Penulis: Gusti Muhammad Yashir
“Untir sayang, bantu Uma mengolesi nastar yum! Uma tahu kamu jago banget kalau urusan ini,” ujar ibunya sambil tersenyum, menyerahkan kuas yang sudah dibasahi kuning telur.
Dengan tangan kecilnya yang sedikit lengket, Untir menerima kuas itu. Jemarinya yang masih basah oleh liur menyentuh gagang kuas, membuat permukaannya berkilau diterpa sinar yang menyusup dari balik teralis dapur.
“Masa udah gede masih minum dodot sih, Ntir-Ntir…” goda ibunya dengan nada lembut, sembari menyiapkan dodot kesayangan Untir. Tawa kecilnya mengiringi, sementara peluh mulai menghiasi pelipisnya.
Untir mulai mengolesi nastar dengan perlahan dan penuh konsentrasi. Aroma manis selai nanas menggoda hidungnya, sesekali ia menjilat bibir seakan merasakan manisnya. Meski usianya masih muda, Untir selalu memperhatikan ibunya bekerja. Ibunya sangat bersyukur memiliki seseorang yang dapat menemaninya bekerja, setelah bapak untir pergi ke sang pencipta tiga bulan yang lalu akibat kecelakaan beruntun saat mengantar pesanan.
Ibunya kembali, kali ini membawa dodot yang diminta Untir. Bocah itu pergi ke kamar, mengambil dua bantal kecil berwarna merah jambu bergaris putih yang tadi siang ia pakai tidur. Ia kembali ke dapur dan menghempaskan bantal itu di samping ibunya, sekejap saja tubuh mungilnya sudah berbaring di salah satu bantal. Satu bantal lagi diselipkan di belakang punggung, membuatnya nyaman sambil memerhatikan ibunya bekerja.
Perlahan, suara kuas menyapu permukaan nastar berubah menjadi lullaby bagi Untir. Kelopak matanya berat, dan tanpa disadari, ia terlelap di samping ibunya yang masih sibuk memasukkan kue nastar ke dalam oven.

Saat menunggu nastar matang, ibunya menyiapkan perlengkapan lain dan baru teringat obat yang harus diminumnya tadi siang. Segera ia mengambil obat itu dari atas dispenser dapur dan meminumnya, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Empat menit berlalu. Aroma nastar yang matang memenuhi ruangan, dan sang ibu hati-hati mengeluarkan loyang dari oven. Permukaan nastar yang kuning cerah berkilau seakan memancarkan kebahagiaan sederhana di dapur itu. Hidung Untir bergerak-gerak lucu seperti di film-film kartun yang sering ditontonnya di televisi tetangga, seolah-olah mencium aroma kesukaannya itu—kue nastar dari ibu.
Namun, Untir terbangun bukan karena aroma nastar, melainkan rasa lembut yang menyentuh bahunya. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di ruang jaga koas. Seketika, dunia hangat bersama ibunya menghilang. Cahaya sore yang menyelimuti dapur berubah menjadi lampu putih dingin yang meresap dari plafon.
Udara terasa berat. Hati Untir mencelos, tenggorokannya tercekat oleh gumpalan rindu yang mendadak menyeruak. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata yang akhirnya tumpah juga. Rindu itu nyata dan menyakitkan. Rindu pada ibu—sosok sederhana yang selalu tampak kuat meski menyembunyikan penyakit di balik senyum dan peluhnya.
Waktu kecil, Untir hanya berpikir untuk melanjutkan pekerjaan ibu—berjualan kue. Ia tidak pernah peduli untuk menjadi apa dia nanti selain itu.
Hingga suatu saat, sore itu matahari mulai meredup, Untir masuk ke dapur dengan riang. Ia hendak menunjukkan gambar hasil karyanya di sekolah—gambar dirinya dan ibunya sedang membuat nastar bersama. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.

Ibunya tampak tertidur, duduk bersandar pada dinding dapur dengan loyang nastar di sampingnya. Kuas olesan masih tergenggam lemah di tangan kanan, dan beberapa nastar belum selesai diolesi. Ada keheningan yang terasa berbeda—tidak ada tawa lembut atau suara panggilan khas dari ibunya.
“Uma…,” panggil Untir pelan, melangkah mendekat. Tidak ada jawaban. Bocah itu menyentuh pundak ibunya dengan ragu. “Uma, bangun… nastarnya belum selesai.”
Namun ibunya tetap terdiam. Untir mengguncang pelan bahu itu, namun tubuh ibunya tetap tak bergerak. Pucat. Dingin. Mata yang biasanya hangat kini terpejam dengan tenang.
“Uma… jangan tidur dulu… Uma…,” suara Untir mulai bergetar. Air mata mengalir tanpa diminta, membasahi pipinya yang kemerahan. Gambar yang dibawanya tadi terjatuh ke lantai, terserak di antara peralatan kue dan loyang.
Untir terduduk di samping ibunya, memeluk tubuh itu erat-erat, berharap kehangatan yang biasa ia rasakan akan kembali. Tapi tidak. Semuanya terasa begitu asing dan sunyi.
Tangisnya pecah. Tangis seorang anak kecil yang belum mengerti kenapa orang yang paling ia sayangi tak lagi bangun. Di tengah isakannya, tetangga yang mendengar keributan datang menghampiri. Mereka segera menghubungi bantuan, namun dalam hati kecil Untir, ia tahu bahwa ibunya sudah pergi—pergi dengan senyuman terakhirnya.
Hari itu, Untir kehilangan dunia kecilnya—dapur yang selalu penuh kehidupan kini terasa kosong. Dan di sana, di samping tubuh ibunya yang terpejam, ia berjanji akan melanjutkan kebaikan yang selalu diajarkan ibunya—berjuang menjadi dokter yang bisa merawat orang-orang seperti ibunya, yang begitu kuat dan penuh kasih hingga akhir hayatnya
Waktu berlalu. Kini, Untir berada di ruang jaga, Ramadan kali ini terasa begitu berbeda. Tanpa ibu. Tanpa nastar hangat. Tanpa senyum yang menyelimuti harinya. Tapi Untir tahu, ibu tak pernah benar-benar pergi. Ia ada di dalam hati, menguatkan setiap langkahnya.
Menatap langit malam dari balik jendela ruang jaga, Untir berdoa dalam diam. Ia tahu jalan ini tak mudah—menjadi dokter bukan hanya tentang gelar atau kebanggaan, tapi tentang pengabdian pada kebaikan yang diajarkan ibunya. Setiap langkah adalah warisan kasih sayang itu—menolong yang lemah, merawat yang terluka, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang hampir menyerah.
Di dalam hatinya, Untir berjanji akan terus berjuang—karena itulah cara terbaik mencintai dan mengenang ibu yang telah pergi.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.