Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Bapak Bisa Diam, Ga?

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa- SMKN 48 jakarta

Pagi itu, aroma kopi hitam dan bau koran lama sudah memenuhi ruang makan, sebuah tanda bahwa sang “Gubernur Lelucon Garing” alias bapak sudah menduduki singgasananya. 

Dirga menguap lebar, melangkah malas menuju meja makan dengan rambut berantakan khas orang baru bangun tidur.

“Pagi, Pak,” sapa Dirga singkat.

Bapak Dirga, Pak Handoko, menurunkan korannya sedikit. Kacamata bacanya melorot sampai ke ujung hidung. Ia menatap Dirga dengan tatapan serius yang biasanya menandakan ada wejangan penting. 

Dirga sudah waspada, dia tahu gestur ini.

“Dir, kamu tau nggak kenapa ayam kalau berkokok matanya merem?” tanya Bapak dengan nada sedalam kawah Merapi.

Dirga terdiam. Otaknya mencoba memproses. Apakah ini soal biologi? Atau soal anatomi unggas?”

“Eee… biar fokus, Pak? Atau emang udah instingnya?”

Bapak menggeleng pelan, ekspresinya prihatin seolah Dirga baru saja gagal ujian skripsi. “Salah. Dia merem karena dia udah hafal teksnya, Dir. Nggak perlu baca lagi.”

Hening.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Dirga memejamkan mata rapat-rapat. Rasa kantuknya hilang, digantikan oleh rasa lelah spiritual yang amat sangat. “Itu receh banget, ya Allah. Lagian ayam mana bisa baca teks, sih?”

Bapak cuma terkekeh kecil, kembali menyeruput kopinya dengan wajah tanpa dosa. 

Sementara Dirga? Nafsu makannya untuk nasi uduk di depan mata mendadak terjun bebas. Ini baru jam tujuh pagi, dan mentalnya sudah diuji.

Punya Bapak yang suka bercanda tapi garing? Itulah Dirga, hari-hari nya selalu dipenuhi oleh candaan aneh bapaknya. Bagaimanakah kehidupan Dirga dengan bapaknya?
"Siapapun tolong lepaskan aku dari candaan bapak." -Dirga

Ritual harian dari Bapak yang suka bikin emosi..

Begitulah dinamika hubungan Dirga dan Orang tua satu-satunya. Dirga, seorang pemuda usia dua puluhan yang sedang berjuang di dunia kerja, sering kali butuh obrolan serius atau sekadar validasi dari orang tua. 

Tapi Bapak? Dia adalah penganut aliran Dad Jokes garis keras yang percaya bahwa setiap kalimat harus memiliki elemen kejutan yang membuat lawan bicaranya ingin pindah ke planet Mars.

Narasi hidup Dirga adalah tentang bagaimana dia berusaha tetap sopan di tengah badai komedi yang tidak lucu sama sekali.

 Dirga menyayanginya, tentu saja. Bapak adalah sosok yang membesarkannya dengan kerja keras. Tapi masalahnya, Bapak seolah punya stok lelucon garing yang tidak pernah habis di dalam kepalanya, seperti gudang grosir yang nggak pernah bangkrut.

Siang harinya, Dirga sedang bersiap-siap untuk berangkat meeting penting. Dia sedang mencari kunci motor yang entah hilang ke mana.

“Pak, liat kunci motor Dirga nggak? Tadi perasaan ditaruh di atas meja televisi,” tanya Dirga sambil membongkar tumpukan majalah.

Bapak yang sedang asyik menyiram tanaman di teras menoleh. “Kunci motor ya? Wah, nggak liat. Tapi Bapak tau kenapa motor itu sebenernya benda paling sopan di dunia.”

Dirga sudah merasa ada yang tidak beres. Dia ingin mengabaikannya, tapi sifat penasaran itu kutukan. “Kenapa lagi, Pak?”

“Soalnya kalau mau jalan, dia selalu bilang ‘Peeerrrrr.. peeerrrrmisi’,” jawab Bapak sambil memperagakan bunyi knalpot yang lebih mirip suara orang sakit perut.

Dirga mematung. Tangannya masih memegang majalah tahun 2015. Dia memandangnya dengan tatapan kosong. “Pak, itu mah suara motor mogok! Lagian hubungannya sama kunci Dirga apa?”

“Nggak ada hubungannya sih,” sahut pria yang lebih tua itu dengan santai. “Cuma mau ngingetin aja, jangan stres nyari kunci. Cari tuh kebahagiaan. Kalau kunci mah biasanya di kantong celana yang kamu pakai kemarin.”

Dirga merogoh kantong celana jeans yang tergantung di balik pintu. Benar saja, kuncinya ada di sana. Ada rasa lega karena kunci ketemu, tapi ada rasa dongkol yang lebih besar karena dia harus melewati prolog lelucon knalpot terlebih dahulu. 

Dirga berangkat kerja dengan perasaan moody yang sudah mencapai level waspada.

Punya Bapak yang suka bercanda tapi garing? Itulah Dirga, hari-hari nya selalu dipenuhi oleh candaan aneh bapaknya. Bagaimanakah kehidupan Dirga dengan bapaknya?
"Cukup pak, cukup." -Dirga

Bapak mampu mengubah suasana serius menjadi bercanda.

