Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda Mulia
Sunners, pernahkah kamu mendengar atau mengucapkan kata “bahasa”, “adipura”, “pustaka”, atau “bahagia” dalam aktivitas sehari-hari? Pasti sering banget, kan? Menariknya, tanpa kita sadari, kosakata yang akrab di telinga kita itu sebenarnya berasal dari Bahasa Sanskerta. Yap, sebuah bahasa kuno yang ribuan tahun lalu sempat menjadi simbol ilmu pengetahuan, ritual agama, hingga otoritas kekuasaan para raja di seantero Nusantara.
Pada masa kejayaannya, bahasa ini dianggap sangat bergengsi dan hanya dikuasai oleh kalangan tertentu seperti pendeta, cendekiawan, dan kaum bangsawan. Rasanya mirip seperti tren penggunaan istilah bahasa asing tertentu yang dianggap “keren” atau bernilai tinggi oleh anak muda zaman sekarang. Namun, jika dahulu kedudukannya begitu agung dan berpengaruh besar, lalu bagaimana bisa bahasa ini lambat laun meredup dan menghilang dari percakapan sehari-hari masyarakat kita? Mari kita ulik bersama sejarah dan rahasia di balik bahasa klasik yang satu ini.

Bahasa Sanskerta adalah bahasa klasik rumpun Indo-Eropa berasal dari India kuno yang bermakna “yang disempurnakan” atau “murni”. Bahasa ini meredup dari penggunaan sehari-hari di Indonesia karena sifatnya yang sangat kompleks, elitis (hanya digunakan kaum pendeta dan bangsawan), serta tergeser oleh kepraktisan bahasa Melayu sebagai lingua franca bahasa pengantar atau bahasa perantara yang digunakan oleh masyarakat yang memiliki bahasa ibu berbeda agar bisa saling berkomunikasi di jalur perdagangan Nusantara.
Secara etimologi, nama Bahasa Sanskerta memiliki arti sebagai bahasa “yang disempurnakan” atau “murni”. Berasal dari wilayah India Utara sekitar tahun 1750–500 SM melalui migrasi suku Indo-Arya, bahasa klasik ini berevolusi dari bahasa Weda menjadi bentuk baku yang distandarisasi oleh seorang ahli bahasa bernama Pāṇini pada abad ke-4 SM.
Sebagai salah satu bahasa tertua yang tercatat di dunia, Sanskerta menduduki posisi penting sebagai bahasa suci dalam tradisi agama Hindu, Buddha, dan Jain. Struktur tata bahasanya terkenal sangat rapi, presisi, dan ilmiah. Bayangkan saja, ia memiliki 8 kasus gramatikal, 3 jenis kelamin kata (maskulin, feminin, dan netral), serta sistem bilangan yang unik meliputi singular, dualis, dan jamak. Karena tingkat kerumitannya yang tinggi, sejak awal kemunculannya pun bahasa ini bukan ditujukan sebagai alat komunikasi massal sehari-hari, melainkan media elit untuk penulisan teks filsafat, sains, ritual keagamaan, serta epos besar seperti Ramayana dan Mahabharata.

Meskipun kedengaran purba, eksistensi Bahasa Sanskerta sebenarnya tidak benar-benar lenyap seratus persen dari kehidupan modern kita. Tanpa disadari, bahasa kuno ini telah menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen kosakata serapan ke dalam Bahasa Indonesia modern.
Berikut adalah beberapa jejak nyata yang bisa dengan mudah kita temukan sekarang:

Alasan utamanya kembali pada sifat dasar dari bahasa itu sendiri. Bahasa Sanskerta memiliki struktur gramatikal yang terlampau rumit dan kompleks untuk dipelajari oleh masyarakat luas sebagai bahasa perhubungan sehari-hari (lingua franca). Sejak masa kerajaan, penggunaannya terbatas hanya pada lingkaran elite kraton dan para pemuka agama, sehingga tidak pernah mengakar di kalangan rakyat jelata. Ditambah lagi, seiring runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha sejak abad ke-14 dan digantikan oleh era Islamisasi, dominasi bahasa ini pun ikut meredup secara perlahan.
Ketika momen bersejarah Sumpah Pemuda dicetuskan pada tahun 1928, para tokoh bangsa membutuhkan sebuah bahasa yang inklusif, demokratis, dan mampu menyatukan ratusan suku bangsa di Nusantara. Pilihan tersebut akhirnya jatuh kepada bahasa Melayu. Dibandingkan Sanskerta, bahasa Melayu jauh lebih sederhana karena tidak mengenal tingkatan kasta bahasa, sudah lama dipakai sebagai bahasa perdagangan antarpulau, serta mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Sanskerta dinilai terlalu sulit untuk mendukung pergerakan nasionalisme modern yang membutuhkan efisiensi dan kesetaraan.
Meskipun Bahasa Sanskerta sudah lama mulai memudar dan tidak lagi terdengar dalam obrolan sehari-hari atau di media sosial kita, warisannya tetap hidup abadi dalam identitas budaya bangsa. Ia menjadi salah satu pilar penting yang membentuk fondasi bahasa nasional kita hari ini.
Sebagai Sunners, yuk mulai perhatikan kata-kata yang sering kita gunakan sehari-hari. Siapa tahu, kata yang baru saja kamu ketik di pesan singkatmu ternyata berasal dari bahasa kuno penuh estetika yang pernah berjaya ribuan tahun silam Dengan mengenali asal-usul bahasa sendiri, kita bisa lebih menghargai sejarah panjang yang telah membentuk Indonesia menjadi bangsa yang kaya akan keberagaman.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.