Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Saat langit memutih dipanggang El Niño, Lazuardi sadar bahwa bumi tidak butuh air mata, melainkan tangan yang berani melawan.

Lazuardi menyeka keringat di pelipisnya. Saat ini, langit desanya tak lagi biru. Cakrawala berubah menjadi putih pucat yang memantulkan panas menyengat. Di kejauhan, sawah kakeknya tampak seperti kepingan puzzle raksasa yang retak.
Batang-batang padi meranggas kecokelatan akibat hujan tak lagi turun dan panas yang menyengat. Oleh karena itu, berita El Nino di televisi kini terasa nyata, bukan sekadar teori di buku Geografi lagi.
Sementara itu, pemandangan di sekolah terasa sangat kontras. Teman-temannya masih asyik bermain gim daring di kantin. Di balik tembok, sebuah keran air dibiarkan menetes sia-sia.
Lazuardi merasa sesak melihat pemborosan itu. Ia sadar bahwa sekadar mengunggah tagar keprihatinan tidak akan menyelesaikan masalah. Jika mereka terus pasif, kemarau ini akan menelan habis sisa hidup mereka. Kesadaran itulah yang membawanya melangkah keluar dari zona nyaman.

“Kita tidak bisa memesan hujan dari aplikasi,” suara Lazuardi memecah keheningan di bawah beringin tua yang daunnya mulai layu.
Namun, Lazuardi tidak berhenti di situ. Ia membawa tumpukan botol plastik bekas dan pipa paralon. Tanpa banyak bicara, ia menghujamkan linggis ke tanah keras untuk membuat lubang biopori sederhana.
Hari-hari selanjutnya menjadi pembuktian bagi mereka yang skeptis. Lazuardi mengajak teman-temannya menanam bibit pohon endemik. Mereka juga memasang sistem penyiraman tetes dari botol bekas. Teknik ini memastikan air jatuh tepat di akar agar tidak menguap sia-sia.
Hasilnya, satu demi satu teman-temannya mulai meletakkan ponsel. Mereka kini lebih akrab dengan sekop dan tanah daripada layar digital. Kerja keras mereka akhirnya diuji saat alam mencapai titik terpanasnya.

Agustus datang dengan suhu yang kian memanggang. El Niño pun mencapai puncaknya. Di desa tetangga, warga mulai mengantre jerigen air.
Akan tetapi, tanah di sekitar sekolah Lazuardi tetap bertahan. Bibit pohon yang mereka tanam masih tegak hijau berkat sistem irigasi sederhana yang mereka buat.
Selain itu, lubang biopori mulai menunjukkan hasil nyata. Sumur warga di sekitar sekolah masih menyisakan air jernih. Hal ini terjadi karena mereka berhasil “menabung” air hujan terakhir ke dalam tanah.
Lazuardi berdiri di tepi sungai dengan perasaan tenang. Ia membuktikan bahwa musuh terbesar bukanlah alam, melainkan sikap acuh tak acuh. Akhirnya, saat awan mendung pertama muncul di bulan Oktober, ia tahu bahwa aksi kecilnya telah menanam fondasi masa depan yang lebih sejuk.
Kisah Lazuardi mengingatkan kita bahwa ancaman iklim seperti El Niño bukanlah hal yang bisa disepelekan. Mencintai lingkungan dimulai dari kesadaran untuk bertindak secara nyata di lingkungan terdekat kita.
Berhenti menjadi remaja yang pasif dan mulailah mengambil peran dalam menjaga bumi agar tidak kehilangan validasi sebagai generasi yang peduli pada masa depan.
Ayo mulai langkah kecilmu hari ini! Hemat air, tanam satu pohon, atau edukasi teman sekitarmu tentang bahaya El Niño. Jangan tunggu hingga kekeringan melanda rumahmu. Jadilah pahlawan lingkungan di usiamu yang muda, karena bumi ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.