Skip to main content

Majalah Sunday

Pelajaran dari TATBILB: Benarkah Cinta Bisa Tumbuh dari Kepura-puraan?

Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia

Pernahkah kamu membaca novel, menonton film dengan trope fake dating, atau justru pernah mengalaminya sendiri, berpura-pura dekat dengan seseorang demi tujuan tertentu, tetapi malah berujung bawa perasaan? Gagasan tentang cinta yang tumbuh dari kesepakatan berpura-pura kerap dianggap sebatas fiksi pemanis cerita. Padahal, skenario fake dating memiliki penjelasan yang masuk akal dalam interaksi antarmanusia. Ketika dua orang sepakat berpura-pura, mereka secara tidak langsung membangun ruang sosial baru yang menuntut komunikasi secara rutin.

Skenario fake dating sudah lama menjadi kiasan populer yang menghiasi berbagai film romantis hingga serial drama. Formula ini kerap dipakai karena memiliki konflik yang memikat, yakni dua orang yang awalnya berjarak terdorong untuk berpura-pura dekat demi tujuan tertentu, sampai akhirnya sandiwara tersebut tanpa sadar berubah menjadi perasaan yang nyata.

Trope ini terpotret jelas dalam salah satu film berjudul To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Lara Jean ingin menghindari kecanggungan setelah surat-surat cinta rahasianya bocor, termasuk ke Josh, mantan pacar kakaknya. Di sisi lain, Peter memanfaatkan situasi tersebut untuk membuat mantannya, Gen, merasa cemburu. Alih-alih berhenti sebagai trik sesaat, kesepakatan ini terus berlanjut karena godaan dan sorotan teman-teman di sekolah yang menganggap mereka benar-benar berpacaran. Pada akhirnya, kepura-puraan yang dirancang untuk kepentingan masing-masing itu justru menumbuhkan keterikatan emosional yang tulus di antara keduanya.

Lalu, benarkah perasaan cinta bisa tumbuh dari skenario kepura-puraan?

ilustrasi trope fake dating lara jean dan peter kavinsky di TATBILB
Lara Jean dan Peter dalam Film TATBILB

Dekonstruksi Persona dan Low-Stakes Environment

Seseorang cenderung menampilkan citra diri terbaik ketika berhadapan dengan sosok yang disukai. Kecenderungan ini dipicu oleh ketakutan akan penolakan (fear of rejection). Keinginan untuk selalu tampil sempurna justru berisiko menciptakan jarak dan rasa canggung.

Ketika sebuah hubungan sejak awal didefinisikan sebagai “cuma pura-pura”, label tersebut menekan beban risiko sosial hingga ke tingkat paling minimal (nothing to lose). Status kepura-puraan bertindak sebagai pelindung yang melumpuhkan gengsi. Lara Jean tidak terbebani kecemasan untuk terlihat sempurna di mata Peter, sementara Peter dapat melepas tuntutan untuk selalu mempertahankan citra anak populer yang tanpa cela.

Hilangnya beban ekspektasi ini pun meluruhkan benteng pertahanan diri secara alami. Saat tuntutan untuk saling mengesankan dikesampingkan, kedua pihak justru memperoleh ruang untuk tampil apa adanya. Dari sinilah ketertarikan sungguhan tumbuh begitu tekanan menghilang dan karakter asli mereka perlahan terlihat.

Peer Teasing

Selain faktor internal dari kedua belah pihak, dorongan eksternal dari lingkungan sekitar juga memegang peran penting. Perlakuan dari teman sebaya atau lingkungan sekolah yang terlanjur menganggap dua orang sebagai pasangan (peer teasing).

Keterikatan yang dipicu oleh tekanan publik ini tergambar jelas pada alur cerita TATBILB. Ketika Peter dan Lara Jean mulai tampil sebagai pasangan di depan umum, perhatian seluruh sekolah langsung tertuju pada mereka, mulai dari rumor yang beredar di koridor sekolah sampai godaan dari teman-teman mereka di kantin. Orang-orang melihat mereka sebagai pasangan sungguhan

Melalui efek ekspektasi sosial, mereka pun secara tak sadar mulai menyesuaikan perilakunya demi memenuhi anggapan sosial yang melekat. Demi menjaga konsistensi skenario di depan umum, Peter dan Lara Jean terdorong untuk menampilkan gestur mesra, seperti saat Peter memasukkan tangannya ke kantong celana Lara Jean sewaktu berjalan berdampingan.

