Penulis: Rafi Bintang Maulana – Telkom University
Pernah kepikiran nggak, jurusan atau profesi yang kamu incar sekarang bakal masih relevan nggak sih 10 tahun lagi? Pertanyaan ini makin sering muncul seiring otomasi dan AI yang mulai masuk ke berbagai sektor pekerjaan.
Kabar baiknya, ini bukan berarti “kiamat lapangan kerja” yang bikin semua orang nganggur. Yang terjadi lebih ke pergeseran, sebagian pekerjaan meredup, sementara peluang baru justru bermunculan. Nah, biar kamu nggak salah langkah milih arah karier, yuk kenalan sama skill yang dibutuhkan di masa depan supaya kamu makin siap menghadapi peta peluang kerja di era otomasi ini, lengkap dengan langkah langkah konkret yang bisa langsung kamu coba.
Otomasi paling gampang mengambil alih pekerjaan yang sifatnya rutin dan bisa diprediksi polanya. Beberapa contohnya:
Meski begitu, pergeseran ini biasanya nggak terjadi instan. Perusahaan umumnya mengganti tugas rutin lebih dulu, baru menyusul tugas yang lebih kompleks seiring teknologinya makin matang. Artinya, kamu masih punya waktu buat menyesuaikan arah karier, asal nggak menunda mulai belajar dari sekarang.

Di sisi lain, ada sektor sektor yang permintaannya justru naik, terutama yang butuh sentuhan manusia, keahlian teknis tinggi, atau kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru, hal hal yang masih sulit ditiru AI.
Pola ini nunjukin satu hal penting: otomasi nggak cuma menghilangkan pekerjaan, tapi juga melahirkan kebutuhan baru yang sebelumnya nggak ada. Justru di titik inilah peluang terbesar buat kamu yang mau bersiap lebih awal.
Satu hal menarik yang perlu kamu tahu: otomasi biasanya nggak langsung menghapus satu profesi secara keseluruhan. Yang lebih sering terjadi, bagian “gampang” dari suatu pekerjaan yang diotomasi, sementara yang tersisa jadi makin membutuhkan keahlian spesifik.
Contohnya, pekerjaan proofreading yang dulunya sekadar mengecek ejaan, sekarang bergeser jadi editing tingkat lanjut yang butuh judgement lebih tajam. Pola serupa juga kelihatan di bidang akuntansi, tugas pencatatan dasar makin banyak diotomasi, sementara peran analis keuangan yang bisa membaca tren dan kasih rekomendasi strategis justru makin dicari. Artinya, semakin tinggi level skill dan spesialisasi kamu, semakin besar juga peluang kamu tetap relevan di tengah gempuran otomasi.
Kalau kamu masih pelajar atau mahasiswa, ini saat yang pas buat mulai investasi ke skill yang dibutuhkan di masa depan, bukan cuma mengejar nilai atau gelar. Berikut lima skill yang paling disorot, lengkap dengan cara sederhana buat mulai melatihnya:
Adaptabilitas. kemampuan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan. Cara melatihnya, biasakan keluar dari zona nyaman, misalnya ambil proyek atau organisasi di bidang yang belum pernah kamu coba.
Critical thinking. kemampuan menganalisis dan mengevaluasi informasi, bukan sekadar menerima mentah mentah. Latihan sederhananya, biasakan bertanya “kenapa” dan “bagaimana” sebelum menyimpulkan sesuatu, atau aktif di diskusi maupun debat.
Kreativitas. kemampuan menciptakan ide atau solusi orisinal, area yang masih jadi kelemahan AI. Bisa diasah lewat proyek pribadi, menulis, desain, atau eksperimen apa pun yang memaksa kamu berpikir di luar pola umum.
Emotional intelligence. kepekaan memahami dan mengelola emosi, baik diri sendiri maupun orang lain. Bisa diasah lewat kerja tim, organisasi, atau kegiatan sukarela yang banyak melibatkan interaksi sosial.
Literasi teknologi dan data. pemahaman dasar soal data, pemrograman, atau etika AI. Nggak perlu langsung jago, yang penting mulai kenal dulu lewat kursus online, banyak kok yang gratis.
Biar nggak berhenti di teori, ini beberapa langkah nyata yang bisa langsung kamu coba mulai sekarang:
Ikut kursus atau sertifikasi online: platform seperti Coursera, Skill Academy, atau Udemy bisa jadi titik awal kenalan sama skill baru, banyak pilihan yang gratis.
Bangun portofolio nyata: nggak perlu langsung proyek besar, cukup mulai dari hal kecil seperti tulisan, desain, atau aplikasi sederhana yang bisa kamu tunjukkan ke orang lain.
Aktif di organisasi atau komunitas: baik di sekolah, kampus, maupun komunitas belajar di luar kampus, ini tempat paling efektif buat melatih soft skill sambil memperluas jaringan.
Cari pengalaman magang atau proyek nyata sedini mungkin: pengalaman langsung di lapangan biasanya kasih gambaran lebih jelas soal skill apa yang benar benar dibutuhkan industri.
Terus update wawasan soal tren industri: baca riset, ikut webinar, atau follow akun akun yang rutin bahas perkembangan teknologi dan dunia kerja.

Yuk, mulai dari sekarang. Otomasi bukan alasan buat panik, tapi sinyal buat mulai bersiap lebih awal. Daripada cuma mikirin “pekerjaan apa yang bakal hilang”, coba alihkan fokus ke “skill apa yang bisa aku asah dari sekarang”.
Coba deh, mulai eksplorasi satu skill baru minggu ini. Kamu bisa ikut kelas online gratis, gabung komunitas belajar data atau AI dasar, atau iseng bikin proyek kecil yang menggabungkan kreativitas dan teknologi. Langkah kecil hari ini bisa jadi bekal besar buat kariermu nanti.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.