Skip to main content

Majalah Sunday

Hammurabi Code: Asal Mula Hukum?

Penulis: Adit Raffi Saputra – Universitas Bina Sarana Informatika

Ribuan tahun lalu, sebuah prasasti batu berisi ratusan ketentuan hukum dibuat di Babilonia. Prasasti itu bukan sekadar peninggalan peradaban kuno, tetapi juga menyimpan kisah tentang kekuasaan, keadilan, dan bagaimana seorang raja berusaha melegitimasi pemerintahannya. Kini, prasasti tersebut dikenal sebagai Hammurabi Code dan menjadi salah satu artefak hukum paling terkenal di dunia.

Namun, ada sejumlah hal menarik di baliknya. Mengapa seorang raja menggambarkan dirinya berhadapan dengan dewa keadilan? Mengapa prasasti yang berasal dari Babilonia justru ditemukan di wilayah Iran modern? Dan apakah kumpulan hukum ini benar-benar dibuat untuk melindungi rakyat, atau juga menjadi alat untuk memperkuat kekuasaan sang raja?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka sisi sejarah Hammurabi Code yang lebih kompleks. Meski berbagai teori konspirasi dapat terdengar menarik, fakta arkeologis dan penelitian sejarah tetap perlu dibedakan dari dugaan yang belum terbukti.

Prasasti Hukum yang Ditemukan Jauh dari Asalnya

Prasasti Hammurabi Code berwarna hitam yang dipamerkan di museum, berisi kumpulan hukum kuno dari peradaban Babilonia.

Hammurabi Code dibuat pada masa pemerintahan Raja Hammurabi dari Babilonia, sekitar abad ke-18 SM. Prasasti setinggi sekitar 2,25 meter ini memuat 282 ketentuan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk perdagangan, keluarga, kepemilikan, dan tanggung jawab atas kerugian. Prasasti aslinya kini disimpan di Museum Louvre, Paris.

Salah satu misteri sejarahnya berkaitan dengan lokasi penemuan prasasti tersebut. Hammurabi memerintah Babilonia, yang berada di wilayah Irak modern, tetapi prasasti ini ditemukan di Susa, sebuah kota kuno yang sekarang berada di Iran. Penemuan itu terjadi dalam ekspedisi arkeologi pada 1901–1902.

Apakah prasasti tersebut sengaja dipindahkan? Bukti sejarah menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin, bukan sekadar spekulasi. Berabad-abad setelah masa Hammurabi, Raja Shutruk-Nahhunte dari Elam menaklukkan Babilonia dan membawa sejumlah monumen dari wilayah tersebut ke Susa. Prasasti Hammurabi diperkirakan termasuk benda yang dibawa dalam peristiwa itu, sekitar abad ke-12 SM.

Perpindahan ini memberikan pertanyaan menarik: jika prasasti tersebut merupakan simbol hukum dan kekuasaan Babilonia, mengapa seorang penguasa asing membawanya pulang? Salah satu penjelasan yang diajukan para peneliti adalah bahwa penguasaan atas monumen kerajaan dapat menjadi simbol kemenangan dan legitimasi politik. Dengan memiliki monumen penguasa yang ditaklukkan, seorang raja dapat menunjukkan bahwa ia telah mengambil alih sebagian dari kewibawaan pendahulunya.

Jadi, kisah perpindahan prasasti ini bukan bukti adanya konspirasi tersembunyi, melainkan gambaran bagaimana benda bersejarah dapat digunakan sebagai simbol kekuasaan bahkan setelah penguasa pembuatnya telah lama meninggal.

Apakah Hammurabi Code Merupakan Alat Propaganda Raja?

Relief pada prasasti Hammurabi Code yang menggambarkan Raja Hammurabi berdiri di hadapan Shamash, dewa keadilan dalam kepercayaan Babilonia kuno.
Relief pada prasasti Hammurabi Code yang menggambarkan Raja Hammurabi berdiri di hadapan Shamash, dewa keadilan dalam kepercayaan Babilonia kuno.