Sore harinya, Dirga pulang dengan pundak yang merosot. Meeting tadi siang tidak berjalan mulus. Kliennya banyak menuntut, dan bosnya memberi revisi yang tidak masuk akal.

 Dia butuh teman bicara. Dia butuh nasihat orang tua yang bijaksana, yang bisa menenangkan hatinya.

Dia mendapati Bapak sedang duduk di kursi kayu favoritnya sambil mengelus kucing tetangga yang mampir.

“Pak, lagi pusing nih. Tadi di kantor ada masalah dikit sama proyek baru,” curhat Dirga sambil duduk di sebelah Bapak.

Bapak menoleh, wajahnya berubah empati. “Pusing kenapa, Dir? Masalah manusia atau masalah teknis?”

“Manusia, Pak. Kliennya nggak jelas maunya apa. Padahal Dirga udah kasih yang terbaik,” keluh Dirga.

Bapak mengangguk-angguk. “Sabar, Dir. Hidup itu emang kayak kamera.”

Dirga sedikit terhibur. Nah, ini dia. Nasihat filosofis keluar, pikirnya. “Maksudnya gimana, Pak? Fokus ke yang penting aja?”

“Bukan,” jawab Bapak singkat. “Kalau nggak dapet fokusnya, ya udah… senyumin aja.”

Dirga menunggu kelanjutannya. Dia mengira akan ada kalimat motivasi tingkat tinggi setelah itu. 

Tapi Bapak malah menyambung, “Tapi kamu tau nggak, kenapa kamera itu sebenernya jahat?”

“Ya Allah, mulai lagi…” gumam Dirga dalam hati. “Kenapa, Pak?”

“Karena dia hobinya nembak orang, terus hasilnya malah dicuci. Udah nembak, dicuci tangan lagi. Kan jahat.”  Dirga menghela napas panjang, sangat panjang sampai-sampai paru-parunya terasa kosong.

 Dia baru saja mencurahkan isi hatinya yang sedang gundah gulana, dan Bapak membalasnya dengan analogi kamera cuci cetak yang bahkan sudah punah di era digital ini.

“Pak, Dirga lagi serius lho ini. Dirga lagi capek,” ucap Dirga dengan nada yang masih terjaga kesopanannya, meski matanya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin menangis karena gemas

Bapak menepuk bahu Dirga. “Bapak tau kamu capek. Tapi kalau hidup dibawa serius terus, nanti kamu cepet tua. Kamu mau wajah kamu keriput gara-gara mikirin klien yang belum tentu mikirin kamu?”

Kalimat itu sebenarnya bijak. Benar-benar bijak. Tapi cara menyampaikannya lewat lelucon garing tadi membuat pesan bijaknya terdistorsi oleh rasa “pengen marah tapi nggak bisa”. 

Dirga akhirnya memilih masuk ke kamar, menutup pintu, dan bergumam sendiri tentang betapa ajaibnya garis keturunan keluarganya.

Punya Bapak yang suka bercanda tapi garing? Itulah Dirga, hari-hari nya selalu dipenuhi oleh candaan aneh bapaknya. Bagaimanakah kehidupan Dirga dengan bapaknya?
Pada akhirnya, Dirga menangis entah karena frustrasi atau terharu kepada Bapaknya.

Siklus candaan Bapak yang ga pernah putus.

Malam harinya, suasana rumah kembali hening. Dirga yang tadinya sudah “ngambek” dan malas bicara, akhirnya luluh juga saat melihat Bapak kesulitan membetulkan keran air yang bocor di dapur.

 Sebagai anak yang berbakti, rasa emosinya tadi sore langsung menguap, digantikan rasa kasihan melihat Bapak yang sudah tidak muda lagi harus jongkok-jongkok di bawah wastafel.

“Sini, Pak. Biar Dirga aja yang benerin,” kata Dirga sambil mengambil kunci inggris.

Bapak berdiri, memegangi pinggangnya yang terdengar berbunyi krek. “Wah, makasih, Dir. Bapak emang udah nggak bisa lama-lama jongkok. Kamu tau nggak kenapa keran ini bocor?”

Dirga sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Sambil memutar baut, dia menjawab malas, “Kenapa, Pak? Karena karetnya udah kendor?”

“Bukan. Karena dia sedih, Dir. Makanya dia nangis terus,” sahut Bapak dengan wajah polos tanpa dosa.

Dirga berhenti memutar kunci inggris. Dia menatap air yang menetes dari keran. Dia membayangkan keran itu benar-benar punya perasaan dan sedang menangisi nasib Dirga yang punya bapak seperti ini.

“Pak… keran itu benda mati. Dia nggak punya kelenjar air mata,” Dirga mencoba memberikan penjelasan logis yang membosankan.

“Ya justru itu hebatnya, nggak punya mata tapi bisa nangis. Kamu kalah sama keran,” balas lawan bicaranya sambil tertawa kecil.