Sunners, kamu mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri pola yang sama. Kamu yang awalnya biasa saja bisa mendadak mulai memperhatikan sosoknya  karena teman-teman sekeliling terus-menerus mengaitkan nama kalian. Kamu yang awalnya biasa saja bisa mendadak mulai menaruh perhatian pada teman yang terus-menerus dikaitkan namanya denganmu. Candaan dan dorongan lingkungan itu seolah memaksa kalian untuk terus berinteraksi secara konsisten, hingga akhirnya respons spontan terhadap godaan publik bertransformasi menjadi ketertarikan sungguhan.

Self-Disclosure

Kedekatan yang bermakna tidak tumbuh begitu saja tanpa adanya keterbukaan diri (self-disclosure). Pada awalnya, interaksi biasanya hanya diisi oleh obrolan seputar aturan kesepakatan atau hal-hal kasual di permukaan yang kemudian menciptakan ruang aman (safe space) yang membantu menekan rasa cemas akan penilaian negatif sewaktu seseorang memperlihatkan sisi rapuhnya.

Seiring berjalannya waktu, safe space ini kemudian membuat kedua belah pihak yang terbawa perasaan ini menurunkan benteng pertahanan mereka. Ketika interaksi terasa makin nyaman dan bebas dari beban untuk saling mengesankan, topik percakapan secara bertahap mulai berubah menjadi lebih personal. Keterbukaan dari satu pihak ini secara alami memicu aksi saling jujur yang kemudian  berubah menjadi fondasi ikatan interpersonal yang tulus.

ilustrasi dua orang menjalani fake dating yang mulai terbuka lewat self disclosure
(Gambar: Unsplash)

Mere-Exposure Effect

Faktor lain yang memperkuat tumbuhnya ikatan emosional adalah efek keterpaparan berulang (Mere-Exposure Effect). Konsep psikologi ini menjelaskan bahwa makin sering kita bertemu dan berinteraksi dengan seseorang, makin tinggi pula rasa suka dan nyaman yang tumbuh terhadap orang tersebut.

Dalam cerita TATBILB, efek ini terbangun lewat rutinitas sederhana mereka sehari-hari. Mulai dari Peter yang setiap pagi rela menyeberangi kota menggunakan mobil Jeep miliknya untuk menjemput Lara Jean  sampai aksi perhatian Peter yang sengaja pergi ke supermarket Asia demi membelikan satu pak Korean yogurt smoothie untuk Lara Jean saat ski trip.

Di dunia nyata, rasa terbiasa (familiarity) ini sangat sering dialami siapa saja yang menghabiskan banyak waktu bersama, seperti teman seproyek atau rekan satu organisasi. Namun, ada batas jelas yang perlu kamu pahami juga. Rasa nyaman akibat sering bertemu tidak selalu berarti komitmen romantis yang matang. Sering kali seseorang keliru menganggap rasa familiarity ini sebagai kepastian perasaan. Padahal, tanpa komunikasi yang jujur dan jelas secara dua arah, perasaan tersebut berisiko hanya menjadi harapan satu arah.

Jadi, Benarkah Cinta Bisa Tumbuh dari Kepura-puraan?

Perasaan Lara Jean dan Peter tumbuh karena proses interaksi di dalamnya. Hubungan tersebut memberi mereka kesempatan untuk berkomunikasi secara rutin, saling terbuka, dan melewati banyak momen bersama.

Skenario ini menjadi gambaran bagaimana kedekatan dapat tumbuh ketika tekanan untuk mengesankan orang lain berkurang, lingkungan mulai memperlakukan dua orang sebagai pasangan, dan interaksi yang berulang membangun rasa akrab.

Meski begitu, kepura-puraan tidak secara otomatis membuat dua orang berujung jatuh cinta. Dalam kehidupan nyata, sebuah hubungan  juga tetap membutuhkan ketertarikan tulus, komunikasi yang jelas, dan perasaan yang tumbuh secara timbal balik.

Produk Rekomendasi Sunday

Jadi, menurut Sunners, apakah dua orang yang awalnya pura-pura berpacaran bisa benar-benar jatuh cinta karena terlalu sering bersama? Atau justru perasaan itu muncul karena mereka akhirnya mengenal sisi asli satu sama lain?

Kalau kamu berada di posisi Lara Jean, apakah kamu berani menjalani fake dating dengan seseorang yang mungkin bisa membuatmu jatuh hati sungguhan?

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 9