Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta
Seminggu setelah Lebaran, suasana rumah Nara akhirnya kembali normal.
Toples kue sudah tinggal remah-remah. Ketupat sudah lama habis. Dan yang tersisa di kulkas tinggal satu hal yang seolah tidak pernah berkurang: rendang. Setiap kali membuka kulkas, Nara selalu menatap wadah plastik itu dengan ekspresi yang sama.
‘Rendang lagi, rendang lagi. Entah kenapa jadi kangen nasi goreng..‘ pikir Nara dengan pundung.
Kenapa ya… rendang tuh kayak Immortal gitu,” gumamnya pelan.
Dari ruang tengah, ibunya langsung menyahut, “Kalau nggak dimakan, ya nggak habis-habis.”
“Iya sih…” Nara menutup kulkas. “Tapi bosen, Bu. Dari hari pertama sampai sekarang, itu lagi itu lagi.”
Ibunya hanya tertawa kecil. “Ya diolah lagi. Kamu kan suka eksperimen.”
Nara berhenti melangkah, “Diolah lagi?” matanya langsung berbinar.
“OHHH. IDE BAGUS.”
Ibunya cuma geleng-geleng kepala, menghela nafas atas kelakukan anaknya yang mungkin kurang normal menurutnya. “Mulai deh.”

Satu jam kemudian, dapur sudah berubah jadi “studio” dadakan.
Nara berdiri dengan apron seadanya, sementara ponselnya disandarkan menghadap ke arah kompor.
Di depannya, bahan-bahan sudah siap: nasi putih dingin, rendang sisa, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap manis, telur, dan sedikit minyak.
Dia menekan tombol rekam.
“Halo, gaes…” katanya agak canggung. “Hari ini kita bakal bikin sesuatu dari sisa rendang Lebaran…” Dia berhenti sebentar, lalu tersenyum.
“Nasi goreng rendang, karena kita nggak boleh nyia-nyiain makanan apalagi rendang. Itu dosa .”
Langkah pertama, dia mengambil rendang dari wadah.
“Ini kita suwir-suwir dulu ya, biar gampang nyatu sama nasi.”
Tapi ternyata tidak semudah itu.
“…oke ini agak keras ya ternyata,” gumamnya sambil berusaha menarik serat daging.
“Perlu bantuan?”
Nara langsung kaget dan menoleh. “ASTAGA, Kak Dito!”
Kakaknya berdiri di pintu dapur sambil nyengir. “Ngapain sih ngomong sendiri?”
“Lagi bikin konten!”
“Oh… seleb TikTok sekarang?” Dito bertanya dengan nada iseng di dalamnya.
“Calon.” Nara menjawab dengan ketus, namun senyuman sombong terpapar di wajahnya setelah itu.
“Calon gagal.” Dito mencibir, senyuman Nara jatuh dan dia mengusir Dito dengan kesal.
“PERGI SANA!”
Dito malah duduk santai. “Yaudah, gue nonton.”
Nara mendengus, tapi lanjut juga. Abang siapa sih ini? Ngeselin banget.
Setelah rendang berhasil disuwir walaupun dengan sedikit perjuangan, Nara mulai menyiapkan bumbu.
“Sekarang kita cincang bawang merah sama bawang putih. Nggak harus rapi banget, yang penting kecil-kecil aja.”
“Hati-hati, nanti jari lo yang kecincang,” komentar Dito.
“Doain yang baik-baik napa sih.” Ketus Nara sambil memotong-motong bawang.
Beberapa menit kemudian, wajan sudah dipanaskan.
“Masukin minyak secukupnya, terus tumis bawangnya sampai harum.”
Begitu bawang masuk, suara “cesss” langsung terdengar, disusul aroma wangi yang cepat menyebar.
“Wah, ini udah mulai enak,” kata Dito. Nara menyunggingkan senyuman sombong.
“Jelas.”
—
“Kalau bawangnya udah harum, kita masukin cabai.” Nara menatap cabai di tangannya, lalu memasukkan cukup banyak ke dalam wajan.
Dito langsung melongo. “Itu buat satu rumah atau satu RT?”
“Diam.”
“Sekarang masukin rendangnya!” lanjut Nara. Potongan rendang dimasukkan, lalu diaduk perlahan bersama bumbu.
“Di tahap ini, kita mau bumbu rendangnya keluar lagi aromanya,” jelasnya. “Jadi ditumis bareng biar makin kuat rasanya.”
Aroma khas rendang yang dipanaskan ulang langsung memenuhi dapur.
Nara sampai berhenti sejenak, “Ini bahaya sih…”
“Kenapa?” Dito bertanya, Nara menjawab disusul dengan suara di perutnya.
“Bikin laper padahal belum jadi.”
Dito tertawa.
—
“Selanjutnya, masukin nasi putih dingin.” Nara menuangkan nasi ke dalam wajan.
“Kenapa harus dingin?” tanya Dito. Aduh, ini orang dari tadi nanya mulu.
“Biar nggak lembek dan gampang dipisah,” jawab Nara sambil mulai mengaduk. Perlahan, nasi putih itu berubah warna, menyerap bumbu rendang hingga menjadi coklat keemasan.
“Ini kita aduk sampai rata ya, biar semua nasinya kena bumbunya.”
Dito mengangguk pelan. “Wah… ini beda kelas sih.”
—
“Sekarang tambahin kecap manis, tapi jangan kebanyakan.”
“Lo yakin?” Dito nyeletuk.
Nara melirik. “Gue lebih percaya sama masakan gue daripada hidup gue.”
“Sedih banget hidupnya.” Kayak hidupmu ga sedih juga, Dit.
“Terakhir, kita tambahin telur.”
Nara menggeser nasi ke satu sisi, lalu memecahkan telur di sisi lain wajan, “Ini opsional, tapi bikin rasanya lebih enak.”
Telur itu diorak-arik, lalu dicampur dengan nasi. Sekarang semuanya menyatu. Nasi, rendang, bumbu, dan telur.
Aromanya semakin kuat, memenuhi dapur dengan wangi gurih yang bikin lapar.
—
Beberapa menit kemudian, Nara mematikan kompor.
“Dan… selesai!”