Dirga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dia mempercepat pekerjaannya. Dia ingin segera selesai dan menjauh dari area komedi berbahaya ini. Setelah keran selesai diperbaiki, Dirga hendak kembali ke kamarnya.

“Dir, tunggu bentar,” panggil Bapak

Dirga menoleh. “Apa lagi, Pak? Ada yang bocor lagi?”

“Bukan. Bapak cuma mau tanya. Kamu tau nggak buah apa yang paling ditakuti sama mahasiswa?” Dirga menarik napas dalam. Dia sudah sampai di batas kesabarannya, tapi dia tetap menjawab karena tidak ingin dianggap anak durhaka. 

“Nggak tau, Pak. Buah apa?”

“Belimbing,” Jawab Bapak singkat. Dirga mengerenyit, “Kenapa belimbing?”

“Soalnya kalau nggak hati-hati, nanti bisa… Belimbing-bingan (Bimbingan) skripsi dan nggak lulus-lulus.”

Dirga terdiam. Jokes itu bahkan tidak masuk akal secara fonetik. “Itu maksa banget, nggak ada nyambung-nyambungnya!” seru Dirga, akhirnya emosinya meluap sedikit.

“Lho, tapi kamu kepikiran kan? Berarti berhasil,” kata Bapak sambil masuk ke kamarnya dengan langkah ringan.

 Meninggalkan Dirga yang berdiri sendirian di dapur sambil memegang kunci inggris dengan perasaan yang campur aduk antara ingin tertawa karena betapa bodohnya jokes itu.

Punya Bapak yang suka bercanda tapi garing? Itulah Dirga, hari-hari nya selalu dipenuhi oleh candaan aneh bapaknya. Bagaimanakah kehidupan Dirga dengan bapaknya?
"Tahan, tahan, ku sabar menahan." Dirga

Pagi baru, candaan bapak yang baru.

Keesokan harinya, seolah-olah semua emosi dan rasa kesal semalam tidak pernah terjadi, Dirga kembali ke meja makan. Itulah keajaiban mereka. 

Meskipun Bapak selalu sukses membuat Dirga naik darah dengan leluconnya, Dirga tidak pernah bisa benar-benar marah dalam waktu lama. Ada sesuatu yang hangat di balik kegaringan itu.

Bapak sedang mengupas pisang. Dia melihat Dirga datang dan langsung menyiapkan amunisi. “Dir, sini duduk. Bapak punya satu lagi. Janji, ini yang terakhir buat pagi ini.”

Dirga menghela napas, duduk dengan pasrah, dan menuang air putih. “Apa, Pak?”

“Kenapa kucing kalau dikejar anjing selalu lari?”

Dirga berpikir keras. Dia mencoba mencari jawaban yang paling logis agar Bapak tidak punya celah untuk melawak. “Karena anjing itu predator, Pak. Secara insting, kucing bakal menyelamatkan diri supaya nggak digigit.”

Bapak tersenyum simpul, sebuah senyum yang membuat Dirga sadar bahwa dia baru saja masuk ke dalam jebakan Batman. 

“Salah,” kata Bapak. “Dia lari karena kalau dia terbang, itu namanya burung. Bukan kucing.”

Dirga meletakkan gelasnya pelan-pelan. Dia memandang Bapaknya dalam-dalam. Ada keheningan yang cukup lama di antara mereka. Di dalam kepala Dirga, dia sedang memproses betapa absurdnya logika sang Bapak. 

Dia ingin marah, dia ingin protes bahwa perbandingan itu tidak apel-ke-apel, tapi kemudian dia melihat mata Bapak yang berbinar jenaka.

Bagi Bapak, mungkin lelucon itu bukan soal lucu atau tidaknya. Itu adalah caranya untuk memastikan anaknya masih mau mendengarkan suaranya. Itu adalah caranya memecah kekakuan dunia dewasa yang sedang dihadapi Dirga.

"Mending cabut dari bapak,deh." -Dirga

Dirga akhirnya hanya bisa tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan tapi tulus. “Terserah Bapak deh. Dirga mau berangkat kerja dulu. Assalamualaikum.

“Waalaikumsalam. Hati-hati, Dir! Jangan lupa kalau ada orang minta alamat, kasih aja. Kasihan, jangan pelit!” teriak Bapak dari meja makan.

“Iya, Pak! Nggak nyambung, Pak!” balas Dirga sambil memakai helm.

Di atas motor, sepanjang jalan menuju kantor, Dirga tanpa sadar memikirkan jokes “kucing terbang” tadi. Dia merenung selama lima menit di lampu merah, baru kemudian dia menyadari betapa bodohnya itu. Dan di saat itulah, tawa kecil keluar dari mulutnya.

Garing? Banget. Nggak mutu? Parah. Tapi entah kenapa, lelucon Bapak selalu berhasil nempel di kepala seperti lem korea, membuat hari-hari Dirga yang penuh tekanan jadi sedikit lebih “berantakan” dengan cara yang menyenangkan. 

Dan Dirga tahu, besok pagi, dia akan kembali ke meja makan itu untuk mendengarkan satu lagi lelucon yang akan membuatnya emosi lagi. Karena itulah cara mereka saling mencintai.

Tamat

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4