Penulis: Aurora Dzkiyyh
“SAHUR, SAHUR, SAHURR,” Teriakan anak-anak kompleks menggema sayup-sayup, berpadu dengan dentuman galon yang dipukul sembarangan. Kebisingan itu menyebar ke setiap rumah, membangunkan penghuninya satu per satu—termasuk Dira, yang masih berusaha tersadar dari tidur lelapnya yang panjang.
“Raka! Dira! Ayoo sahurr,” panggil ayah dari bawah.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Dira bergegas turun ke bawah untuk menyantap menu sahur buatan bunda tercinta. Ketika melihat ke meja makan, matanya tertuju pada satu cookies besar didalam toples berwarna merah muda, ia mengambil dan menyisihkannya untuk dimakan nanti.
“Cuci muka dulu Dira, hari ini hari pertama kamu sekolah di bulan ramadan, jangan sampai telat lohh,” kata bunda.
“Iyaa Bunda,” balas Dira sembari berjalan ke kamar mandi.
Setelah selesai mencuci muka dan sikat gigi, Dira memulai sahurnya di meja makan bersama ayah, ibu, dan kakaknya. Selang beberapa saat Dira menyadari cookies yang Ia sisihkan sudah tidak ada lagi. Dia sangat kesal, masih pagi namun emosi dalam dirinya sudah tidak dapat terbendung. Dira langsung menatap tajam seseorang yang sudah dipastikan telah memakan cookiesnya tersebut.
“COOKIESKU MANA?!” teriaknya kepada kak Raka.

“Hah? Loh itu punyamu kah? Kakak kira gaada yang punya, jadi kakak makan aja tadi,” kata kak Raka santai.
“HIHHH BALIKIN GAKK?! HUAAAH ITU PUNYAKUU! KAKAK BIKIN DIRA KESELL!” Dira berteriak dramatis, rasanya ingin mengobrak-abrik meja makan di depannya ini.
“DIRA!” bentak ayah, “Dira, kita lagi sahur. Tolong jangan ribut-ribut di depan meja makan,” sahut ibu.
“KALIAN SEMUA SAMA SAJAA, Dari dulu kakak melulu yang dibela. Kalian lebih sayang dia daripada aku! Aku gamau punya kakak kaya Raka, dia jahat!” Teriak Dira menangis sesenggukan sambil berlari ke dalam kamar. Bocah berusia 10 tahun ini masih kesulitan untuk mengendalikan emosinya dengan baik. Ia bersembunyi di balik selimut, enggan melanjutkan sahur dengan orang-orang yang dia anggap jahat.
Beberapa jam kemudian…
Tanpa Dira sadari, matahari menyusup ke dalam kamarnya melalui sela-sela jendela. Gawat, Dira bangun kesiangan! Ia bersegera mengambil air wudhu sekaligus mandi dan salat subuh. Sesudah itu dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, amarahnya sudah sedikit reda dibandingkan saat sahur tadi. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 06.20 dengan cepat Dira bergegas keluar dari kamar.
“Dira hari ini berangkat sama kak Raka ya, yang akur dong kalian.. Marah-marah terus pas puasa, nanti dapet lapar dan hausnya doang loh. Kakak udah nungguin tuhh,” kata Ibu tersenyum tipis.
“Huh, yaudah cepet anterin keburu Dira telat,” kata Dira cuek kepada Kak Raka.
Mereka berpamitan kepada Ibu di depan rumah. Motor Kak Raka melesat meninggalkan halaman rumah. Selama perjalanan mereka tidak bercakap apapun, hening tanpa sepatah kata, disibukkan dengan pandangannya masing-masing.