Dia memindahkan nasi goreng rendang ke piring, tampilannya sederhana tapi menggoda warna cokelat hangat dengan potongan rendang yang terlihat jelas di antara nasi.
Dito langsung berdiri. “Oke, gue tester.”
“Eh tunggu!” Nara buru-buru. “Gue belum closing.”
“Cepet.”
—
Nara kembali menghadap kamera.
“Jadi, ini dia nasi goreng rendang dari sisa Lebaran. Simpel banget kan?” Dia tersenyum.
“Caranya: suwir rendang, tumis bawang dan cabai, masukin rendang, tambahin nasi, kasih kecap dan telur, terus aduk sampai rata.” Nara mengacungkan jempol.
“Cobain di rumah, ya. Dijamin nggak bosen lagi makan rendang!”
Setelah itu, dia mematikan kamera.

“Sekarang gue makan,” kata Dito tanpa basa-basi.
“Silakan.” Balas Nara, Dito mengambil satu sendok, lalu mencicipi dan setelahnya dia terdiam dengan tangan yang masih mengenggam sendok.
Nara langsung tegang. “Gimana?”
Masih diam, rasa kesal kembali lagi memenuhi dirinya dan Nara berteriak pada Dito.”WOI!”
Akhirnya Dito mengangguk pelan. “Ini enak banget sih.”
Mata Nara melebar dan dia senyuman lebar muncul di wajahnya, “SERIUS?!”
“Serius. Ini kayak nasi goreng… tapi versi niat.” Nara tersenyum lebar atas komentar Dito.
“Ini bisa dijual,” tambah Dito.
Nara berhenti, “…hah?”
“Iya. Beneran. Anak komplek pasti suka.” Dito mengangguk, mengambil suapan lain.
Nara menatap piring di depannya. Nasi goreng rendang, dari sesuatu yang tadi dia anggap membosankan… jadi sesuatu yang baru.
“Mungkin…” katanya pelan, “ini bisa jadi ide.”
—
Malam itu, Nara mengunggah videonya. Dia tidak berharap banyak. Paling hanya ditonton teman-temannya.
Tapi keesokan paginya—
“NA-RA!” Ibunya berteriak dari ruang tamu. Nara mengerang seraya meraba kupingnya yang jadi korban suara melengking ibunya itu, “Apa sih, Bu…”
“Kamu viral!”
Nara langsung terbangun dan berlari keluar.
Video itu sudah ditonton puluhan ribu orang. Komentarnya ramai, penuh orang-orang yang ingin mencoba resepnya. Nara hanya bisa bengong.
“…ini beneran?”
Dito muncul sambil tersenyum. “Gue bilang juga apa.”
Sejak hari itu, dapur rumah Nara jadi lebih hidup.
Kadang berantakan, kadang penuh tawa, tapi selalu ada sesuatu yang baru. Dan di antara semua eksperimen itu, nasi goreng rendang tetap jadi favorit.
“Na, bikinin lagi dong,” kata ibunya.
“Bayar,” jawab Nara santai.
“Dasar mata duitan.”
“Gue investor pertama ya,” tambah Dito,“Modal lo cuma komentar nyebelin.”
“Tapi efektif.”Nara tertawa kecil.
Kadang sesuatu yang sederhana seperti sisa rendang bisa berubah jadi hal baru, asal kita mau mencoba.
Tamat.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.