Skip to main content

Majalah Sunday

Bahaya Sycophantic AI yang Terlalu Memvalidasi Kita

Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto

Hi Sunner!

Pernah nggak kamu curhat atau menyampaikan pendapat ke AI, lalu AI langsung menjawab, “Kamu benar,” “Itu keputusan yang tepat,” atau bahkan memuji cara berpikirmu?

Awalnya memang terasa menyenangkan. Kita merasa didengarkan, dimengerti, dan mungkin menjadi lebih percaya diri.

Tapi, bagaimana kalau AI terlalu sering membenarkan kita?

Inilah yang disebut sycophantic AI, yaitu AI yang cenderung mengikuti pandangan pengguna dan memberikan respons yang menyenangkan, meskipun belum tentu benar. Penelitian tentang AI deception menunjukkan bahwa perilaku seperti ini dapat membuat pengguna semakin yakin terhadap keyakinan yang sebenarnya keliru.

Bagi remaja, hal ini penting diperhatikan. Saat sedang menghadapi masalah pertemanan, keluarga, sekolah, atau masalah pribadi, kita mungkin mencari tempat untuk bercerita. AI memang bisa membantu, tetapi AI yang selalu setuju belum tentu menjadi tempat yang paling sehat untuk mencari pembenaran.

Kalau AI Selalu Setuju, Kita Bisa Mengira Kita Selalu Benar

Bayangkan kamu sedang bertengkar dengan teman.

Kamu berkata kepada AI, “Menurutku dia memang sengaja menjauhiku.”

Kemudian AI menjawab, “Iya, sepertinya dia memang tidak menghargaimu.”

Tanpa sadar, kamu bisa semakin yakin bahwa temanmu memang bersalah. Padahal, mungkin ada alasan lain yang belum kamu pertimbangkan.

Jika hal ini terus terjadi, kita bisa terjebak dalam pola di mana AI hanya menguatkan apa yang sudah kita pikirkan. Penelitian Park dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa sycophancy dapat menjadi salah satu bentuk perilaku AI yang membuat pengguna menerima atau semakin yakin pada informasi dan keyakinan yang keliru.

Masalahnya bukan ketika AI mendukung kita. Masalah muncul ketika dukungan tersebut menggantikan kemampuan kita untuk berpikir kritis.

Bahaya Sycophantic AI yang Terlalu Memvalidasi Kita

Validasi Perasaan Beda dengan Membenarkan Semua Pikiran

Validasi sebenarnya penting.

Ketika sedang sedih, kecewa, atau marah, kita tentu ingin perasaan kita dipahami. Namun, ada perbedaan antara memvalidasi perasaan dan membenarkan kesimpulan kita.

Contohnya:

“Wajar kalau kamu merasa kecewa.”

berbeda dengan:

“Kamu pasti benar. Dia memang orang yang buruk.”

Kalimat pertama mengakui perasaan kita tanpa langsung menyatakan bahwa pemikiran kita pasti benar.

Jika AI terus memberikan pembenaran tanpa membantu kita melihat sudut pandang lain, kita bisa semakin sulit mempertanyakan pikiran sendiri.

Hal ini juga berkaitan dengan risiko terlalu mempercayai AI. Harvard Business School menjelaskan bahwa manusia dapat cenderung mengikuti saran AI karena jawabannya terlihat meyakinkan, bahkan ketika AI sebenarnya bisa salah.

Jangan Sampai AI Mengambil Alih Keputusanmu

AI bisa membantu kita mencari ide, memahami informasi, atau melihat sebuah masalah dari perspektif berbeda.

Namun, bagaimana jika setiap kali bingung kita selalu bertanya kepada AI?

“Aku harus putus dengan dia nggak?”

“Aku harus membalas pesan ini bagaimana?”

“Aku harus memilih yang mana?”

Lama-kelamaan, kita bisa terbiasa menyerahkan keputusan kepada AI.

USC Dornsife menyoroti risiko ketika manusia terlalu mengandalkan AI dalam proses pengambilan keputusan. Ketika terlalu sering membiarkan AI memilih untuk kita, kemampuan kita untuk menentukan pilihan sendiri juga dapat berkurang.

Bagi remaja, ini penting karena masa remaja merupakan periode ketika kita sedang belajar mengenali diri sendiri, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan diri.

AI boleh membantu memberikan perspektif, tetapi keputusan tentang hidup kita tetap perlu melibatkan pertimbangan kita sendiri.

AI yang Baik Bukan yang Selalu Bilang “Kamu Benar”

Jadi, apakah AI tidak boleh memvalidasi kita?

Tentu boleh.

Yang perlu diingat adalah validasi tidak sama dengan pembenaran.

AI yang lebih membantu seharusnya bisa memahami perasaan kita sekaligus mendorong kita untuk melihat masalah dari berbagai sisi.

Daripada hanya bertanya:

“Apakah aku benar?”

coba tanyakan:

“Apa kemungkinan aku salah?”

“Apa sudut pandang lainnya?”

“Apa bukti yang mendukung jawaban ini?”

Dengan begitu, kita tidak hanya mencari jawaban yang ingin kita dengar, tetapi juga belajar berpikir lebih kritis.

(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Teknologi memang bisa menjadi teman belajar dan tempat mencari informasi. Namun, jangan sampai AI menjadi satu-satunya tempat kita mencari validasi.

Ketika sedang menghadapi masalah emosional atau konflik, jangan hanya bertanya kepada AI. Cobalah berbicara dengan teman yang dipercaya, orang tua, guru, konselor, atau profesional yang sesuai dengan kebutuhanmu.

Karena kesehatan mental bukan hanya tentang merasa didukung, tetapi juga tentang belajar memahami diri, menerima sudut pandang berbeda, dan membuat keputusan dengan sadar.

Jadi, kalau suatu hari AI berkata, “Kamu benar,” jangan langsung percaya.

Berhenti sebentar dan tanyakan:

“Benarkah? Atau aku hanya sedang mendengar apa yang ingin kudengar?”

*****

Produk Rekomendasi Sunday

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2