Majalah Sunday

Memindahkan Hujan

Kenapa harus menghalau hujan? Apa gunanya menghalau hujan? Apa salah hujan? Jika tidak diizinkan Tuhan ya sudah terima saja!, seperti tidak ada hari esok saja, kalau perlu tidak usah jadi sekalian!

Gadis itu lantas membanting pintu kamarnya, lalu naik ke atas ranjangnya. Tangisnya tidak terbendung lagi. Hari ini Juna, sahabatnya sekaligus orang yang ia cintai sejak lama datang ke rumahnya, namun bukan untuk sekedar main atau curhat  ̶  walaupun ia hanya sebagai pendengar  ̶  namun, untuk “memesan” ayahnya untuk mengisi di hari pernikahan Juna, tentu saja bersama gadis lain bukan bersamanya, gadis yang sering Juna ceritakan kepadanya. Tentu saja ayahnya tidak bisa menolak karena tidak enak dengan ayahnya Juna yang notabene adalah kepala desa.

Seperti tidak mau terlihat sedih  ̶  padahal tidak ada siapa-siapa di kamarnya  ̶  ia memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan kepalanya di lututnya tersebut. Berharap tangisnya bisa segera mereda dengan posisi itu. Alih-alih mereda, ia malah mengingat hal yang membuatnya terpuruk, sangat terpuruk sampai-sampai ia membenci ayahnya sendiri. Baginya, ayahnya adalah penyebab kenapa ibunya meninggal.

***

Seorang anak berusia 8 tahun mengintip di jendela tanpa kayu  ̶  hanya dihalangi jalusi bambu  ̶  sambil menunggu ibunya. Saat itu hujan deras menutupi kota tempatnya tinggal. Di desa tempatnya tinggal, hujan jarang terjadi, saat musim hujan sekali pun.  Karena penasaran memikirkan hujan yang jarang terjadi di desanya tersebut, ia bergegas menemui ayahnya yang sudah rapi dengan pakaian serba hitamnya.

“Ayah.. kenapa sih ayah suka mengusir hujan di kampung kita? Dara kan suka hujan. Kalau hujan Dara suka mandi hujan bersama ibu. Ibu juga suka buatkan Dara sup ayam yang enak banget kalau habis main hujan-hujanan,” jelasnya tanpa jeda karena antusiasnya terhadap hujan.

“Ayah harus usir hujan agar orang lain tidak mengalami kesulitan sewaktu menggelar acara anakku. Lagipula ayah tidak mengusirnya kok, hanya memindahkan ke tempat lain yang tidak hujan,” ujar ayahnya sembari menuntun anaknya untuk duduk bersama.

“Memangnya dipindahkan kemana?”

“Biasanya ayah pindahkan ke desa sebelah nak, kalau nggak di desanya ibu dulu seperti hari ini, karena hujannya lebat sampai ke kampung sebelah.”

“Berarti ayah mau pergi memindahkan hujan ya hari ini, kan kemarin sudah, kemarin-kemarinnya lagi juga sudah?”

“Iya nak, kan untuk beli makan kita juga nanti uangnya.” 

“Dara ditinggal sendiri dong, ibu kapan pulangnya sih, katanya dikit lagi. Ayah.. berarti nanti ibu kehujanan dong yah, kan ibu sedang di desanya ibu sekarang untuk membesuk temannya.” Ia merengut kesal.

“Tidak papa nak, katanya nanti ibu diantar pakai mobil temannya jadi tidak kehujanan. Sekarang begini saja, bagaimana kalau kita mandi hujan? Mumpung hujannya belum ayah pindahkan.” 

“Setujuuu!!.. Tapi bareng ayah ya? Kan aku nggak pernah mandi ujan bareng ayah.” Antusiasnya kembali setelah mendengar bahwa ia bisa mandi hujan.

“Ga bisa Dara anak ayah yang cantik, kan sebentar lagi ayah mau kerja. Kamu main aja di belakang rumah nanti ayah liatin ya.”

“Yaaaahhh.. yaudah deh gapapa.. ayoo yah!”

Anak itu langsung berlari ke halaman kosong di belakang rumahnya, asik sendiri bermain dengan milyaran tetes dari langit tersebut, tanpa sadar bahwa ayahnya tidak mengawasinya. Sang ayah ingin menghampiri, namun ketukan pintu membuatnya tersadar akan waktu. Orang yang mengetuk sudah dipastikan orang yang menyewanya untuk pernikahan anaknya. Sebenarnya janjinya masih setengah jam lagi, namun yang menyewanya baru bilang bahwa resepsi dimajukan. Setelah menghampiri orang tersebut, ia bergegas ke belakang rumah menghampiri anaknya.

