out!
Emotional regulation atau regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam situasi positif maupun negatif. Jadi, mau kita lagi senang atau sedih, kita nggak gampang untuk terlalu terbawa suasana dan menyikapi setiap situasi dengan bijak.
Tapi, meregulasi emosi butuh latihan dan kesabaran yang tinggi, lho. Seringkali emosi cepat menguasai kita sehingga kita bisa berperilaku berlebihan atau nggak sesuai. Misalnya, ribut di acara keluarga karena ada yang suka komentar julid. Atau terbawa emosi karena orang ngebut seenaknya di jalan, malah jadi ajang adu mulut!
Terutama bagi teman-teman yang mengalami bipolar disorder, depresi, PTSD, dan gangguan mental lainnya, mengendalikan emosi bisa jadi tantangan dan proses yang sangat kompleks. Regulasi emosi butuh strategi yang dilatih bahkan sejak usia dini, tapi bukan berarti remaja dan orang dewasa nggak bisa belajar di usia yang sekarang kok.

Mindfulness adalah teknik dan strategi agar kita bisa fokus dan menerima emosi yang sedang dirasakan. Cara ini bisa dilakukan dengan mencari tempat yang tenang lalu mengambil napas dalam dan hembuskan selama beberapa kali sampai terasa lebih lega. Lalu, coba identifikasi perasaan yang sedang kita rasakan, misalnya “Aku lagi gugup nih,” atau “Aku kesal banget dengar kata-kata dia.” Tanyakan pada diri sendiri “Gimana cara aku untuk hadapin ini ya?” agar pelan-pelan meredam emosi dan mengendalikan pikiran kita dalam menanggapi perasaan tersebut.
Mindfulness juga dapat dilatih dengan meditasi rutin. Coba luangkan waktu paling nggak 10 sampai 20 menit saat pagi atau malam, duduk tegak, tarik dan buang napas secara perlahan. Dengan fokus pada ritme perasaan, kita bisa terlatih untuk merasa lebih tenang dan berpikir jernih di setiap situasi.
Kalau emosinya dipendam terus, kita malah jadi terbebani karena emosi menumpuk dalam pikiran. Lebih baik kita ekspresikan emosinya dengan kegiatan yang positif seperti menulis jurnal, mendengarkan lagu, bicara dengan teman atau keluarga yang terpercaya, atau berkonsultasi dengan psikolog.
Menulis jurnal bisa bikin kita lebih paham dengan diri sendiri karena kita bebas menulis apa saja tanpa perlu dihakimi. Sementara berbicara dengan orang yang sefrekuensi membuat kita dapat dukungan emosional dan sudut pandang baru. Siapa tahu dari pendapat mereka kita bisa pelan-pelan mengganti cara kita memandang emosi, atau termotivasi untuk melakukan self-talk positif supaya lebih optimis dalam setiap situasi.
Pola makan yang seimbang ditambah dengan olahraga atau kegiatan fisik yang rutin bisa melepaskan hormon endorfin dan serotonin lho!
Endorfin sering disebut sebagai “hormon bahagia” atau “pereda nyeri” yang bisa memicu rasa senang dan puas sehingga dapat mengurangi rasa sakit. Sedangkan serotonin mengatur suasana hati serta siklus tidur, sehingga kita bisa lebih fokus dan stabil secara emosional. Kalau tidur dan makannya cukup, pasti pikiran lebih enteng kan?

Memiliki emotional regulation yang baik nggak bisa langsung didapatkan dengan cepat, namun perlu latihan supaya makin terbiasa dalam mengendalikan respons emosional kita.
Dengan regulasi emosi yang baik, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, berinteraksi secara positif dan profesional tergantung situasi dan kondisi, meningkatkan fokus, mencegah risiko gangguan mental, serta meningkatkan kekebalan tubuh dari efek negatif stres. Selamat mencoba tips-tips di atas, Sunners!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.