Majalah Sunday

Perihal Gigi

Aku tak pernah tahu bahwa gigi, struktur yang penuh kalsium, berwarna putih dan keras, mempunyai fungsi yang berbeda sekarang.

Melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD, aku hanya tahu bahwa gigi adalah semacam tulang yang ada di dalam mulut dan menempel pada gusi. Dia digunakan pada saat makan. Gigi pun mempunyai beberapa jenis. Ada gigi seri, gigi geraham, dan gigi taring. Saat dirimu masih kecil, gigi susu adalah gigi yang special, karena hanya kau miliki saat masih kanak-kanak. Dia akan copot ketika dirimu akan beranjak dewasa.

Aku juga tahu bahwa gigi mempunyai fungsi premier, sekunder, dan tersier. Ini hanya ada dalam kamusku sendiri. Fungsi utama gigi adalah untuk melumatkan makanan agar lambungmu tidak bekerja terlalu keras. Sebagai fungsi sekunder, gigi bertugas agar kau terlihat cantik dan menawan ketika tersenyum. Gigi yang berderet rapi, putih, dan bersih adalah impian semua orang. Bahkan acapkali ada beberapa acara yang melakukan simulasi tepuk tangan dengan harus memperlihatkan gigi. Aku melakukannya, tetapi segan sebenarnya. Canggung dan seperti terpaksa melukiskan senyum. Fungsi tersier dalam kamusku mungkin agak aneh. Ini terjadi ketika aku ada di kelas enam sekolah dasar. Gigi yang mereka punya dijadikan sebagai tren dengan menggunakan kawat gigi.

Padahal, kawat gigi digunakan jika kau memang harus menggunakannya, seperti ada gigi yang tak rapi. Mereka yang giginya sudah rapi menggunakannya agar terlihat sama seperti yang lain. Selain itu, siapapun yang menggunakan kawat gigi dianggap anak orang kaya, karena biasanya hanya yang mempunyai uang lebih yang menggunakannya. Ada temanku yang membuat kawat gigi sendiri dari penjepit kertas yang diluruskan, setelah itu digunakan di gigi. Tidak higienis memang, tapi dia cukup senang karena bergaya.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sadar bahwa aku memiliki gigi yang berbeda dari teman-temanku. Aku tetap percaya diri karena duniaku saat itu penuh warna dan gempita. Teman-temanku pun biasa saja dengan gigi yang aku punya. Hingga suatu hari temanku meledekku dengan sebutan ‘gigi tonggos’. Sebutan yang familiar jika dirimu mempunyai gigi depan yang besar dan maju. Aku juga punya gigi gingsul. Temanku yang waktu itu membuat kawat gigi sendiri menyuruhku untuk menggunakan kawat gigi. Aku tak punya uang banyak untuk membeli kawat gigi. Aku juga menangis karena punya gigi gingsul. Dahulu itu menakutkan. Kenapa bisa ada gigi yang tumbuh diatas, sejajar dengan gusi?

Menurutku, gigiku tidak masuk dalam kategori yang menjorok ke depan. Dia hanya terlihat besar, itu saja. Namun, setiap orang mempunyai persepsi berbeda akan sesuatu dan aku tak ambil pusing. Aku tetap saja tertawa lebar dengan memperlihatkan gigi.

Hingga saat SMA, aku merasa bahwa perkataan temanku saat SD sungguh menyakitkan hati. Setelah masuk ke jenjang ini, aku tertawa dengan menutup mulutku dan tersenyum hanya dengan membentuk bibir. Sangat sulit untuk membuatnya tetap terlihat. Kau tahu? Di masa-masa inilah diriku tahu bahwa teman-temanku cantik dengan gigi yang mereka punya.

Waktu itu jam istirahat pertama, di kelas 12. Aku tidak makan dan bergegas ke kamar kecil lantai dua untuk berganti pakaian olahraga, karena setelah istirahat pertama ada pelajaran olahraga dan semua siswa harus cepat turun ke lapangan. Setelah itu, aku dan salah satu temanku menuju ke kelas sebentar. Saat menuju ke kelas, ada salah satu siswa kelas sebelah yang ingin diskusi sesuatu dengan temanku. Di depan kelas itu ada sebuah bangku panjang, dan ada yang duduk. Dua perempuan cantik dan terkenal. Aku kenal mereka berdua saat masih bergabung di OSIS.

“Hai Tasya, Marisa!” sapaku, yang diakhiri dengan senyuman lebar dengan gigi. Aku berusaha untuk menyapa mereka saja.

“Ah, hai juga.” balas mereka dengan sapaan yang terdengar kikuk.

Setelah balasan itu, aku dan temanku menuju kelas. Saat berjalan kira-kira tiga langkah, aku mendengar suara tawa mereka berdua. Tasya dan Marisa. Itu terjadi setelah sapaanku beserta senyumku. Aku terdiam sejenak. Mereka menertawakanku? Tidak mungkin. Tapi gelaknya terdengar setelah aku tersenyum. Sakit. Sangat sakit. Sejelek itukah senyumanku?

***

Saat aku kuliah, aku masih menyembunyikan gigiku ketika tersenyum. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut kejadian waktu itu terulang lagi. Saat ini, rasa-rasanya begitu sensitif bila ada orang yang mempertanyakan atau mengejek hanya karena ada yang berbeda dari tubuh kita, walaupun kecil. Aku yang tadinya biasa saja jadi bisa amat memikirkan perihal gigi karena orang lain. Semakin dewasa, perasaan tidak aman akan diri sendiri dapat muncul begitu saja ketika melihat orang lain yang menurutku tampilannya cukup cantik dan menarik. Sampai suatu ketika…

“Hei, ada berita baru soal idola kita!” kata temanku setengah berteriak. Wajahnya sangat antusias. “Dia akan mengeluarkan album baru bulan ini!”, ucapnya histeris.

“Benarkah? Yey! Aku sangat merindukan mereka!” balasku dengan riang dan senyuman yang paling lebar. Namun beberapa detik kemudian aku menutup mulutku dan diam. Aku lupa! Kenapa aku memperlihatkan gigi ketika tersenyum?

“Kenapa tiba-tiba diam?” tanya temanku.

“Oh, aku.. hanya khawatir saja jika ada yang melihat gigiku. Gigiku berbeda dengan yang lain. Gigi depanku besar.”

“Apanya yang berbeda? Sama saja. Kau lebih cantik ketika dapat tersenyum bahagia. Dirimu adalah pribadi paling cantik dalam hidupmu. Santai saja.”

Pernyataan itu membuatku begitu bahagia. Saat itu aku sadar, jika kau nyaman dengan dirimu sendiri, kenapa harus mendengar perkataan orang lain yang tidak kamu butuhkan? Lagipula, memang sewajarnya kita tersenyum lebar saat bahagia, bukan? Aku bisa cantik dengan versi diriku sendiri. Gigiku adalah gigi terbaik yang pernah aku punya.

 

Dewi Amalia Fadzilah

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?