Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
“Kok bisa ya, kamu punya pasangan mirip mantan lagi?”

“Kok kamu dapet yang kayak mantan lagi sih?”
Awalnya mungkin cuma candaan. Tapi makin dipikir, kok ada benarnya juga. Sifatnya mirip, cara komunikasinya sama, bahkan masalahnya pun terasa berulang.
Tanpa sadar, kamu mulai bertanya, “Ini cuma kebetulan, atau memang ada alasannya?”
Ternyata, fenomena punya pasangan mirip mantan bukan sekadar perasaan. Sebuah penelitian dari Proceedings of the National Academy of Sciences (2019) menemukan bahwa banyak orang cenderung memiliki pasangan dengan kepribadian yang mirip dari hubungan sebelumnya.
Dengan kata lain, kalau kamu merasa seperti mengulang pola yang sama, kamu tidak sendirian. Namun, justru di sinilah mulai muncul kegelisahan.
Kenapa aku selalu ketemu tipe yang sama? Atau jangan-jangan, aku sedang mengulang cerita yang pernah gagal?

Pada dasarnya, manusia cenderung tertarik pada hal yang terasa familiar. Seseorang yang mirip dengan mantan bisa terasa lebih “dikenal” sejak awal. Cara mereka berbicara, bersikap, atau memperlakukan kita pun terasa tidak asing.
Hal ini terjadi karena pengalaman masa lalu membentuk preferensi kita. Otak menyimpan apa yang pernah terasa nyaman, lalu secara otomatis mencarinya kembali.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan Attachment Theory, yang menjelaskan bagaimana pengalaman hubungan sebelumnya memengaruhi cara kita membangun hubungan baru. Jadi, sering kali kita bukan sengaja memilih orang yang sama, melainkan mengikuti pola yang sudah terbentuk.

Ada beberapa alasan kenapa pola ini sulit diubah.
Pertama, karena sesuatu yang familiar terasa lebih aman. Bahkan jika hubungan sebelumnya tidak sepenuhnya baik, hal yang sudah dikenal tetap terasa lebih nyaman dibandingkan sesuatu yang benar-benar baru.
Selain itu, ada keinginan untuk “memperbaiki cerita lama”. Tanpa sadar, kita berharap hubungan yang baru bisa menjadi versi yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Di sisi lain, kita juga sering belum menyadari pola tersebut. Selama belum disadari, pola ini cenderung akan terus berulang.

Tidak selalu.
Memiliki preferensi tertentu adalah hal yang wajar. Artinya, tidak semua kesamaan akan berujung pada hubungan yang sama. Namun, masalah mulai muncul ketika kita terus mengulang pola yang menyakitkan tanpa menyadarinya.
Oleh karena itu, penting untuk memahami diri sendiri. Bukan hanya melihat siapa pasangan kita, tetapi juga bagaimana kita memilih.

Kalau kamu mulai menyadari pola ini, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan.
Coba ambil waktu sejenak untuk melihat kembali hubungan-hubungan sebelumnya. Perhatikan apakah ada kesamaan dalam cara mereka bersikap, berkomunikasi, atau menghadapi konflik. Dengan mengenali pola ini, kamu bisa lebih sadar terhadap pilihanmu.
Selanjutnya, tanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya kamu cari. Terkadang, kita mengejar sesuatu yang terasa familiar, bukan yang benar-benar sehat.
Di sisi lain, jangan takut membuka diri pada orang yang berbeda dari “tipe” biasanya. Justru dari situ, kamu bisa menemukan dinamika hubungan yang lebih sehat.
Terakhir, cobalah melihat hubungan dari kualitasnya. Bukan hanya soal nyaman, tetapi apakah hubungan tersebut membantu kamu berkembang.

Memiliki pasangan yang mirip dengan mantan bukan sekadar kebetulan. Sering kali, itu adalah pola yang terbentuk dari pengalaman, kebiasaan, dan cara kita memahami hubungan tanpa disadari.
Dan selama pola itu belum kita sadari, besar kemungkinan kita akan terus mengulang cerita yang sama, dengan orang yang berbeda. Namun di sisi lain, ini juga jadi kesempatan.
Kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan memahami apa yang sebenarnya kita cari dalam sebuah hubungan. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang datang, tapi bagaimana kita memilih.
Jadi daripada terus bertanya, coba tanyakan hal ini ke diri sendiri:
Apakah aku benar-benar memilih dengan sadar, atau hanya mengulang yang terasa familiar?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.