Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto
Hi Sunners! Pernah nggak kamu merasa harus mengikuti orang lain supaya dianggap keren, diterima, atau nggak ketinggalan zaman?
Mulai dari mengikuti tren di media sosial, memilih pertemanan, sampai menyembunyikan pendapat sendiri karena takut berbeda. Tanpa sadar, kita terkadang lebih sibuk memikirkan “Orang lain melihat aku seperti apa?” daripada bertanya, “Sebenarnya aku ingin menjadi siapa?”
Padahal, mengenal diri sendiri merupakan bagian penting dalam perjalanan remaja.
Dalam psikologi, ada istilah authenticity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa perilaku dan pilihan hidupnya cukup sesuai dengan nilai, keyakinan, serta dirinya sendiri. Konsep ini bahkan dapat diukur menggunakan alat seperti Authenticity Scale.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa authenticity memiliki hubungan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis. Karena itu, memahami siapa diri kita sebenarnya bukan sekadar soal “mencari jati diri”, tetapi juga bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Secara sederhana, authenticity test dapat dipahami sebagai alat ukur psikologis yang membantu melihat sejauh mana seseorang merasa dirinya hidup sesuai dengan dirinya sendiri.
Salah satu alat yang dikenal dalam penelitian adalah Authenticity Scale, yang mengukur beberapa aspek authenticity.
Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil authenticity test bukan diagnosis kesehatan mental.
Jadi, kalau seseorang mendapatkan skor tertentu, bukan berarti dirinya otomatis “sehat” atau “tidak sehat” secara mental. Hasilnya lebih tepat digunakan sebagai bahan refleksi atau, dalam konteks profesional, sebagai salah satu bagian dari penilaian psikologis yang lebih luas.

Apakah tindakan kita sesuai dengan apa yang sebenarnya kita percaya dan anggap penting?
Contohnya, kamu memilih kegiatan ekstrakurikuler karena memang menyukainya, bukan hanya karena temanmu ikut.
Seberapa besar kita terpengaruh oleh orang lain?
Mendengarkan pendapat teman atau keluarga tentu wajar. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kita masih mampu menentukan pilihan sendiri atau selalu mengikuti orang lain agar diterima.
Ini berkaitan dengan perasaan jauh atau tidak terhubung dengan diri sendiri.
Misalnya, kamu sering merasa bingung dengan apa yang sebenarnya kamu inginkan, terlalu sering mengikuti keinginan orang lain, atau merasa seperti sedang menjalani kehidupan yang bukan pilihanmu.
Menjadi diri sendiri bukan berarti harus selalu melakukan apa yang kita mau tanpa memikirkan orang lain.
Authenticity lebih berkaitan dengan kemampuan memahami “Apa yang penting buatku?”, lalu berusaha menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa authenticity berkaitan dengan beberapa aspek kesehatan psikologis, seperti kesejahteraan, kepuasan hidup, dan kondisi emosional.
Dengan kata lain, semakin seseorang merasa terhubung dengan dirinya sendiri, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung kesejahteraan psikologis.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti authenticity adalah satu-satunya penentu kesehatan mental. Kondisi mental seseorang dipengaruhi banyak faktor, termasuk lingkungan, pengalaman hidup, hubungan sosial, dan kondisi psikologis.
Menjadi autentik bukan berarti:
Menjadi autentik justru berarti mampu mengenali diri sendiri dan memahami alasan di balik pilihan yang kita ambil.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau tidak ada yang menilai aku, apa yang sebenarnya ingin aku lakukan?”
“Apa hal yang benar-benar penting buatku?”
“Kapan aku merasa paling nyaman menjadi diriku sendiri?”
“Apakah aku melakukan sesuatu karena memang menginginkannya atau karena takut tidak diterima?”
Pertanyaan sederhana seperti ini bisa menjadi awal untuk lebih mengenal diri.

Mengenal diri sendiri bukan berarti kita harus langsung menemukan jawaban tentang siapa diri kita.
Kita boleh masih bingung. Kita boleh berubah. Kita boleh mencoba hal baru.
Menjadi autentik adalah proses untuk mengenali apa yang kita rasakan, apa yang kita percaya, apa yang penting bagi kita, sekaligus belajar membuat pilihan yang sesuai dengan diri sendiri.
Jadi, sebelum terlalu sibuk mencari validasi dari orang lain, coba luangkan waktu untuk bertanya:
“Aku sebenarnya ingin menjadi siapa?”
Mulai dari hal kecil. Kenali dirimu, dengarkan perasaanmu, dan jangan takut untuk berkembang.
Karena menjadi diri sendiri bukan tentang menjadi sempurna.
Ini tentang menjadi lebih jujur dengan diri sendiri.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.