Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga
Sunners, pernahkah kamu mendengar orang lain atau temanmu sedang berbicara, tapi di tengah-tengah ucapannya terselip satu atau dua kata Bahasa Inggris? Misalnya “Literally, aku tuh lebih prefer matcha dibanding kopi”. Atau bahkan mereka sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi?
Di era gempuran budaya asing yang masuk ke Indonesia, mahir berbahasa asing dianggap sebagai simbol kepintaran, kelas atas, dan keren. Namun, dibalik fasihnya kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing, ada sebuah fenomena yang terjadi: Bahasa Indonesia perlahan-lahan mulai diabaikan dan terasa kaku di lidah kita. Mengapa menguasai bahasa asing membuat kita bangga, tetapi di saat yang bersamaan, kita merasa “gengsi” ketika menggunakan bahasa ibu kita sendiri?
Yuk, kita ulik fenomena “Bahasa Jaksel” yang sedang viral akhir-akhir ini!
“Bahasa Jaksel (Jakarta Selatan)” adalah gaya bahasa gaul anak muda yang mencampurkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam satu kalimat. Beberapa kata Bahasa Inggris yang sering diselipkan dalam kalimat berbahasa Indonesia adalah “which is” (yang merupakan), “actually” (sebenarnya), dan lain sebagainya.
Eits… fenomena “Bahasa Jaksel” ternyata ada latar belakang sejarahnya, lho! Semuanya berasal dari sebuah daerah di Jakarta Selatan yaitu Kebayoran. Awalnya, kawasan Kebayoran dihuni oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Namun, pada masa pembangunan kawasan Kebayoran Baru sekitar tahun 1948, berbagai perusahaan dan kantor pemerintahan membeli banyak rumah untuk dihuni para pegawai mereka. Dengan demikian, Kebayoran Baru mulai diisi oleh kaum elit, orang-orang berpendidikan tinggi, dan mereka yang mampu secara ekonomi. Di sisi lain, ada banyak penghuni lama Kebayoran yang pindah ke kawasan pinggiran kota.

Pada tahun 1950-an, sebuah budaya tercipta ketika kaum elit urban telah menguasai Jakarta Selatan. Seorang ahli sejarah Indonesia asal Australia, Merle C. Ricklefs, mengatakan bahwa pada masa itu, kaum elit urban memang sangat memandang kemampuan berbahasa asing terutama Bahasa Belanda sebagai wujud tingkat pendidikan dan kelas sosial. Maka dari itu, orang-orang yang tidak bisa berbahasa asing seringkali dianggap rendah. Para kaum elit juga memandang budaya Barat sebagai patokan untuk membentuk budaya urban di Jakarta Selatan, terutama budaya yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.
Terlebih lagi, pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat ikut berkontribusi dalam pembentukan budaya urban di Indonesia, paling banyak melalui film-film Hollywood yang populer. Dengan masuknya pengaruh budaya Amerika, banyak orang mulai mempelajari Bahasa Inggris. Namun, tentunya, tidak semua orang bisa berbahasa Inggris. Hanya orang-orang yang berasal dari kaum elit dan berpendidikan yang bisa mempelajari Bahasa Inggris dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, fenomena menyelipkan kata-kata Bahasa Inggris saat berbahasa Indonesia sangat identik dengan Jakarta Selatan.
Fenomena “Bahasa Jaksel” sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Jika kita melihat fenomena ini dari sisi positifnya, “Bahasa Jaksel” dapat memotivasi anak muda untuk semakin giat belajar Bahasa Inggris. Sepertinya yang Sunners ketahui, Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang dipakai di hampir semua sektor secara global, seperti pendidikan dan karier. Kebiasaan mencampurkan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari dapat melatih kelancaran kita dalam berbahasa Inggris tanpa merasa kaku. Bagi kebanyakan anak muda, “Bahasa Jaksel” membuat mereka lebih percaya diri, fleksibel, dan tidak terkekang oleh tata Bahasa Indonesia yang rumit.
Namun, segala hal tentunya punya sisi negatif. Dibalik fleksibilitas “Bahasa Jaksel”, kita perlu waspada terhadap perbendaharaan kata dalam bahasa ibu kita yang semakin terkikis. Anak-anak muda menjadi malas untuk mencari padanan kata yang sesuai dengan tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar karena lebih mudah menggunakan istilah asing. Lebih jauh lagi, “Bahasa Jaksel” dapat menimbulkan perspektif sosial bahwa penggunaan Bahasa Indonesia dianggap kurang gaul, kaku, atau kurang berkelas. Jika hal ini terus dibiarkan, Bahasa Indonesia bisa kehilangan kedudukannya sebagai bahasa utama dalam berpikir dan berekspresi di kalangan masyarakat yang tinggal di rumahnya sendiri.

Di sinilah letak ironi terbesar yang faktanya sedang kita hadapi. Ketika anak muda Indonesia merasa canggung dan gengsi saat berbicara dengan bahasa ibunya sendiri, masyarakat dunia justru melihat bahasa kita dengan kacamata yang sangat bertolak belakang. Saat ini, UNESCO menetapkan Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi di Konferensi Umum. Selain itu, banyak universitas ternama dunia mempelajari Bahasa Indonesia secara serius sampai dijadikan jurusan atau mata kuliah, di antaranya The Australian National University (Australia), Hankuk University of Foreign Studies (Korea Selatan), Chulalongkorn University (Thailand), Al-Azhar University (Mesir), Leiden University (Belanda), dan masih banyak lagi. Selain tingkat universitas, ada beberapa sekolah dasar dan menengah di luar negeri yang turut memasukkan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran, contohnya Whitefield School London dan St. Matthews CE Primary School (Inggris), serta Burgmann Anglican School (Australia).
Jika kita melihat nama-nama universitas dan sekolah di atas, kita seharusnya sadar bahwa para akademisi dunia pun bersusah payah untuk mempelajari tata bahasa dan kerumitan imbuhan Bahasa Indonesia. Menurut mereka, Bahasa Indonesia dapat membuka pintu gerbang menuju kekuatan ekonomi dan budaya yang luar biasa di Asia Tenggara.

Menariknya, menurut para pelajar asing, imbuhan seperti me-, pe-an, dan sebagainya merupakan materi tersulit dalam Bahasa Indonesia yang mereka pelajari. Bahkan bahasa baku yang mereka pelajari seringkali jauh berbeda dengan versi yang mereka dengar dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, di Indonesia ada banyak sekali singkatan seperti BPJS, UKT, KTP, dan seterusnya, yang menjadi teka-teki tersendiri bagi orang asing.
“Dimana Bumi dipijak, disitu langit dijunjung”
Pada akhirnya, artikel ini tidak ditulis untuk mengajak Sunners anti berbahasa asing. Namun, seperti peribahasa di atas, kita perlu menggunakan bahasa secara baik dan benar di tempat yang seharusnya. Jika kamu tinggal di Indonesia, gunakanlah Bahasa Indonesia yang tepat, bahkan ketika kamu sedang berkomunikasi dengan sesama teman. Namun, jika kamu berada di luar negeri atau sedang berjuang di kancah internasional, tentunya akan sangat bagus kalau kamu menguasai bahasa asing.
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan warisan budaya bangsa kita yang harus dilestarikan. Jangan sampai bangsa lain begitu menghormati bahasa kita, tetapi kita sebagai pemilik bahasa itu justru mengesampingkannya. Jadi, teruslah belajar berbagai bahasa dunia agar kamu mampu bersaing secara global, tetapi jadikanlah Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan identitasmu agar kamu tidak lupa dari mana kamu berasal.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.