“Dara.. maaf yaa ayah ga bisa liatin kamu main, ayah harus kerja, udah dipanggil sama pa’de Darso. Nanti ibu bentar lagi pulang, Dara bisa main sendiri kan?” ujarnya kepada putrinya setelah menghampirinya dari halaman belakang rumah.

“hmmm.. yaudah deh Yah gapapa. Ibu beneran pulang kan habis ini?”

Ayahnya hanya tersenyum dan mengangguk. Lantas ia pergi meninggalkan rumah sambil membawa alat alat yang biasa ia pakai sebagai perlengkapan pawang hujan.

Hujan deras kali ini dapat dengan mudah dipindahkan, seperti biasanya, keahlian ayah Dara tidak perlu diragukan warga desa. Hujan pun perlahan-lahan berhenti, acara resepsi diadakan dengan tenang. Ayah Dara lantas pulang ke rumah setelah menerima pesangonnya. Ada perasaan tidak enak mengganjalnya. Benar saja, ia menemukan Dara tertidur di kasurnya dengan suhu badan panas tinggi. Ia lupa bahwa Dara belum makan sebelum mandi hujan. Lantas ayahnya membawa Dara ke puskesmas terdekat.

Di sisi lain, sang ibu sedang dalam perjalanan pulang bersama kawannya. Hujan deras turun tiba-tiba, kali ini bersama petir. Petir menyambar ke jalan. Temannya menyarankan untuk berhenti sebentar da menepi. Namun sang ibu enggan karena memikirkan kemungkinan anaknya sendirian di rumah. Tiba-tiba petir menyambar tepat di depan mobil dan membuat mobil tersebut tergelincir lalu terjerembab ke jurang. Baik sang ibu maupun temannya, keduanya dinyatakan tewas.

***

Hari ini merupakan hari diselenggarakannya pernikahan Juna dengan pujaan hatinya yang jelas tidak ingin disebutkan namanya oleh Dara. Sakit hatinya makin menjadi saat melihat ayahnya sudah berberes menyiapkan alat tempurnya, bahkan ia rasa lebih banyak dari biasanya, namun ia tak peduli, untuk apa peduli, bahkan ayahnya tidak peduli dengan rasa sakitnya saat ini. Ia tidak tahu, benar-benar tidak tahu bahwa ayahnya itu malah sangat peduli pada anaknya dan tidak ingin lagi membuat anaknya kecewa. Ia berjanji sehabis ini, ia akan benar-benar berhenti dari pekerjaannya ini. Tapi hari ini berbeda, biasanya ia datang dengan tujuan membantu. Tapi kali ini ia akan membalas dendam, dendam sakit hati anaknya yang tidak dihiraukan cintanya. Ia akan menggagalkan pernikahan Juna.

“ayah pergi dulu, jangan lupa makan. Percayalah anakku hari ini kamu akan bahagia.” Ujarnya sebelum meninggalkan putri semata wayangnya itu. Putrinya hanya diam menatap kosong ke layar televisi, sedikit aneh dengan pernyataan ayahnya barusan.

Hujan deras kala itu mengguyur. Sang pawang pun tidak suka dengan orang-orang yang menyewanya. Baginya orang-orang itu hanya orang bodoh, sombong, dan tidak sabaran. Tapi bagaimanapun ia harus mencari nafkah. Tapi tidak kali ini, semuanya akan hancur olehnya, tempat yang sudah ditata dengan indah ini akan porak poranda. Ia tidak lagi akan memindahkan hujan, namun mendatangkan hujan yang lebat deras serta petir. Semua demi anaknya.

Seperti yang diduga, sang ayah berhasil mendatangkan badai petir. 

“Maaf selalu membuatmu kecewa. Semua ini untukmu nak! Ayah akan membalaskan dendam sakit hatimu.. hanya ini.. ,“ teriaknya sambil menengadah ke langit, namun teriakannya terputus karena petir sudah lebih dahulu menyambarnya. Kemudian disaat yang bersamaan, petir ternyata juga menyambar Dara yang sedang mengintip di pohon sekitar resepsi Juna diadakan. 

Hujan yang memindahkan mereka.

 

Kinanti Rizkiarti

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?