Skip to main content

Majalah Sunday

Friendship Breakup Gara-Gara Pacar, Siapa yang Harus Mengalah?

Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia

Friendship breakup atau putus pertemanan sebenarnya meninggalkan rasa sakit yang tidak kalah pedih dari patah hati karena asmara. Kehilangan sahabat dapat menyisakan banyak pertanyaan, terlebih ketika hubungan merenggang tanpa pertengkaran atau alasan yang jelas. 

Namun, bagaimana jika persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun justru berakhir karena kehadiran pacar yang tidak suka melihat pasangannya dekat dengan orang lain? Alih-alih menyelesaikan persoalan di antara mereka, sahabatmu malah diminta menjauh, menghapus kontak, atau memutus hubungan dengan teman-teman yang dianggap mengancam hubungan asmaramu.

Lalu pada akhirnya, siapa yang harus mengalah?

Cemburu Buta yang Berujung Konflik

Ketika mulai menjalin hubungan asmara, perubahan prioritas memang sulit dihindari. Apakah kamu pernah melihat seorang teman yang perlahan menghilang setelah memiliki pasangan. Ia mulai semakin jarang membalas pesan dan menolak ajakan bertemu, hingga interaksi sederhana di media sosial pun menjadi persoalan?

Awalnya, perubahan itu mungkin terlihat wajar. Bisa jadi, temanmu memang sedang ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasangannya. Namun, coba perhatikan ketika ia mulai menjauh karena takut pacarnya marah. Kedekatan dengan sahabat yang sudah berlangsung bertahun-tahun mulai dipertanyakan, terutama jika sahabat tersebut berlawan jenis, misalnya.

Kecemburuan menjadi persoalan ketika dipakai untuk membuat pasangan merasa bersalah setiap kali menolak permintaan atau memilih menghabiskan waktu bersama sahabat. Cara ini dikenal sebagai guilt-tripping. Dalam situasi yang lebih serius, pasangan dapat memanipulasi keadaan hingga pihak yang dikontrol meragukan penilaian atau persepsinya sendiri yang dikenal sebagai gaslighting.

Lantas, apa yang terjadi ketika pasangan terus-menerus mempermasalahkan pertemanan? Demi menghindari pertengkaran, ada yang akhirnya memilih mengurangi komunikasi, menghapus nomor kontak, atau berhenti mengikuti akun media sosial sahabatnya. Bahkan, memblokir sahabat pun dianggap sebagai bukti kesetiaan.

Ilustrasi friendship breakup akibat pasangan posesif
Ilustrasi friendship breakup (magnific.com/Viktor Prazis)

Anticipatory Compliance, Menjauh sebelum Diminta

Tidak semua orang menjauh karena pasangannya secara langsung melarang mereka berteman. Ada pula yang mulai membatasi interaksinya sendiri karena sudah mengantisipasi kemarahan atau kecurigaan pasangan. Ini disebut anticipatory compliance, yaitu kecenderungan menyesuaikan perilaku dengan tuntutan yang diperkirakan akan muncul, bahkan sebelum tuntutan tersebut disampaikan secara langsung.

Dimulai dari pesan dari sahabat yang sengaja ditunda balasannya, ajakan bertemu ditolak, dan interaksi di media sosial dikurangi agar tidak memicu pertengkaran. Lama-kelamaan, tindakan yang awalnya dilakukan untuk menghindari konflik dapat menjadi kebiasaan. Pasangan tidak perlu lagi melarang setiap pertemuan karena rasa takut terhadap reaksinya sudah memengaruhi keputusan sehari-hari.

Perspektif Dua Sisi

 Pihak yang terjebak dalam hubungan toxic mengalami konflik batin karena terjepit di antara dua loyalitas. Mereka merasa tidak nyaman dengan kontrol yang diberikan, tetapi sering kali terjebak dalam fase penyangkalan (denial) atau rasa takut kehilangan pasangan.

Sebaliknya ,dari sisi sahabat yang dijauhi, perubahan ini mungkin terlihat seperti hilangnya minat untuk berteman. Muncul rasa bingung karena diabaikan, hingga kekecewaan mendalam akibat perubahan sikap yang mendadak tertutup, sering membatalkan janji, atau menarik diri. Keadaan ini juga menempatkan sahabat dalam posisi serba salah. Mereka dihadapkan pada dilema antara ingin menegur atau mundur demi menjaga batasan privasi. Namun, kekhawatiran dianggap mencampuri urusan asmara membuat mereka memilih diam.

