Majalah Sunday

Aku Berhenti Tidur 8 Jam, Apa yang terjadi?

Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia

Waktu itu, jam menunjukkan pukul 2.47 pagi. Mataku masih melek. 

Bukan karena begadang main game, bukan juga karena tugas numpuk. Tapi karena aku lupa caranya tidur nyenyak. Tidur 8 jam? Lelucon. Tidur 4 jam aja sekarang terasa kayak kemewahan yang nggak bisa aku nikmati lagi.

Semua berawal dari rasa penasaran, yang seharusnya di biarin aja mati.

Tapi nggak. Aku malah ngasih makan rasa penasaran itu, sampai dia tumbuh jadi monster yang sekarang duduk diam di pojok kamarku setiap jam 3 pagi. Menatapku. Sambil tersenyum tanpa mulut.

 

Awal mula dari rasa penasaran

Aku tipe orang yang suka mikir. Mungkin kebanyakan mikir. Dulu, teman-teman bilang aku overthinker. Tapi buatku, nggak ada yang salah dengan bertanya.

Kenapa harus 8 jam?
Siapa yang pertama kali nentuin?
Kenapa bukan 7 jam? Atau 9 jam?

Aku searching. Baca artikel kesehatan, jurnal ilmiah, sampai akhirnya jatuh ke satu forum anonim yang nggak akan pernah bisa aku lupakan. Namanya “nightmare council” nama yang dulu aku anggap edgy dan lebay, sekarang bikin bulu kuduk ku berdiri setiap kali aku ingat.

Di forum itu, ada satu thread pinned yang judulnya:

“Tidur 8 Jam adalah Kebohongan Terbesar dalam Sejarah Manusia”

Aku pun mencoba klik. Awalnya aku mikir cuma omongan konspirasi gila kayak “bumi itu datar” atau “lizard people menguasai pemerintahan”. Tapi makin aku baca, makin dingin ruangan ini. Bukan karena AC.

Thread itu bercerita tentang “The Somnus Council”. Katanya, mereka udah ada sejak ribuan tahun lalu. Nggak punya bentuk fisik. Mereka hidup di sela-sela realitas, tepat di celah antara sadar dan tidur. Mereka nggak bisa menguasai manusia yang terjaga, tapi mereka bisa mempengaruhi mimpi, membisikkan sugesti, dan pelan-pelan memprogram ulang otak manusia.

Aku Berhenti Tidur 8 Jam, Apa yang terjadi?

Manipulasi tidur 8 jam The Somnus Council

Cara The Somnus Council melakukan tindakannya adalah lewat sesuatu yang paling kita butuhkan setiap hari yaitu tidur.

Mereka yang mendanai penelitian tidur 8 jam selama puluhan tahun. Mereka yang menyusup ke jurnal-jurnal ilmiah, memastikan angka 8 jam menjadi standar global. Bukan demi kesehatan kita. Tapi demi satu jam kritis yang ingin mereka sembunyikan, “jam 3 pagi”.

Katanya, di jam itu suhu tubuh mencapai titik paling rendah, otak masuk fase tidur paling dalam, dunia masuk pada keheningan, dan saat itulah batas antar dimensi menjadi paling tipis. Kalau kamu kebangun secara alami di jam itu, tanpa intervensi mimpi buruk atau suara berisik… kamu akan melihat, apa yang selama ini sengaja disembunyikan.

Makhluk yang selalu ada di samping tempat tidurmu setiap malam, tapi nggak pernah bisa kamu lihat karena mereka hanya muncul ketika sadarmu sedang runtuh.

Aku tertawa waktu baca itu.

“Omong kosong,” kataku.

Tapi di dalam hati kecilku, seakan ada bisikan kecil “Coba aja dulu.”

Aku Berhenti Tidur 8 Jam, Apa yang terjadi?

Tantangan 30 Hari yang Mengubah Segalanya

Di forum yang sama, ada tantangan.

“3 AM Awakening Challenge”

Bangun setiap hari jam 3 pagi selama 30 hari. Jangan turun dari tempat tidur. Jangan buka pintu. Jangan berteriak. Cukup duduk diam. Catat apa yang kamu lihat. Kirim laporan di thread ini.

Pesertanya ribuan. Aku baca laporan mereka. Ada yang cuma bilang “nggak ada yang terjadi”. Tapi ada yang cerita lebih aneh seperti:

Malam ke-1 — ke-3: Sepi. Hanya lampu kamar yang berkedip sekali. Mungkin cuma gangguan listrik.

