WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Menilik Fenomena Ketindihan: dari Kacamata Medis hingga Dikaitkan dengan Hal Mistis

Sunners… Berdasarkan penelitian Live Science, hampir 40 persen orang di dunia pernah mengalami ketindihan. Apa kalian pernah mengalami kondisi tersebut?

Banyak orang mengaitkan fenomena ketindihan sebagai sesuatu yang bersifat supranatural. Bagaimana tidak, kondisi tubuh akan sulit digerakan padahal tidak ada yang menahan. Alhasil, makhluk astral dijadikan sasaran empuk untuk disalahkan.

Ketindihan tak hanya dipercayai oleh masyarakat Indonesia saja, fenomena ini sudah beredar luas sebagai cerita atau kepercayaan di berbagai belahan negara. Penduduk Finlandia misalnya, mereka mempercayai adanya sosok Mere yang kerap menduduki tulang iga manusia ketika sedang terlelap. Di Thailand terdapat sosok serupa bernama Pee Umm, ia sering mendatangi mimpi dan menahan raga manusia untuk menetap di alam mereka. Dalam cerita rakyat Jepang, ketindihan dikenal dengan Kanashibari yang berarti “seseorang sedang diikat oleh makhluk halus”.

Lantas, apakah demikian? Benarkah ketindihan disebabkan oleh makhluk mengerikan? Simak penjelasannya dari kacamata medis yuk, Sunners.

Secara ilmiah, ketindihan disebut dengan istilah Sleep Paralysis. The American Sleep Disorder Association (1990) menyatakan bahwa, sleep paralysis adalah keadaan transisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak, maupun berbicara ketika tertidur (hypnagogic) atau saat bangun dari tidur (hypnopompic).

Kondisi ini sering dikaitkan dengan hal mistis. Namun faktanya, sleep paralysis terjadi di saat otak dan tubuh saling timpang tindih ketika tertidur. Akibatnya seseorang dapat tersentak bangun di tengah siklus REM, alias siklus bermimpi. Saat seseorang terbangun sebelum siklus REM benar-benar selesai, otak belum siap mengirimkan sinyal untuk bangun, sehingga tubuh seperti masih dalam keadaan bermimpi.

Dengan kata lain, jiwa sudah dalam keadaan sadar tetapi raga belum dapat digerakan. Bahkan beberapa orang mungkin merasakan tekanan atau rasa tersedak layaknya orang yang sedang ‘ditindih’. Jangan khawatir, ketindihan tidak berlangsung lama. Saat tubuh dan otak sudah mulai sinkron kembali, maka penderita akan segera pulih.

Terkait penampakan makhluk astral saat mengalami ketindihan, para peneliti menduga bahwa penyebabnya bisa jadi karena kinerja otak yang terganggu. Sosok yang dilihat sewaktu ketindihan, sebetulnya hanyalah halusinasi semata.

Setelah membahas definisi sleep paralysis, alangkah baiknya jika kalian mengetahui faktor penyebab terjadinya juga. Apa saja, sih?

• Kurang tidur atau waktu tidur yang berubah-ubah.

• Gangguan mental.

• Posisi tidur telentang.

• Penggunaan obat-obatan tertentu.

• Masalah tidur seperti narkolepsi atau kram malam hari.

Ketindihan bukanlah sesuatu yang berbahaya. Tetapi gejala yang dialami penderitanya kadang menimbulkan rasa takut, cemas, bahkan trauma yang berlebih. Nah, apabila kalian mengalami kondisi ini, sebisa mungkin cobalah bersikap tenang. Jangan biarkan rasa panik menguasai dirimu. Kepanikan hanya akan memperparah kondisi yang ada, karena semakin memberontak biasanya tekanan akan semakin meningkat.

Saat mengalami ketindihan, sebagian besar kelumpuhan terjadi di bagian tenggorokan hingga perut. Maka dari itu, langkah selanjutnya ialah berusaha untuk fokus menggerakan bagian tubuh lain seperti jemari tangan dan kaki, supaya organ lain ikut terpacu dalam menerima rangsangan yang diberikan.

Agar kalian senantiasa terhindar hal yang tidak diinginkan, jangan lupa berdoa sebelum tidur yaa Sunners!

 

 

Oleh: Nelin Novalin, Universitas Negeri Jakarta.

Leave A Comment