Majalah Sunday

Wajah Seram, Makna Dalam: Mengenal Ondel-Ondel Lebih Dekat

Aqilla Barki Firdaus – Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta

Ondel-ondel merupakan ikon khas Betawi yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jakarta. Boneka raksasa ini biasanya tampil dalam berbagai acara adat, pawai budaya, hingga perayaan hari besar. Dengan wajah besar berwarna mencolok, pakaian adat Betawi yang meriah, serta iringan musik tanjidor yang riuh, ondel-ondel menjadi simbol semangat dan keceriaan masyarakat Betawi. Namun, di balik tampilannya yang megah dan unik, ikon ini menyimpan nilai budaya yang dalam dan menjadi representasi identitas warga Betawi yang mencintai tradisi leluhurnya.

Tradisi Betawi yang Berjuang di Tengah Modernisasi Kota

Dalam kehidupan masyarakat kota yang terus berubah, muncul pandangan berbeda tentang ondel-ondel yang kini sering digunakan untuk ‘ngamen’ di jalanan. Sebagian orang justru melihat keberadaannya di jalanan sebagai bentuk kreativitas masyarakat dalam menjaga warisan budaya Betawi agar tetap dikenal. Mereka beranggapan bahwa dengan cara ‘ngamen’, ikon Betawi ini bisa tampil lebih dekat dengan masyarakat luas, terutama anak-anak dan remaja yang mungkin jarang menghadiri acara adat. Bagi mereka, ini adalah cara agar tradisi tidak hilang di tengah hiruk-pikuk kota modern. 

“Berguna banget sih adanya orang yang yang ngamen pake ondel-ondel gitu. Karena kan saya lumayan sibuk kerja jadi susah juga kalau ajak anak ke acara-acara yang berbau adat Betawi. Nah karena anak saya sering diajak jalan-jalan sore sama ibunya, dia jadi tau apa itu ondel-ondel.” Ucap Riza (31), pengunjung supermarket di Pondok Aren, Tangerang Selatan. 

Namun di sisi lain, banyak juga yang menilai bahwa penggunaan ondel-ondel untuk mengamen justru menurunkan nilai budayanya. Boneka besar yang dulunya tampil dalam acara sakral kini dianggap kehilangan makna karena hanya dijadikan alat mencari uang. Salah satu alasan ondel-ondel dianggap kehilangan maknanya jika dijadikan bahan alat pencari uang adalah menggunakan lagu yang bukan dari daerah Betawi. 

“Sebenernya kurang setuju sih sebagai orang Betawi asli kalau liat ondel-ondel di jalan denger ga pake lagu dari Betawi kayak buat apa sih? Malah pake lagu jedag-jedug lah. Udah kadang halangin jalan gak pake lagu adat Betawi pula.” Ucap Keysha Azahra (21), salah satu mahasiswa di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan. Perdebatan ini menunjukkan bagaimana budaya tradisional kadang harus berjuang untuk tetap hidup di tengah realitas sosial dan ekonomi kota besar yang serba cepat.

Di balik wajah seramnya, ternyata ondel-ondel punya makna mendalam dan sejarah keren yang jadi kebanggaan budaya Betawi, lho!

Selain itu, menariknya, reaksi masyarakat terhadap ondel-ondel juga beragam. Banyak anak kecil yang merasa gembira dan penasaran saat melihat boneka raksasa ini menari diiringi musik tanjidor. Namun, tidak sedikit juga anak-anak, bahkan remaja, yang justru takut melihatnya. Wajah besar dengan ekspresi tajam, suara musik yang keras, serta kemunculannya yang tiba-tiba di jalanan tanpa konteks budaya yang jelas sering kali menimbulkan rasa canggung dan ketakutan. Hal ini bisa dimaklumi karena ondel-ondel kini lebih sering muncul di ruang publik yang tidak lagi menonjolkan nilai tradisinya, melainkan sekadar sebagai hiburan jalanan. Padahal, bila dipahami maknanya, ondel-ondel bukanlah sosok menakutkan, melainkan pelindung yang membawa pesan positif bagi masyarakat.

Di balik wajah seramnya, ternyata ondel-ondel punya makna mendalam dan sejarah keren yang jadi kebanggaan budaya Betawi, lho!
(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Sejarah Ondel-Ondel dan Makna Awal Mulanya

Lalu, tahukah kamu bahwa ondel-ondel memiliki makna yang cukup mendalam? Menurut cerita yang diturunkan dari orang-orang tua di Betawi, ondel-ondel Betawi telah dikenal sejak masa leluhur atau zaman nenek moyang. Hal ini sebagaimana yang diyakini oleh para sesepuh adat Betawi dalam buku Kesenian Nasional 6 Ondel-Ondel karya Kustopo. Dahulu, boneka raksasa ini dibuat sebagai bagian dari ritual tolak bala, yaitu upacara yang bertujuan untuk mengusir wabah penyakit atau menghalau gangguan dari roh-roh jahat. 

Makna dari topeng merah laki-laki sendiri merupakan simbol yang diartikan bahwa laki-laki harus berani, sedangkan topeng perempuan berarti mereka harus menjaga kesucian. Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966–1977), ondel-ondel ditetapkan sebagai boneka seni khas Betawi dan berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang diiringi musik tradisional seperti tanjidor, rebana, dan ketimpring. Seiring modernisasi Jakarta sejak 1960-an, tampilan ondel-ondel berubah dari berwajah seram menjadi lebih ramah, mencerminkan pergeseran fungsi dari penolak bala menjadi hiburan untuk semua kalangan.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa ondel-ondel bukan sekadar boneka raksasa yang menjadi hiburan semata, melainkan simbol identitas dan warisan budaya masyarakat Betawi yang sarat makna. Perubahan fungsi ondel-ondel dari bagian ritual sakral menjadi pertunjukan rakyat hingga kini digunakan untuk mengamen di jalanan menunjukkan dinamika budaya di tengah modernisasi kota Jakarta. Meskipun memunculkan pro dan kontra, fenomena ini mencerminkan upaya masyarakat dalam mempertahankan eksistensi tradisi di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, pelestarian ondel-ondel perlu dilakukan dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya Betawi agar makna dan keasliannya tidak hilang oleh tuntutan ekonomi dan hiburan modern.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 201