10 menit berlalu, kira-kira 50 meter lagi mereka segera tiba di sekolah Dira. Saat motor Kak Raka hendak berbelok ke kiri, tiba-tiba—”Brakk!!” Sebuah motor melaju kencang menghantam mereka dari belakang. Benturan keras mengoyak keheningan. Kak Raka dan Dira terpelanting, tubuh mereka menghantam aspal dengan kasar. Sementara itu, si pelaku hanya sekilas menoleh sebelum menancap gas dan menghilang di kejauhan. Napas Dira tercekat, mereka syok atas kejadian barusan. Beberapa warga sekitar membantu mereka untuk menepi ke pinggir jalan.

“DIRAA!! Kamu gapapa? Kamu masih sadar? Dirr, kita ke rumah sakit ya??” kata kak Raka khawatir memegang lengan adiknya.
“Ngga usah kakk Raka, kita langsung ke sekolah ajaa. Biar diobatin guruku di sana,” balas Dira yang berusaha tegar.
Mereka segera melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam sekolah. Kak Raka menceritakan kejadian barusan kepada guru yang berjaga. Para guru terkejut melihat Dira dengan luka-luka di lengan dan kakinya, bahkan roknya sobek akibat gesekan aspal. Beberapa guru mengarahkan Dira dan Raka untuk mendapat perawatan di UKS. Dira terduduk di atas ranjang sambil melamun, sementara Kak Raka terus khawatir akan keadaan Dira.
“Pak, minta tolong Dira terluka di bagian lengan sini. Kedua kakinya juga terluka. Dir sakit yaa? Lukanya habis ini disembuhin bapaknya kok,” hibur kak Raka.
Tiba-tiba Dira menangis, bukan disebabkan rasa sakit dari lukanya. Namun ia menangisi keadaan Kak Raka, ia terus menghibur Dira tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Telapak tangan kak Raka berlumuran darah, pipinya yang mulus kini terluka, Dira tidak tega melihat kakaknya seperti itu.
“Nak, tangan kamu berdarah juga loh. Sterilkan dulu yuk terus bapak bantu perbankan sini,” kata salah satu guru. Kak Raka baru menyadari tangannya berlumuran darah, ia terlalu fokus pada keadaan Dira hingga tidak dapat merasakan sakitnya luka tersebut. Keduanya sudah selesai dirawat oleh beberapa guru, Dira pun menyeletuk
“Maafin Dira kak, ternyata jadi seperti ini.”
“Kak Raka yang minta maaf, harusnya lebih berhati-hati lagi kalau nyetir motor. Kakak takut Dira terluka parah… Oh dan ini kakak beliin kamu cookies, langsung dimakan pas buka puasa nanti ya. Sekali lagi maaf udah makan cookies-nya Dira tadi pagi,” ujar kak Raka sembari menyerahkan beberapa bungkus cookies dari dalam kantong jaketnya.
“Ya ampun..kakak beli itu kapan?”
“Sebelum anter kamu sekolah, kakak pergi sebentar ke warung Bu Nul. Maafin kakak kalau udah nyakitin kamu,” Kata kak Raka sendu.
Air mata Dira tak terbendung, dengan isak tangis yang pecah, Ia memeluk erat kak Raka. Ternyata, Kak Raka begitu menyayanginya, bahkan sampai merasa perlu bertanggung jawab atas sepotong cookies yang telah dimakannya. Dira menyesali sikapnya kepada kak Raka sewaktu sahur tadi.
“Maaf, Kak… Dira benar-benar minta maaf… Aku sudah menyakiti hati Kakak… Aku salah! Kakak nggak jahat… Kak Raka itu kakak terbaik yang aku punya…” kata Dira sesenggukan. Kak Raka mengangguk dan tersenyum kecil, ia memeluk erat serta mengecup lembut kepala Dira. Ia ingin selalu ada, menjaga Dira sepenuh hati hingga adiknya cukup dewasa untuk berdiri sendiri. Di sisi lain pelukan hangat kak Raka menyadarkan Dira akan kesalahan yang telah diperbuatnya. Dira berjanji akan menjaga lisan serta tidak lagi menyakiti perasaan Kakak tersayangnya tersebut.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.