Bagian paling menarik dari Hammurabi Code mungkin justru bukan hukum yang tertulis di dalamnya, melainkan gambar pada bagian atas prasastinya. Relief tersebut memperlihatkan Hammurabi berdiri di hadapan Shamash, dewa matahari yang berkaitan dengan keadilan dalam kepercayaan Mesopotamia. Shamash digambarkan duduk di takhta sambil memegang lambang kekuasaan.

Gambaran ini menimbulkan pertanyaan: apakah Hammurabi benar-benar ingin menegakkan keadilan, atau ia menggunakan agama untuk membuat kekuasaannya lebih sulit dipertanyakan?

Dalam masyarakat Babilonia kuno, agama dan pemerintahan memiliki hubungan yang erat. Penguasa dapat menggunakan keyakinan terhadap para dewa untuk memperkuat legitimasi pemerintahannya. Dengan menampilkan dirinya di hadapan Shamash, Hammurabi seolah menegaskan bahwa kewenangan dan keputusan hukumnya memiliki dasar ilahi.

Di sinilah muncul interpretasi yang menarik. Hammurabi Code dapat dipandang bukan hanya sebagai kumpulan hukum, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi politik. Prasasti monumental yang memuat aturan kerajaan menyampaikan pesan bahwa sang raja adalah penguasa yang bertanggung jawab menjaga ketertiban dan menjalankan keadilan.

Apakah ini Berarti Hammurabi Code Merupakan Propaganda?

Dalam pengertian bahwa monumen tersebut turut membangun citra dan legitimasi seorang penguasa, interpretasi itu memiliki dasar akademis. Namun, menyebutnya sebagai konspirasi untuk menipu seluruh rakyat akan melampaui bukti yang tersedia. Kita tidak bisa mengetahui seluruh niat Hammurabi hanya dari sebuah relief.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah bahwa hukum-hukum tersebut tidak memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang. Beberapa ketentuan membedakan hukuman berdasarkan status sosial. Ini memperlihatkan bahwa gagasan keadilan pada masa itu berjalan berdampingan dengan struktur masyarakat yang bertingkat.

Ada pula perdebatan ilmiah yang lebih spesifik mengenai prasastinya. Penelitian yang terbit pada Maret 2026 membahas ketidakpastian lama mengenai bahan batu prasasti Louvre: apakah benar basalt atau diorit. Perbedaan identifikasi ini menunjukkan bahwa bahkan artefak yang telah diteliti selama lebih dari satu abad masih menyisakan pertanyaan ilmiah.

Dengan demikian, misteri terbesar Hammurabi Code bukanlah bukti bahwa sejarah sengaja disembunyikan. Justru, semakin banyak kita mempelajarinya, semakin jelas bahwa sebuah artefak dapat memiliki banyak lapisan makna: sebagai dokumen hukum, simbol keagamaan, dan alat legitimasi politik.

Produk Rekomendasi Sunday

Kesimpulannya Hammurabi Code bukan sekadar kumpulan hukum kuno, melainkan peninggalan yang menyimpan kisah tentang perebutan kekuasaan, hubungan antara agama dan pemerintahan, serta cara masyarakat Babilonia memahami keadilan. Perpindahan prasastinya ke Susa memperlihatkan bagaimana monumen dapat menjadi simbol kemenangan, sementara relief Hammurabi dan Shamash memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat dikaitkan dengan kewenangan ilahi.

Meski demikian, tidak semua pertanyaan yang muncul harus dijawab dengan teori konspirasi. Sejarah yang diketahui melalui prasasti, catatan kuno, dan penelitian arkeologi sudah cukup menarik tanpa perlu menambahkan klaim yang tidak memiliki bukti.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Hammurabi Code bukan hanya apakah kumpulan hukum ini merupakan asal mula hukum, melainkan juga bagaimana hukum dapat digunakan untuk menegakkan keadilan sekaligus memperkuat kekuasaan. Dan pertanyaan itu masih relevan hingga sekarang.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 4