Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, kalian pasti pernah dengar tentang Keraton Yogyakarta dan Solo ya? Meskipun kedua nama kerajaan tersebut sering sekali dibilang mirip, tapi ternyata ada banyak perbedaan yang selama ini kita belum tau lho. Disini kalian akan mengetahui perbedaan dari kedua keraton tersebut, penasaran? Yuk kita cari tahu!

Sebenarnya, Keraton Yogyakarta dan Solo berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Namun karena terjadinya perselisihan, terbentuklah dua keraton tersebut dan adanya Perjanjian Giyanti yang dibantu oleh Belanda pada 13 Februari 1755. Satu kerajaan berada di Surakarta bernama Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kecamatan Pasar Kliwon yang dipimpin oleh Sunan Pakubuwono II. Namun, kerajaan lainnya berada di Yogyakarta bernama Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, kecamatan Kraton yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Perbedaan yang kelihatan pada kedua kerajaan terdapat banyak sekali terutama pada bagian budaya, berpakaian, dan lain-lain. Kalian akan tahu lebih lanjut dibawah ini:
Setiap keraton memiliki gelar nama dan jabatan yang berbeda. Untuk yang berada di Yogyakarta, mereka mempunyai gelar nama Hamengkubuwono. Kemudian, untuk mereka yang mempunyai jabatan pasti akan langsung diangkat sebagai gubernur DIY. Sedangkan untuk yang ada di Solo, mereka mempunyai gelar nama Pakubuwono dan nggak ada jabatan dalam bidang politik.
Desain bangunan pada kedua keraton sangat berbeda antara satu sama lain. Yang berada di Yogyakarta masih identik dengan nuansa Jawa Kuno sehingga masih terlihat tradisional. Sedangkan, yang berada di Solo, cenderung udah berwarna putih biru dengan nuansa Jawa dan Eropa sehingga terlihat lebih modern.
Ini terlihat pada bagian blangkon, beskap, dan surjon. Untuk kerajaan yang berada di Yogyakarta, blangkonnya terdapat mondolan atau benjolan untuk menggulang rambut. Beskap dan surjonnya lebih banyak yang bermotif sehingga banyak modelnya. Sedangkan, yang terdapat di Solo, blangkonnya nggak ada mondolan serta untuk beskap dan surjonnya lebih polos.
Gamelan yang ada di Yogyakarta tersusun secara lebar dan renggang, diwarnai dengan warna-warna cerah. Sedangkan gamelan yang ada di Solo, tersusun secara rapat dan hanya berwarna cokelat keemasan.
Senjata keris ini biasanya ditaruh di bagian belakang busana laki-laki sebagai simbol bahwa mereka udah matang dan dapat mengendalikan emosi biar nggak melukai siapapun. Di Yogyakarta, pangkal kerisnya tumpul dan di Solo, pangkal kerisnya lancip.

Kesimpulannya, Keraton Yogyakarta dan Solo berbeda dari apa yang kita pikirkan. Keduanya memiliki sejarah yang sama, namun berkembang dengan tradisi yang berbeda. Masing-masing keraton jadi mempunyai keunikan tersendiri. Dengan memahami dan mengapresiasi kedua kerajaan ini, kita bukan hanya mengenal sejarah, tetapi juga dapat berpartisipasi untuk menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan. Kedua kerajaan telah menjadi bukti bahwa tradisi nggak akan hilang begitu aja dengan modernitas.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.