Skip to main content

Majalah Sunday

Daratan Indonesia hingga Gunung-Gunung Megah yang Dulunya Merupakan Lautan Purba

Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda mulia

Tahukah Sunners, beberapa gunung, perbukitan kapur, hingga pulau-pulau indah yang menjadi bagian dari daratan Indonesia ternyata pernah berada jauh di bawah permukaan laut jutaan tahun yang lalu? Fakta ini mungkin terdengar seperti cerita fiksi. Namun, para ahli geologi menemukan fosil kerang, terumbu karang purba, hingga batuan kapur yang menjadi bukti bahwa sebagian wilayah Indonesia memang pernah menjadi dasar lautan.

Bayangkan jika kita bisa kembali ke masa puluhan juta tahun lalu. Di tempat yang sekarang menjadi Pegunungan Sewu, Gunungkidul, Rajamandala-Citatah, hingga Nusa Tenggara Timur, tidak akan ada bukit, gunung, atau jalan raya. Yang terlihat hanyalah hamparan laut dangkal yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai biota laut. Seiring waktu, dasar laut itu perlahan terangkat akibat pergerakan lempeng bumi hingga berubah menjadi bentang alam yang kita kenal sekarang

Temuan bukti fosil kerang laut purba di dinding tebing batu gamping daratan tinggi Indonesia

Bagaimana Sejarah Daratan Indonesia yang Dulunya Merupakan Dasar Lautan?

Sejarah daratan Indonesia mencatat bahwa wilayah seperti Pegunungan Sewu, Tebing Citatah, dan daratan NTT dulunya adalah dasar laut dangkal hingga dalam. Pengangkatan ini terjadi akibat tumbukan hebat antar-lempeng tektonik aktif (seperti Lempeng Indo-Australia dan Eurasia) selama jutaan tahun, yang melipat dan mendorong batuan karbonat serta terumbu karang kuno ke permukaan menjadi perbukitan karst.

Ilustrasi proses tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang mengangkat dasar laut hingga membentuk pegunungan dan daratan Indonesia.

Bagaimana Lempeng Bumi Mengubah Dasar Laut Menjadi Daratan?

Untuk memahami bagaimana sebuah samudra bisa berubah menjadi pegunungan tinggi, kita harus mengintip sifat kerak bumi kita yang super dinamis. Kerak bumi yang kita pijak ini sebenarnya tidak berupa satu cangkang utuh yang kaku, melainkan terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik raksasa yang terus bergerak aktif setiap tahunnya.

Ketika lempeng-lempeng tektonik raksasa ini saling bertumbukan misalnya Lempeng Indo-Australia yang bergerak menyusup ke bawah Lempeng Eurasia terjadi tekanan energi yang luar biasa besar di zona subduksi tersebut. Tekanan konstan selama jutaan tahun ini secara perlahan melipat, mendesak, dan mengangkat batuan sedimen yang ada di dasar samudra ke atas permukaan laut. Batuan yang terangkat ini didominasi oleh batuan karbonat, yaitu batuan yang terbentuk dari akumulasi cangkang kerang, foraminifera, dan sisa terumbu karang mati yang mengeras di dasar laut selama masa lampau. Proses tektonik inilah yang menjadi dalang utama di balik hadirnya lanskap perbukitan kapur (karst) eksotis di Indonesia.

Bentang alam perbukitan karst kapur di Pegunungan Sewu Gunung Kidul Yogyakarta.

Geopark Gunung Sewu: Labirin Kapur yang Dulunya Rumah Terumbu Karang

Kawasan pertama yang menjadi bukti nyata dari fenomena pengangkatan dasar laut ini adalah Pegunungan Sewu. Kawasan megah ini membentang luas melewati wilayah Gunung Kidul di Yogyakarta, Pacitan di Jawa Timur, hingga Wonogiri di Jawa Tengah. Saat ini, keunikan bentang alam karst tropisnya bahkan telah diakui dunia sebagai bagian dari Global Geoparks Network UNESCO.

Jutaan tahun yang lalu, kawasan Gunung Kidul dan Pegunungan Sewu merupakan zona lautan dangkal yang sangat hangat dan subur. Tempat ini menjadi surga bagi koloni terumbu karang kuno untuk berkembang biak dengan sangat masif. Namun, akibat aktivitas tektonik yang kuat di selatan Pulau Jawa, wilayah dasar laut dangkal ini perlahan terdorong naik ke atas permukaan secara bertahap hingga mencapai ketinggian ratusan meter seperti sekarang. Jika kamu menyusuri gua-gua alam atau dinding bukit kapur di Gunung Kidul hari ini, kamu masih bisa menemukan batu kapur yang penuh dengan jejak struktur terumbu karang serta fosil moluska laut yang terawetkan secara alami.

