Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Centang Biru

Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia

Bagi Dika, horor paling nyata di abad ke-21 bukanlah hantu di sekolah, melainkan dua garis centang biru yang muncul tanpa balasan selama tiga jam berturut-turut.

Centang Dua Warna Biru

Dika duduk bersandar di kursi belajarnya, lampu kamar yang terang benderang menerangi tumpukan buku yang berserakan. 

Jarum jam baru menunjukkan pukul 18:22 malam, tapi bagi Dika, suasana sudah terasa menegangkan sejak ia menekan tombol “Kirim” di ponselnya.

“Eh, tadi tugas Pak Bambang halaman 40 atau 50 ya? Hehe 🤡.”

Dika meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, seolah benda itu bisa meledak kapan saja. Ia mencoba fokus pada buku paket di depannya, tapi pikirannya melayang ke arah Lala. 

Detik-detik menunggu pesan itu dibaca terasa seperti adegan suspense di film horor, di mana sang tokoh utama menahan napas di balik lemari sambil menunggu sang monster lewat. 

Ketika ia memberanikan diri mengintip layar, jantungnya hampir copot. Dua centang abu-abu itu baru saja berubah menjadi biru. Biru yang penuh misteri.

Dilema Tanda Terbaca

Satu menit… lima menit… sepuluh menit berlalu tanpa ada balasan. 

Dika mulai membaca dengan serius pesannya sendiri. “Kenapa gue pakai emoji badut?!” gerutunya sambil memukul dahi pelan. 

“Mampus! Mampus! Mampus!” Ia membayangkan Lala sedang menatap layar dengan tatapan menghakimi, menganggap Dika adalah cowok aneh yang berusaha melucu di waktu yang salah. 

Di kepalanya, Lala mungkin sedang berada di sebuah kafe bersama teman-temannya, tertawa terpingkal-pingkal sambil memamerkan pesan “badut” miliknya sebagai bahan lelucon malam itu.

Kecemasan Dika mencapai puncaknya setelah tiga jam tanpa kepastian. Ia mulai menyusun skenario ekstrem di kepalanya: besok ia akan datang ke sekolah dengan masker dan kacamata hitam, atau mungkin sekalian saja pindah sekolah dan masuk pesantren di luar kota agar tidak perlu bertemu Lala lagi. 

Entah bagaimana merasa identitasnya sudah hancur, terkubur di bawah puing-puing centang biru yang tak kunjung dibalas. 

Baginya, diabaikan oleh Lala adalah kiamat kecil yang lebih menakutkan daripada ujian nasional.

Lampu Hijau di Balik Centang Biru

Tepat saat Dika hampir menyerah dan berniat menghapus aplikasi pesannya, sebuah notifikasi muncul. Layar ponselnya berpijar, menampilkan nama Lala. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bro membuka pesan itu.

Dika terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan. Semua rencana pelarian ke pesantren dan ganti identitas langsung menguap seperti embun.

Ternyata, “monster” yang ia takuti hanyalah rasa kantuk seorang gadis di jam yang masih cukup sore. Ternyata, emoji badut yang ia kutuk justru menjadi jembatan manis yang membuatnya terlihat humoris di mata Lala. 

Bro tersenyum lebar, jempolnya kembali menari di atas layar, kali ini tanpa rasa takut sedikit pun.

Bijaklah Menyikapi Status Centang Biru

Dari cerita Dika, mengingatkan kita bahwa fitur centang biru tidak seharusnya menjadi sumber stres. Jangan biarkan asumsi merusak harimu.

Sekarang letakkan ponselmu sejenak dan berhentilah menatap centang biru yang belum terbalas. Gunakan waktumu untuk kegiatan yang lebih produktif daripada sekadar menunggu balasan yang pasti akan datang pada waktunya!

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3