Penulis: Wulan Nur Afrilia
Balik lemari – Mungkin itu alasan kami dimarahi layaknya pencuri yang tertangkap basah jika masih berada di fakultas saat langit mulai memerah.
Saya sadar betul bahwa saya ini penakut setengah mati. Akan tetapi, cerita yang membuat bulu kuduk berdiri selalu sulit untuk tidak didengar hingga akhir. Meski sudah beberapa tahun beraktivitas di lorong fakultas ini, barulah saya mendengar cerita seram dari salah seorang teman dekat saya sejak awal perkuliahan.
Saat itu, terdapat beberapa metode Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampus saya, salah satunya melalui program magang di kantor program studi tertentu. Sarah mengambil program magang tersebut. Kala itu kampus memang sedang sangat sibuk mempersiapkan akreditasi, sehingga Sarah diminta menginap untuk menyelesaikan tumpukan berkas.
Malam itu sebelum terlelap, Ketua Program Studi (Kaprodi) berpesan kepadanya untuk membangunkan beliau jika merasa takut dan ingin diantarkan ke kamar mandi. Sarah yang memang mudah beser tak sanggup lagi menahan keinginan ke kamar mandi malam itu, namun tidak tega membangunkan Kaprodi dan temannya yang sudah pulas, sehingga memilih pergi ke kamar mandi seorang diri. Ruang Program Studi berada di ujung lorong dan untuk menuju ke kamar mandi, ia harus melewati lorong di antara ruang dosen dan ruang prodi, lalu berbelok ke kanan menuju lorong di sebelah lift.
Suasana koridor lantai tiga malam itu begitu dingin, seolah-olah pendingin ruangan sengaja dibiarkan menyala hanya untuk membekukan keberaniannya. Begitu ia melangkahkan kaki keluar dari ruang prodi, rasanya lorong mendadak membentang lebih panjang dan jauh hanya untuk sampai ke kamar mandi. Langkah kakinya yang pelan menggema keras, memecah kesunyian mati gedung fakultas yang biasanya riuh oleh lalu-lalang mahasiswa.
Saat itu pukul 00.40. Baru saja selesai dari toilet, di tengah lorong yang gulita, ia mendengar namanya dipanggil. Ia langsung membeku di tempat sambil meremas erat mukena yang dipakainya untuk tidur. Panggilan itu terdengar jelas dari balik lemari pembatas di depan ruang dosen di balik punggungnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Suara perempuan itu memanggil namanya dengan cepat berulang kali.
Ia tahu betul bahwa yang memanggilnya bukanlah manusia. Dengan kepekaan supranaturalnya, tanpa perlu melihat langsung pun ia sudah tahu persis wujud sosok tersebut. Dengan rasa takut yang luar biasa, ia memaksakan kakinya terus melangkah, berusaha keras untuk bisa kembali ke ruang prodi. Padahal, jarak dari toilet ke ruang prodi normalnya satu menit tapi malam itu rasanya seperti memakan waktu satu jam. Setiap kali ia melangkah, koridor seolah melar, menarik pintu ruang prodi semakin jauh dari jangkauannya.
Sesampainya di ruang prodi dengan napas terengah, ia bergegas kembali ke tempat tidurnya dan berusaha menenangkan detak jantungnya. Namun, belum sempat rasa paniknya reda, tiba-tiba terdengar derit pintu ruang prodi terbuka, disusul bunyi seseorang meletakkan sebuah gelas di atas meja.
Didorong rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutnya, Sarah akhirnya memberanikan diri untuk mengintip. Namun, di balik kegelapan ruangan itu, tidak ada siapa-siapa. Pintu pun masih tertutup rapat seperti semula.
“Sarah? Kamu lagi ngapain?”
Suara Kaprodi yang tiba-tiba terbangun membuat ia tersentak kaget. Beliau menyipitkan mata, menatapnya yang masih mematung dengan wajah tegang. Ia menelan ludah, berusaha menyembunyikan napasnya yang masih memburu.
“Ngg… nggak ada apa-apa, Bu,” jawabnya gugup.

Pagi menyapa seperti sedia kala, sekitar pukul 05.30, ia bergiliran mandi. Saat itu, di balik pintu, terdengar suara riuh beberapa mahasiswa dan salam dari seseorang, padahal tidak mungkin ada mahasiswa yang datang di jam itu karena masih terlalu pagi. Sarah memilih untuk menghiraukan saja dan bergegas mandi.
Setelah selesai mandi dan langit mulai terang, ia bersama temannya yang sedang di pantry disapa oleh petugas kebersihan.