Tebing kapur Citatah Rajamandala di Bandung Barat yang merupakan bekas dasar laut purba dengan bentang alam karst hasil pengangkatan tektonik.

Tebing Citatah Rajamandala yang pernah Dikepung Lautan Purba

Beralih ke Jawa Barat, tepatnya di kawasan Rajamandala hingga Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta olahraga panjat tebing atau penikmat wisata alam eksotis seperti Stone Garden, tebing-tebing kapur menjulang tinggi di sini pasti sudah tidak asing lagi. Namun, tahukah kamu kalau tebing-tebing kokoh ini adalah bukti otentik kalau wilayah Bandung raya dulunya dikelilingi oleh lautan?

Kawasan Rajamandala-Citatah merupakan sisa dari kompleks terumbu karang luas yang tumbuh subur di Lautan Oligo-Miosen sekitar 20 hingga 30 juta tahun yang lalu. Ketika daratan Pulau Jawa bagian barat mengalami kompresi tektonik yang intensif, formasi terumbu karang tersebut terangkat dan terlipat menjadi benteng pertahanan batu kapur yang memanjang. Menemukan cangkang kerang kuno atau fosil biota laut berukuran mikro di sela-sela batuan kapur Stone Garden Citatah adalah hal yang sangat lumrah bagi para peneliti geologi, membuktikan bahwa tempat setinggi itu dulunya adalah spot menyelam yang dipenuhi kehidupan air.

Bukit Wairinding di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan hamparan perbukitan sabana bergelombang yang terbentuk oleh proses geologi jutaan tahun.

Bentang Alam Karst NTT Daratan Eksotis yang Terangkat dari Dasar Samudra

Kisah perubahan geologis terbesar mungkin bisa kita saksikan di Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah yang dikenal dengan sabana luas, perbukitan bergelombang, dan mata airnya yang jernih ini ternyata menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari dasar samudra purba.

Daratan kepulauan NTT terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Benua Australia yang bergerak ke utara dengan busur kepulauan vulkanik Banda. Proses tektonik yang berlangsung selama jutaan tahun tersebut secara perlahan mengangkat endapan karbonat dan terumbu karang purba dari dasar laut hingga menjadi daratan yang kita lihat saat ini. Karena itu, banyak wilayah di NTT didominasi bentang alam karst dengan batuan kapur yang merupakan sisa organisme laut purba.

Pemandangan seperti yang terlihat di Bukit Wairinding, Kabupaten Sumba Timur, menjadi gambaran indah bagaimana proses geologi mampu membentuk lanskap yang unik. Perbukitan sabana yang bergelombang memang terbentuk oleh proses geomorfologi yang lebih muda, namun kawasan ini berdiri di atas pulau yang lahir dari rangkaian pengangkatan tektonik dan evolusi geologi yang sama. Di berbagai wilayah NTT, terutama sekitar Kupang dan pulau-pulau sekitarnya, batuan kapur berongga, karst, hingga fosil organisme laut masih dapat ditemukan sebagai bukti bahwa kawasan ini pernah berada di bawah permukaan laut jutaan tahun silam.

Ketika Daratan dan Gunung Menyimpan Kenangan Laut

Setiap gunung, bukit kapur, dan pulau yang kita lihat hari ini menyimpan kisah yang jauh lebih tua daripada peradaban manusia. Sebagian daratan Indonesia lahir dari dasar laut yang perlahan terangkat selama jutaan tahun. Jejak itu masih dapat dibaca melalui fosil, batuan, dan bentang alam yang tersebar di berbagai daerah. Memahami kisah ini membuat kita semakin menghargai alam, bukan sekadar sebagai tempat wisata, tetapi sebagai warisan geologi yang tak ternilai.

Sebagai Sunners, yuk kita kenali Indonesia lebih dekat dengan tidak hanya menikmati keindahan visual wisatanya, tapi juga menghargai proses panjang di balik pembentukannya. Dengan menjaga kelestarian kawasan karst dan perbukitan bersejarah ini, kita ikut menghormati warisan alam sekaligus mengamankan masa depan ekosistem bumi kita agar tetap harmonis dan lestari

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 0