Mengapa Friendship Breakup Ini Terasa Menyakitkan?

Hilangnya safe space menjadi pukulan telak karena tempat bertukar cerita dan pikiran kini mendadak berjarak. Keyakinan bahwa persahabatan akan bertahan lebih lama dibanding hubungan asmara tiba-tiba tergerus oleh situasi. 

Selain itu, ketiadaan closure atau konklusi yang jelas membuat proses merenggangnya hubungan terasa menggantung karena terjadi tanpa percakapan penutup atau penyelesaian masalah yang tuntas.

Ilustrasi dua sahabat yang mengalami friendship breakup
Friendship breakup menjadi dampak ketika urusan asmara yang posesif mulai memengaruhi lingkaran pertemanan. (pexels.com/cottonbro studio)

Lalu, Bagaimana Menyikapinya?

Jika kamu adalah sahabat yang mulai dijauhi, cobalah membuka percakapan tanpa langsung menghakimi pasangan temanmu. Sampaikan perubahan yang kamu rasakan dan bahwa kamu merindukan kedekatan kalian. Beri ruang baginya untuk bercerita tanpa memaksanya segera mengambil keputusan. Jika ia belum siap membicarakan masalahnya, kamu tetap bisa menunjukkan bahwa kamu bersedia mendengarkan ketika ia membutuhkan bantuan.

Kamu juga berhak menjaga perasaan dan menentukan batasan sendiri. Beri kesempatan bagi sahabatmu untuk memperbaiki hubungan, tetapi jangan mengabaikan kebutuhanmu hanya karena ingin mengembalikan kedekatan seperti dahulu.

Jika kamu adalah pihak yang menjauhi sahabat karena pasangan, coba perhatikan alasan di balik keputusanmu. Perasaan tidak nyaman dalam hubungan perlu dibicarakan, tetapi tidak semestinya selalu diselesaikan dengan memutus hubungan sosial.

Kamu juga bisa mulai memperbaiki komunikasi dengan sahabat. Kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali, dan sahabatmu pun berhak menentukan apakah ia siap memperbaiki hubungan denganmu.

Jika pasangan terus mengontrol pergaulan, mengancam, atau membuatmu takut untuk mengambil keputusan sendiri, jangan ragu mencari dukungan dari orang tepercaya.

Asmara Tidak Harus Mengorbankan Persahabatan

Menjalin hubungan asmara memang membawa perubahan, misalnya membagi prioritas, waktu, dan batasan bersama yang perlu dibicarakan. Namun, perubahan itu berbeda dengan tuntutan untuk meninggalkan sahabat demi membuktikan kesetiaan.

Pasangan boleh menyampaikan rasa cemburu dan kekhawatirannya, tetapi keduanya perlu dibicarakan melalui komunikasi dan rasa saling percaya yang bukan keputusan sepihak. Hubungan sehat memberi ruang bagi masing-masing pihak untuk mempertahankan kehidupan pribadi dan hubungan sosialnya.

Ilustrasi persahabatan yang tetap terjaga untuk menghindari friendship breakup akibat pacar posesif
Friendship breakup tidak seharusnya berakar dari sikap posesif pasangan. (pexels.com/Min An)

Produk Rekomendasi Sunday

Apabila kedekatan dengan sahabat mulai dipersoalkan, penting untukmu melihat kembali batas antara kompromi dan kontrol. Jangan sampai upaya mempertahankan satu hubungan membuatmu kehilangan hubungan lain yang juga berarti. Sebab, mencintai pasangan tidak seharusnya mengharuskanmu menjauh dari semua orang yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari hidupmu.

Jadi, pernahkah kamu mengalami hal serupa, baik sebagai sahabat yang ditinggalkan maupun sebagai orang yang mulai menyadari ruang geraknya terkekang oleh pasangan?

Yuk, mulai berani mengenali batasan dalam hubungan dan tetap jaga persahabatan yang selama ini berarti buatmu. Jangan sampai, demi mempertahankan asmara, kamu justru kehilangan orang-orang yang selalu ada untukmu.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 4