“Semalam nginap, Neng?” tanya petugas itu.
“Iya, Pak. Lagi urus akreditasi soalnya,” jawabnya.
“Semalam gimana, Neng? Aman? Gak ada yang mengganggu?”
“Ada, sih, Pak. Semalam waktu mau ke toilet sendirian, ada yang panggil. Kalau tidak salah, sosok itu perempuan memakai baju kebaya dan bersanggul,” meski ragu akhirnya Sarah menjawab.
Petugas itu tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Benar, Neng. Itu teman saya. Dia memang selalu berada di sini. Biasanya nemenin saya ngepel.”
Begitulah cerita yang saya dengar hari itu sewaktu menunggu giliran bimbingan di depan ruang dosen. Entah mengapa, kisah tersebut selalu terngiang setiap kali saya melangkah keluar dari lift gedung fakultas ini seolah-olah sepasang mata tak kasatmata itu ikut memperhatikan.
Enam bulan berselang, saya menjalani program magang di salah satu instansi dan bertemu dengan seorang teman seangkatan yang beda kelas. Di tengah kekosongan waktu setelah menyelesaikan pekerjaan, kami saling bertukar cerita mistis. Saya menceritakan kembali pengalaman Sarah malam itu. Setelah mendengarnya, teman saya itu mendadak kaget, ia mengaku juga pernah berhadapan langsung dengan sosok perempuan bersanggul yang sama.

Ia bersama beberapa temannya memang terkenal dengan julukan “penghuni kampus” karena sering kali harus mengerjakan proyek bersama salah seorang dosen kami.
Sore itu, sekitar pukul empat lewat, setelah selesai kelas, sebenarnya ia berencana untuk pergi main. Namun, rencana itu batal karena ia mendadak harus mengerjakan tugas menulis konten bersama anak-anak unit di lantai 4. Kebetulan hari itu ia juga ada urusan dengan dosen, sehingga ia harus menunggu di lantai 3, di kursi samping tangga bersama seorang temannya.
Tidak lama kemudian, temannya pamit turun sebentar ke toilet bawah menggunakan lift. Tepat saat pintu lift tertutup rapat, suasana lorong mendadak hening. Tiba-tiba… suara misterius memanggil namanya dari balik lemari pembatas.
Didorong rasa penasaran dan mengira itu adalah kenalannya, ia berjalan menghampiri sumber suara. Begitu sampai, ia melihat seorang perempuan bersanggul dan berkebaya hijau sedang duduk di sofa. Kemudian, sosok itu menengok, parasnya tampak sangat cantik jelita khas perempuan Jawa. Perempuan itu kemudian berdiri dan mulai melangkah mendekat, lalu dalam hitungan detik, tubuhnya mendadak raib begitu saja di udara.
Panik, teman saya langsung berlari kembali ke depan ruang dosen. Tidak lama kemudian, ia telah menyelesaikan urusannya dengan dosen, lalu temannya mengirimkan pesan singkat agar ia segera naik ke lantai 4 untuk mulai menggarap konten. Di lantai 4, suasananya terasa semakin tidak bersahabat karena sangat sepi, dan lorong mulai gelap karena langit sudah mulai memerah dan sebentar lagi padam.
Memasuki waktu Isya, pembuatan konten akhirnya selesai. Ia ingin langsung pulang, tetapi urusan temannya masih cukup lama, sehingga ia pulang sendiri. Saat jam menunjukkan pukul 19.00, dengan memberanikan diri, ia berjalan keluar ruangan seorang diri dan masuk ke dalam lift. Suasana di dalam kotak besi itu terasa begitu menegangkan.
Ting!
Laju lift mendadak berhenti dan pintunya terbuka lebar tepat di lantai 3.
Di luar sana, di depan pintu lift, sosok perempuan bersanggul tadi berdiri tepat menatap ke arahnya. Namun kali ini, wajah cantiknya telah lenyap, yang tersisa hanyalah paras hancur mengerikan berdarah-darah layaknya wajah terseret di aspal.
Waktu seolah berhenti selama beberapa detik. Perempuan itu perlahan menarik senyum menyeramkan yang sanggup membekukan darah. Teman saya hanya bisa mematung di dalam lift, menahan napas sambil terus berdoa agar pintu segera tertutup kembali.
Bleep.
Pintu lift akhirnya tertutup. Ia berhasil lolos malam itu, meski dengan lutut yang lemas luar biasa. Bagi teman saya, itu adalah pengalaman paling mencekam yang pernah ia alami di kampus.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.