Penulis: Ayu Anjani- Universitas Pendidikan Indonesia
Manusia berjalan di antara tanah yang mulai lelah,
Langit menyimpan resah dari napas yang kurang terarah,
Insan bisa membangun dunia, namun lupa dimana arah yang ramah,
Bumil pun ikut berbisik lirih, bahwa ia menahan luka yang mulai parah.
Manusia menanam harap di ladang yang kian sunyi,
Alam menjawab pelan lewat hujan yang tak pasti,
Lalu individu berlari cepat mengejar ambisi bagi sendiri,
Namun akar kehidupan perlahan mulai mati.
Manusia adalah sebuah kisah antara cipta dan rasa,
Jiwa akan selalu terikat erat pada bumi yang setia,
Umat selalu bisa mengukir jejak tanpa membaca sebuah makna,
Bahwa setiap langkah membawa dampak yang nyata.

Manusia dan lingkungan bukan dua hal yang terpisah,
Mereka saling hidup dalam siklus yang sangat indah,
Makhluk ini seringkali berpikir bertindak salah,
Lupa bahwa alam pun masih punya batas resah.
Jiwa akan belajar dari waktu yang terus kian berjalan,
Bahwa harmoni bukan sekadar angan-angan,
Insan yang sadar akan selalu menjaga keseimbangan,
Agar bumi tetap hidup untuk generasi masa depan.
Manusia adalah suatu bagian dari ekologi semesta,
Bukan penguasa, melainkan penjaga yang setia,
Jika hubungan ini dirawat dengan bijaksana,
Maka keberlanjutan akan tetap terjaga selamanya.
Bahwa manusia harus menyadari perannya bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Setiap tindakan memiliki dampak, sehingga penting untuk bersikap bijak, menjaga keseimbangan, dan tidak mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Puisi ini menegaskan bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada kesadaran dan tanggung jawab setiap mahkluk dalam merawat bumi demi masa depan bersama.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.