WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Dendam yang Terpendam

Jumat, 15 Maret 2020, pukul 4 sore waktu Australia. Tidak terasa sudah hampir 4 tahun gue menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu dan besok gue akan balik ke Jakarta. Pulang ke Jakarta bukan hal menyenangkan buat gue, terlebih semenjak Ibu ngga ada. Bahkan bisa dibilang sebenarnya kepergian gue ke Australia alih-alih untuk melupakan kenangan tidak menyenangkan itu. 

 

5 tahun lalu…

“Mas, kamu mau lanjut kemana nanti setelah lulus SMA?” tanya Ibu.

“Kayaknya aku mau ambil kuliah di luar negeri bu.”

“Waaah…bagus itu, emang kamu mau jurusan apa?”

“Seni Rupa, ada universitas bagus di sana yang aku incar.”

“Bagus…bagus… tapi nanti kalo Mas Iyo pergi, Ibu sendiri deh.”

“Hahaha…kan ada anak ibu yang satu lagi, Mas Rangga” gue tahu betul apa yang akan jadi respon Ibu saat itu, dan seketika ekspresi Ibu langsung berubah.

Ibu memang nggak suka sama Mas Angga, bisa dibilang sedikit jaga jarak. Mas Angga adalah anak dari istri pertama bokap a.k.a abang tiri gue. Dia tinggal bareng keluarga gue sejak Ibunya meninggal yang entah karena apa. Semula memang keadaannya baik-baik saja, sampai akhirnya Ibu menemukan sebuah foto. Saat itu hanya ada gue dan Ibu di rumah, Ibu langsung menunjukkan foto itu. Gue merasa tidak ada yang janggal, itu hanya foto Mas Rangga waktu masih kecil sama ibu kandungnya tapi mukanya tidak terlihat karena sobek. Lalu Ibu menunjuk pada sebuah bayangan yang ada tepat di belakangnya. Gue yang saat itu nggak tahan karena menahan sakit perut langsung kabur ke kamar mandi. 

Tiba-tiba…

“aaaaaaaaaaaaaa….”

Ibu teriak, kenceng banget. Gue langsung keluar, dan mendapati Ibu sedang jongkok, ketakutan, sambil memegang foto tadi. 

“Ibu kenapa?”

“Ini bukan Mas mu.”

“Gimana sih Bu maksudnya, Iyo ngga ngerti.”

“Ini kamu liat fotonya, bayangan yang tadi Ibu bilang, itu bukan bayangan biasa.”

“Terus itu apa?”

“Itu… itu makhluk jahat, dan dia ada sama Mas mu sekarang.”

Di saat yang bersamaan, gue sama Ibu kaget karena Mas Rangga tiba-tiba sudah berdiri ngga jauh dari gue dan ibu saat itu dengan tatapan paling aneh.

“Ngapain di kamar saya?” Mas Rangga emang kaku, mau sama siapapun dia akan selalu formal, makanya juga gue nggak pernah bisa akrab. 

“Ibu lagi beresin kamar lo tadi, terus gue dipanggil suruh bantuin.” 

“Itu foto saya kenapa dipegang sama Ibu.”

“Ini tadi Ibu nggak sengaja ketemu di bawah tempat tidur kamu” jawab Ibu sambil ngasih fotonya ke Mas Rangga. 

Sejak hari itu, sikapnya berubah, dia jadi mudah marah, kadang kalo amarahnya tidak terbendung, dia suka melempar barang-barang, teriak-teriak sendiri dan pernah suatu hari Ayah memergoki dia membunuh seekor burung kesayangan Ayah di samping rumah. Serentetan masalah yang sudah Mas Rangga buat, membuat Ayah memutuskan untuk mengurungnya di kamar. Beberapa ahli seperti dokter, ustaz, hingga ‘orang pintar’ sudah pernah dipanggil ke rumah untuk menyembuhkan Mas Rangga, dan semua jawabannya selalu sama…

“Saya tidak bisa bantu anak Ibu/Bapak jika dia tidak bisa ikhlas.”

Kata ‘ikhlas’ ini selalu menjadi tanda tanya semua orang, ikhlas karena apa? Apa dia pernah berbuat sesuatu di masa lalunya? Apa dia belum ikhlas dengan kepergian Ibunya? Tidak pernah ada jawaban yang pasti. Suatu hari Ibu pernah bilang sama Ayah, untuk memasukkannya ke rumah sakit jiwa, tapi Ayah bersikeras untuk tetap merawatnya di rumah saja. Keadaan rumah makin kacau balau, hampir setiap hari Ayah dan Ibu selalu berselisih paham. Sampai entah kapan, tiba-tiba suasana rumah kembali damai, Mas Rangga juga sudah kembali normal dan bisa berkomunikasi seperti biasa. Bahkan dia sempat meminta maaf kepada Ayah, Ibu dan pasti gue

Tapi justru ketika keadaan membaik, Ibu masih saja menaruh rasa curiga, sampai akhirnya secara tiba-tiba Ia jatuh sakit. Bukannya sembuh, keadaan Ibu justru semakin menurun, badannya semakin kurus dan akhirnya Ibu hanya bisa berbaring di tempat tidur sepanjang hari. Mas Rangga menjadi satu-satunya yang memiliki waktu luang untuk menjaga Ibu, dia bahkan sengaja tidak mengambil pekerjaan hanya untuk merawat Ibu. Tapi Ibu menolak, dan memilih untuk dirawat oleh Mbok Darmi. Tapi terkadang Mas Rangga suka membantu juga karena katanya kasian kalo Mbok Darmi yang mengurus rumah sekaligus jagain Ibu. Jujur awalnya gue merasa dia mencari muka sama Ibu, tapi karena Ibu juga keras kepala akhirnya dia mengalah, akhirnya dia tetap bekerja tapi dari rumah. 