Malam ke-4: Aku mulai dengar suara napas. Bukan napasku. Napas pelan, ritmis, kayak orang lagi tidur nyenyak. Tapi aku sendiri di kamar.

Malam ke-5: Suara napas itu lebih dekat. Rasanya kayak ada yang berdiri tepat di belakang kepala tempat tidurku.

Malam ke-6: Aku hampir berhenti. Tapi rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut. Malam itu, aku sengaja nggak tidur sampai jam 3. Aku ingin sadar saat jendela waktu itu terbuka.

Malam ke-8, aku dengar suara detak jam dari dalam dinding. Padahal rumahku nggak punya jam dinding.

Malam ke-12, bayanganku di cermin nggak ikut gerak. Aku angkat tangan kanan. Bayanganku angkat tangan kiri.

Malam ke-21, aku nggak berani lanjut. Ada sosok duduk di ujung kasurku. Nggak bergerak. Cuma diam. Tapi aku tahu dia lihat aku.

Kenyataan atau hanya sekedar konspirasi?

Aku masih skeptis. Aku butuh bukti.

Malam itu juga, aku mulai tantangan ini.

Aku duduk diam. Menunggu.

Jam digital di sampingku berdetak. …2:58… 2:59… dan akhirnya “teng jam 3:00”.

Jantungku berdegup kencang. Mataku jelalatan ke seluruh ruangan. Awalnya, nggak ada yang aneh. Cuma bayangan biasa dari lemari dan meja belajar. Tapi kemudian…

Aku mendengar sesuatu.

Bukan napas kali ini.

Tapi bisikan.

Bukan kata-kata yang jelas. Lebih kayak suara orang berbicara di balik tembok, cuma aku nggak punya tetangga di sebelah kamar ini.

Bisikan itu datang dari dalam cermin.

Aku menoleh. Wajahku sendiri terlihat pucat di bawah cahaya lampu jalan yang masuk lewat jendela. Tapi ada yang nggak beres.

Mulutku di cermin… sedikit lebih miring ke kanan daripada mulut asliku.

Aku coba senyum. Bayanganku juga senyum. Tapi saat aku berhenti senyum, dia tetap tersenyum.

Aku nggak tidur lagi malam itu.

Setelah kejadian di malam ke-6, aku mulai serius. Bukan buat lanjutin tantangan ini, tapi buat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Fakta di balik tidur 8 jam & Project Lullaby

Aku kembali ke forum. Lebih dalam. Hingga aku menemukan sebuah tautan yang di-password. Tapi karena aku udah jadi member aktif, admin memberikan ku akses.

Isinya adalah bocoran dokumen FBI yang dideklasifikasi tahun 2018, tapi sepertinya sengaja dikubur lagi karena terlalu “sensitif”.

Dokumen itu bernama Project Lullaby.

Aku baca sambil tangan dingin dan bulu kuduk berdiri.

“Subjek: Investigasi terhadap ilmuwan yang menolak standar tidur 8 jam.

Temuan: Seluruh ilmuwan yang meneliti efek bangun pukul 03.00 ditemukan meninggal dalam kondisi seragam:

  • Mata terbuka
  • Tubuh kaku seperti mayat (rigor mortis terjadi terlalu cepat)
  • Seluruh jam analog di rumah mereka berhenti di angka 3:15
  • Hasil autopsi: NEGATIF racun, NEGATIF trauma fisik.

 

Kesimpulan sementara: Kematian disebabkan oleh ‘henti jantung spontan akibat paparan frekuensi yang tidak teridentifikasi’. Namun tidak ada sumber frekuensi yang ditemukan di lokasi.

Catatan tambahan: Salah satu ilmuwan sempat meninggalkan rekaman suara sebelum meninggal. Dalam rekaman itu, terdengar suara berat napas dan satu kalimat yang diucapkan berulang:

‘Mereka tahu aku sadar. Mereka nggak suka. Aku lihat pintunya. JANGAN BUKA DI BUKA, PINTU ITU!!’

Rekaman terputus. Tidak ada kelanjutan.

Kengerian dan ketakutan yang mulai menyelimutiku

Setelah membaca itu, aku langsung tutup laptop. Nafasku sesak. Aku nggak pernah merasa sekecil ini. Bukan karena takut mati, tapi karena sadar bahwa mungkin selama ini, kita semua cuma ternak.

