Majalah Sunday

Untuk Sastra

“Menulis adalah caraku menyukaimu.”

 

Namaku Bella. Aku suka menulis, suka hujan, juga suka dia.

Iya, dia.

Cowok dengan nama yang unik –nggak juga, sih. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa namanya itu aneh. Sastra, namanya.

Sastra adalah teman sekelasku sejak kami memasuki SMA. Itu berarti, sudah dua tahun aku berteman dengannya.

Aku menyukainya. Dia tahu itu. Aku pernah mengatakan perasaanku padanya melalui surat-surat yang aku kirimkan ke lokernya bersamaan dengan surat-surat lain yang juga masuk ke loker yang sama. Oh ya, Sastra itu termasuk cowok yang cukup populer di sekolah, lho. Setiap hari selalu ada tumpukan surat di lokernya dengan judul yang sama; Untuk Sastra.

Hari ini, Sastra memintaku menemaninya untuk mengambil surat-surat yang ada di loker. Terhitung puluhan surat yang ada di sana. Sastra membuka surat-surat itu satu persatu kemudian memberikan surat yang sudah dibacanya itu kepadaku.

“Ada banyak surat yang aku terima selagi aku bersekolah di sini.” Ujarnya sambil membuka satu persatu surat dan memberikannya padaku.

“Aku tahu.”

“Tapi aku kembalikan lagi semuanya.”

Aku mengernyit, “Kenapa?”

Bukannya menjawab, Sastra malah sibuk mencari sesuatu di dalam lokernya. Padahal aku yakin semua surat-suratnya itu sudah ia baca. “Kamu nggak ngasih surat ke aku hari ini?”

Aku menggeleng singkat. “Males, ah.”

“Kok gitu?” Sastra menoleh ke arahku.

“Habisnya percuma. Kan kamu juga bakal balikin surat aku sama kayak yang kamu lakuin ke cewek-cewek ini.” Kataku sambil  melirik ke arah surat-surat yang masih ada dalam genggaman.

“Emangnya kamu pernah ngerasa aku balikin surat dari kamu?”

Aku berfikir sejenak, “Nggak, sih.”

“Terus?”

“Apa?”

“Kenapa kamu ambil kesimpulan begitu? Padahal aku nggak balikin surat kamu, lho.”

Aku menghela napas. “Iya, sih.” Jeda sejenak, lalu berkata, “Emangnya kenapa kamu nggak balikin surat aku?”

“Karena aku suka.”

DEG…

Entah kenapa tiba-tiba aku merasa deg-degan.

“Suka suratnya? Bukannya kamu nggak suka puisi, ya? Surat-suratku itu kan isinya puisi semua.” Aku menyender di dinding sambil memegang tumpukan kertas itu. Berpura-pura cuek adalah hobiku sekarang.

“Siapa bilang aku suka suratnya?”

“Tadi kamu bilang…,”

“Aku nggak bilang aku suka suratnya.”

“Terus suka apanya?”

“Suka kamunya.”

 

BLUSH…

 

Saat itu, aku bisa merasakan wajahku memerah melebih kepiting rebus.

“La? Kamu nggak papa?”

Lalu tiba-tiba aku pingsan.

 

oleh: Novianti Sabani, Universitas Negeri Jakarta.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?