Gue bisa lihat kalau Ibu tidak pernah nyaman kalau Mas Rangga ada rumah. Pada suatu waktu, hari itu gue libur dan mutusin untuk nemenin Ibu di rumah. Mbok Darmi lagi pergi beli makanan, Ayah dan Mas Rangga pergi sejak pagi. Ibu bilang kalau gue harus hati-hati karena dia sedang mengincar orang lain untuk disakiti. Gue bingung, perkataan Ibu membuat gue teringat kejadian masa lalu Mas Rangga, dan akhirnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak gue, apa dia mengincar gue? Lalu apakah sakitnya Ibu sekarang karena ulahnya? Dan kematian Ibunya dulu juga karena dia? Gue merasa sangat jahat saat itu, dulu gue selalu berpikir dia hanyalah korban akan sesuatu yang tidak terlihat, tapi jika kemungkinan itu ada, bahwa dia adalah dalang juga tidak bisa saja benar.

Lamunan gue terhenti ketika tiba-tiba Ibu menarik baju gue dan menunjuk ke arah pintu. Tepat di depan pintu kamar Ibu ada Mas Rangga sambil menggenggam sebuah pisau yang berlumuran darah dan menenteng sesuatu seperti kepala manusia, dan adalah itu kepala Ayah. Gue kaget setengah mati, dia memotong kepala Ayah, yang notabennya orang tua dia juga.

“MAS RANGGA!!!”

“Sekarang giliran Ibu, habis itu kamu” 

“LO GILA YAA!”

“Iya Saya memang gila. Apa masalahmu?”

“Emang ternyata dari dulu Ibu benar, lo tuh ngga beres Mas.”

“Memang Ibu nggak salah, sejak pertama kali kalian lihat foto saya dan saya mendengar semua pembicaraan kalian soal bayangan itu, memang benar.”

“Mendingan sekarang lo pergi, atau gue telpon polisi sekarang juga.”

“Coba saja.”

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, sudah pasti itu Mbok Darmi. 

“Mbooookk….jangan masuk.” “Lari yang jauh, telpon polisi!” Lanjut sambil berteriak dengan harapan dia benar-benar bisa lari sejauh mungkin dan meminta tolong dengan tetangga. 

Mas Rangga lari ke arah pintu depan, dengan maksud mengejar Mbok Darmi. Kesempatan gue untuk bawa Ibu keluar dari rumah, dan gue berhasil keluar lewat pintu belakang. Hal yang pertama kali gue liat saat itu adalah tubuh Ayah, Ibu yang melihatnya langsung menangis terjerit. Tangisan Ibu pun terdengar oleh Mas Rangga. Gue pun berlari sejauh mungkin sambil menggendong Ibu, dan gue bisa lihat dari kejauhan Mbok Darmi sudah tergeletak di tanah.

“Berhenti kamu di sana Iyo, atau saya akan bunuh Ibu kamu” di saat yang bersamaan gue mendengar suara tembakan dan itu membuat gue berhenti berlari. 

“Biarkan saya untuk selesaikan ini semua, saya mohon.” 

“Lo sudah bunuh ayah, Mas. Sekarang ibu gue mau lo bunuh juga, lo tega?” 

“Biarkan saya untuk membalas semua rasa dendam ibu saya” jawabnya sambil menangis. 

“Lo tuh sebenernya manusia apa bukan sih? Hah?”

“Semua dalangnya ada pada ayah.” “Ibu saya dijadikan tumbal oleh ayah kamu, agar dia bisa memenangkan haknya sebagai pemimpin di perusahaan yang sekarang dia jalani. Saya  menyaksikan sendiri bagaimana ibu meninggal, bahkan di saat terakhirnya dia masih memanggil nama ayah. Beruntungnya ayahmu saat itu saya masih terlalu belia untuk bisa melawannya, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan kami. Sejak saat itu, saya hidup dirundung rasa takut, saya sangat marah dan terkadang jika perasaan itu sudah tidak terbendung saya akan menyakiti diri saya sendiri. Namun Tuhan masih sayang saya, saya pun sembuh walaupun terkadang memang amarah saya. Dan sekarang saya mau membalas dendam Ibu saya, rasa sakit yang selama ini saya rasakan,” sambil menodongkan pistol ke arah gue dan Ibu. 

Namun belum sempat dia melancarkan niatnya, beberapa warga datang bersama polisi. Polisi menembak kaki Mas Rangga. Mas Rangga berhasil ditangkap tapi tetap tidak membuat ibu selamat, ibu tertembak dan meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.

Kejahatan yang dibuat Mas Rangga tidak membuatnya jeblos ke dalam penjara. Mas Rangga diduga mengalami kelainan jiwa sehingga akhirnya Ia ditempatkan di rumah sakit jiwa, seumur hidup. 

**

Ladies and Gentleman. We have just landed at Soekarno Hatta International Airport. Garuda Indonesia welcomes you to Jakarta…

Tidak akan pernah jadi hal yang menyenang memang, tapi jika itu untuk mengenang ibu, meskipun harus merasakan sakit dan amarah, gue akan akan tetap pulang.

 

Mutia Azura Hersta | Politeknik Negeri Media Kreatif

Leave A Comment