Majalah Sunday

Kenapa Gudang Tidak Pernah Dibuka?

Tahun lalu, satu orang siswa kelas 9A dinyatakan menghilang.

Nadira, namanya.

Perempuan cantik berkulit putih, bermata kecil dan tajam seperti kucing. Ia memiliki rambut lurus panjang bak iklan shampo yang membuatnya menjadi salah satu siswa paling eksis di sekolah ini.

Dulu, SMP ku bukan di sekolah ini. Aku baru masuk sekolah Harapan ketika kelas satu SMA. Tepat setelah SMP Harapan kehilangan salah satu siswa andalannya satu minggu sebelum hari kelulusan.

“Aku dengar, terakhir kali dia bilang mau sekolah SMA di Bandung.”

“Tapi katanya dia nggak pulang lagi setelah itu.”

“Katanya Zian sempat dekat sama dia.”

Zian. Laki-laki tampan yang kebetulan menjadi teman sebangkuku bulan ini. Aku sempat bertanya padanya perihal kenapa gudang sekolah tidak pernah dibuka? Saat itu, Zian bilang. “Kata papa, gudang itu udah terlalu penuh sampai susah buat dibuka. Akhirnya, ditutup total.”

Kini, aku bertanya lagi padanya mengenai siswa SMP harapan yang hilang.

“Nadira? Dia temanku.”

“Kapan terakhir kali kamu ketemu sama dia?”

“Sepuluh hari sebelum kelulusan.”

“Di mana?”

“Sekolah.”

Pikiranku menjadi kalut. Entah kenapa aku jadi melakukan cocoklogi antara hilangnya Nadira dengan alasan kenapa gudang selalu ditutup.

“Kapan terakhir kali gudang dibuka?”

“Di hari kelulusan, pak Maman, penjaga sekolah masih mondar-mandir ke gudang buat ambil kursi cadangan.”

Setelah percakapanku dengan Zian kala itu, aku jadi semakin penasaran. Sebanyak mungkin kucari informasi mengenari Nadira yang hilang mendadak. Lucunya, sekolah tidak pernah memberitahukan bahwa Nadira menghilang secara resmi. Sebagai anak pemilik sekolah, Zian sempat bertanya pada ayahnya perihal kenapa berita hilangnya Nadira tidak pernah dipublikasikan? Semuanya dibungkam. Lantas, ayahnya bilang, “Melapor ke polisi soal hilangnya salah satu siswa sekolah ini sama saja dengan menjatuhkan sekolah sendiri.”

Licik sekali.

Laki-laki itu sempat bertanya beberapa hal padaku perihal kenapa aku selalu berhenti tepat di depan gudang. Kukatakan padanya, “Aku hanya merasa ruangan ini berbeda dengan ruangan lain.” Awalnya, dia hanya bertanya saja sampai kemudian aku menjadi perempuan songong yang mengatakan hal ini padanya. “Zian, apa aku boleh masuk gudang?”

Dan tanpa diduga, Zian berniat membantuku dengan mencari keberadaan kunci ruangan itu. Lantas, dia datang padaku sambil membawa kunci gudang. “Nadira juga temanku dan aku ingin menemukannya.”

Bagus.

Kemudian, kami membuat janji untuk menyelinap ke gudang pada kamis malam. Pemuda itu bilang kalau dia mengambil kunci gudang secara diam-diam tanpa ketahuan sang ayah. Karena itu, masuk ke gudang ini juga harus diam-diam.

Kuncinya tepat. Kami mulai masuk ke dalam dengan berbekal senter ponsel. Tidak ada yang berbeda. Ini sama seperti gudang pada umumnya. Berantakan. Banyak peralatan bekas olahraga dan simulasi tengkorak untuk laboratorium IPA diletakkan di sini. Zian benar. Gudang ini sudah terlalu penuh hingga membuatku sesak.

KREEKK!

Aku memundurkan langkahku. Rasanya seperti menginjak kayu. Padahal, aku yakin jika lantai ini seluruhnya berasal dari keramik. Aku memanggil Zian untuk mendekat dan memintanya mendorong sedikit barang-barang yang menumpuk di tempat pijakanku tadi. Setelah semuanya berpindah, aku kembali menekan-nekan lantai itu dengan kakiku. Suaranya semakin nyata. Lantas, aku berjongkok dan mencari tahu apa yang ada di baliknya.

Sebuah kayu.

Kutolehkan kepalaku ke arah Zian dan pemuda itu mengangguk. Membolehkanku untuk membukanya. Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sebuah cahaya remang-remang disertai tangga melingkar berada di dalamnya.

Nyatanya, kayu tersebut adalah pintu penghubung dengan ruang bawah tanah.

Ruangan ini terasa sangat lembab karena tidak mendapatkan cahaya yang cukup. Dindingnya dingin dan aku bisa merasaan beberapa kotoran saat tangan kecilku menyentuh tembok itu. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam setelah meminta izin dari anak pemilik sekolah ini. Zian turut mengikutiku.

Tangga ini begitu sempit dan di desain dengan bentuk melingkar. Aku sempat kehilangan arah karena tidak membawa kacamata ke sini. Kudengar langkah kaki Zian mengikutiku dari belakang.

Kaki kecilku berhenti tepat di ujung tangga. Di hadapanku, sebuah ruangan kecil yang hanya berukuran dua kali dua meter itu menampilkan sesosok perempuan berambut panjang sepinggang yang terduduk lemas di ujung sana. Tubuhnya tinggi dan kurus. Matanya cekung dan sedikit menghitam. Kemudian, perutnya buncit.

Ku ulangi. Perutnya membuncit.

Lantas aku belari menghampirinya. Tidak salah lagi. Aku yakin bahwa perempuan ini adalah Nadira. Siswa SMP Harapan yang hilang satu minggu sebelum kelulusan. Dia terlihat tidak berdaya sambil memegangi perutnya. Strechmark bermunculan di area perutnya yang besar. Dia hamil.

“Zian, bantu aku untuk—”

KREEEKK!

Aku sempat terdiam saat suara pintu kayu itu berdecit. Kuputar tubuhku ke belakang dan Zian masih berdiri di sana sambil memegang senter ponsel yang membuat mataku menyipit karenanya.

“Hani, kamu udah ngelakuin kesalahan besar.”

Dahiku mengkerut. Segera aku bangun agar iris mataku tidak terlalu mengenai cahaya itu. Kulihat, Zian berjalan perlahan ke arahku.

“Harusnya kamu nggak perlu mengganggu kehidupan orang lain.”

Apa?

Satu detik kemudian, Zian melempar ponselnya sembarang dan menarik tubuhku untuk dibenturkannya ke dinding.

BRAK!

“Tapi karena kamu sudah bersikeras sampai sini, aku rasa Nadira akan senang punya teman baru.”

Sial!

Harusnya aku memang tidak pernah mencampuri urusan orang lain.

 

25 November 2019, Hanifa, kelas 10B, dinyatakan menghilang.

 

…TAMAT…

 

Novianti Sabani

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?