Dikandangkan dengan anjuran tidur 8 jam. Dimanipulasi dengan informasi. Dibius dengan kelelahan rutinitas. Semua itu supaya kita nggak pernah atau nggak pernah sekali pun atau kebangun di jam 3 pagi dan benar-benar sadar.

Aku berhenti tantangan di malam ke-7.

Tapi masalahnya… aku nggak bisa berhenti kebangun jam 3 pagi.

Setiap malam, tepat jam 3.00, mataku terbuka sendiri. Kayak ada yang ngeklik sakelar di otakku.

Dan setiap malam, aku selalu merasa ada yang berdiri di samping tempat tidurku.

Aku nggak pernah cukup berani buat lihat ke samping. Tapi aku bisa merasa.

Aura dingin. Napas samar. Dan kadang-kadang… jari-jari dingin yang menyentuh pelan pergelangan tanganku.

Cuma sebentar. Cuma satu detik. Tapi cukup buat jantungku berhenti sebentar.

Suatu malam, aku memutuskan untuk memutar rekaman suara di kamar. Ponsel kusetel merekam dari jam 2.50 sampai 3.30.

Pagi harinya, aku putar rekamannya.

Satu jam pertama sunyi.

Tepat di menit 3:00, ada suara.

Tapi bukan napas. Bukan bisikan.

Suara kursi berderit.

Padahal di kamarku nggak ada kursi yang bisa berderit. Disisi lain kursi belajarku dari plastik.

Dan di akhir rekaman, sebelum aku stop di menit 3.30, ada suara paling jelas yang pernah aku dengar dalam hidupku:

“Aku tahu kamu dengar aku.”

Suaranya… mirip suara ku sendiri.

Tapi lebih dalam. Lebih kosong. Kayak suara dari dalam sumur.

Aku Berhenti Tidur 8 Jam, Apa yang terjadi?

Teror mengerikan, dan dia yang semakin menjadi

Malam ini adalah malam ke-34 sejak aku memulai perjalanan gila ini. Aku sudah berhenti tantangan, tapi jam 3 pagi tetap jadi jadwal tetap kebangkitan jiwaku.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Lampu mati. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela kamar.

Dan di sudut ruangan, cermin besarku menangkap pantulan.

Aku lihat ke cermin.

Wajahku sendiri menatapku.

Tapi kali ini, dia nggak ikut gerak.

Aku angkat tangan kanan. Bayanganku diam.

Aku tersenyum. Bayanganku menangis.

Aku buka mulut mau bicara. Tapi dari cermin, mulut bayanganku sudah bergerak lebih dulu, membentuk kata-kata tanpa suara.

Aku bisa membaca bibirnya.

“Ayo masuk.”

Jantungku berhenti sedetik.

Lalu bayanganku mulai merangkak keluar dari cermin.

Sebuah akhir & harga yang harus dibayar

Aku sadar sekarang.

Rasa penasaran itu nggak akan pernah cukup dijawab dengan membaca. Nggak akan cukup dengan nonton video, melihat informasi yang diedarkan bebas di internet, dan nggak akan cukup dengan ngobrol di forum.

Rasa penasaran itu hanya akan puas kalau dialami sendiri.

Tapi pertanyaannya, kamu berani?

Karena aku sekarang terjebak. Antara sadar terlalu banyak, dan nggak bisa lagi berpura-pura nggak tahu. Setiap malam, bayanganku sendiri berusaha keluar dari cermin. Setiap malam, aku harus kuat-kuatin diri buat nggak lihat ke samping tempat tidur. Setiap malam, aku mendengar suara yang sama dan terus menghantui ku.

“Ayo masuk. Nggak sakit kok. Cuma… gelap. Tapi di sini, kamu nggak perlu tidur 8 jam. Nggak pernah.”

Apakah kamu masih percaya tidur 8 jam itu baik untukmu?

Atau… mungkin ini saatnya kamu mulai bertanya:

Siapa sebenarnya yang memprogram kita untuk tidur di jam itu?
Dan… apa yang terjadi kalau kita berhenti mendengarkan?

Coba cari tahu.

Tapi jangan bilang aku nggak peringatkan kamu, mungkin suatu malam nanti, aku akan kasih jawaban atau… bayanganku yang akan kasih jawaban.

Siapa yang tau kan? Kalau aku masih diriku, atau bayangan di balik cermin?

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4