Skip to main content

Majalah Sunday

Mengenal Ume Kbubu, 'Kulkas' Alami Masyarakat NTT yang Mampu Mengawetkan Makanan Berbulan-bulan hingga Tahunan

Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda Mulia.

Sunners, pernah membayangkan bagaimana masyarakat zaman dahulu menyimpan makanan sebelum ada kulkas? Kalau sekarangkan kita tinggal memasukkan bahan makanan ke dalam lemari pendingin agar tetap segar, masyarakat Suku Dawan di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata punya lohh cara cerdas jauh sebelum listrik hadir. Rahasianya bukan berasal dari teknologi modern, melainkan dari sebuah rumah adat bernama Ume Kbubu yang mampu menjaga hasil panen tetap awet selama berbulan-bulan bahkan hingga tahunan.

Bagi masyarakat Suku Dawan atau Atoni Meto, Ume Kbubu bukan hanya tempat berlindung. Rumah tradisional ini menjadi pusat kehidupan keluarga sekaligus menyimpan pengetahuan turun-temurun tentang bagaimana menjaga persediaan pangan agar tetap tersedia sepanjang tahun.

Rumah adat Ume Kbubu milik masyarakat Suku Dawan di Nusa Tenggara Timur.

Apa Itu Ume Kbubu?

Secara etimologi, ume berarti rumah, sedangkan kbubu berarti bundar atau bulat. Sesuai namanya, Ume Kbubu memiliki bentuk bundar dengan atap kerucut dari alang-alang yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Rumah ini banyak dijumpai di wilayah Pulau Timor, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), dan beberapa daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur.

Sekilas, bentuknya mungkin terlihat sederhana. Namun, setiap bagian rumah ini dirancang untuk menyesuaikan kondisi alam. Atap alang-alang yang tebal membantu menjaga suhu di dalam ruangan tetap hangat, sementara pintunya dibuat rendah sehingga setiap orang yang masuk harus membungkukkan badan sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.

Di bagian tengah rumah terdapat tungku perapian yang hampir selalu menyala. Keberadaan tungku inilah yang kemudian menjadikan Ume Kbubu memiliki fungsi yang jauh lebih istimewa dibanding sekadar rumah adat.

Jagung hasil panen digantung di dalam Ume Kbubu untuk diawetkan menggunakan asap dari tungku.

Ume Kbubu, 'Kulkas' Alami Masyarakat NTT

Salah satu fungsi paling penting Ume Kbubu adalah sebagai tempat menyimpan sekaligus mengawetkan hasil panen. Karena kemampuannya menjaga bahan makanan tetap awet tanpa listrik, rumah tradisional ini sering dianalogikan sebagai “kulkas alami” masyarakat NTT.

Di bagian atas tungku terdapat para-para atau langit-langit rumah yang digunakan untuk menggantung berbagai hasil panen, seperti jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian, hingga daging. Posisi penyimpanan yang berada tepat di atas tungku membuat bahan makanan terus terkena asap dari api yang menyala setiap hari.

Bagi masyarakat Suku Dawan, cara ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari sistem ketahanan pangan yang telah diwariskan selama bergenerasi. Saat musim panen tiba, hasil bumi tidak langsung dihabiskan, tetapi disimpan sebagai cadangan makanan sekaligus benih untuk musim tanam berikutnya.

Ilustrasi varian olahan jagung khas Nusa Tenggara Timur berupa Jagung Bose, Jagung Katemak, dan nasi jagung yang diolah dari hasil panen atau jagung yang disimpan di Ume Kbubu.

Bagaimana Ume Kbubu Mengawetkan Makanan?

Berbeda dengan kulkas modern yang menggunakan suhu dingin, Ume Kbubu memanfaatkan panas dan asap dari tungku sebagai media pengawetan alami. Asap yang terus naik menuju langit-langit rumah membantu mengurangi kadar air pada bahan pangan sehingga pertumbuhan jamur, bakteri, maupun hama menjadi lebih lambat.

Masyarakat Timor mengenal proses pengasapan ini dengan istilah se’i. Banyak orang mengira se’i hanya merujuk pada hidangan daging asap khas NTT. Padahal, se’i sebenarnya adalah teknik pengasapan yang sejak dahulu digunakan untuk mengawetkan berbagai jenis bahan pangan.

Melalui proses tersebut, jagung yang digantung di atas para-para akan perlahan mengering. Ketika musim hujan tiba, hebatnya karena teknik pengasapan ume kbubu ini sebagian jagung dapat diturunkan untuk dijadikan benih tanam kembali lohh, sementara sebagian lainnya diolah menjadi berbagai makanan tradisional, seperti Jagung Bose, Jagung Katemak, atau digiling dan dicampur dengan beras sebagai makanan pokok masyarakat setempat.

Tungku perapian di dalam Ume Kbubu menghasilkan asap untuk membantu mengawetkan makanan.

Benarkah Makanan Bisa Bertahan Berbulan-bulan hingga Tahunan?

Kemampuan Ume Kbubu dalam menjaga kualitas bahan pangan bukan hanya sekadar cerita turun-temurun. Menurut penuturan masyarakat setempat serta sejumlah kajian mengenai fungsi rumah adat ini, sistem pengasapan tradisional mampu membuat hasil panen seperti jagung dan kacang-kacangan bertahan sekitar empat hingga enam bulan.

Bahkan, dalam kondisi penyimpanan yang baik dan dilakukan secara konsisten, beberapa jenis hasil panen dapat bertahan hingga satu musim tanam berikutnya, bahkan ada yang menyebut bisa mencapai lebih dari satu tahun. Karena itulah, Ume Kbubu menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat Timor, terutama saat menghadapi musim kemarau yang panjang.

Masyarakat Timor bergotong royong mengikat hasil panen jagung sebelum disimpan di Ume Kbubu.

Tradisi yang Mulai Terancam Hilang

Di balik kecanggihan sistem pengawetan tradisional ini, ada satu hal yang mulai memprihatinkan. Saat musim panen dahulu, masyarakat di satu kampung biasanya berkumpul setiap malam untuk mengikat jagung secara bersama-sama. Setelah pekerjaan di satu rumah selesai, mereka akan bergantian membantu rumah berikutnya hingga seluruh hasil panen warga selesai disimpan di dalam Ume Kbubu.

Tradisi gotong royong tersebut bukan hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal cara mengikat jagung, teknik pengasapan, hingga mengolah hasil panen menjadi makanan sehari-hari.

Sayangnya, seiring perubahan gaya hidup, tradisi ini mulai jarang dilakukan. Banyak anak muda yang tidak lagi memahami proses mengikat jagung, menyimpannya di dalam Ume Kbubu, bahkan mengolahnya menjadi makanan tradisional. Jika tidak terus diwariskan, bukan hanya bangunan Ume Kbubu yang terancam hilang, tetapi juga pengetahuan berharga yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Timor selama ratusan tahun.

Rumah adat Ume Kbubu milik masyarakat Suku Dawan di Pulau Timor dengan asap dari tungku yang masih menyala sebagai simbol ketahanan pangan tradisional.

Ketika Pengetahuan Leluhur Masih Menyala

Di tengah perkembangan teknologi modern, Ume Kbubu menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia telah lama memiliki solusi cerdas untuk menjaga persediaan pangan tanpa bergantung pada listrik. Melalui perpaduan arsitektur tradisional, panas dari tungku, dan teknik pengasapan alami, masyarakat Suku Dawan berhasil menciptakan sistem penyimpanan pangan yang efektif sekaligus ramah lingkungan.

Sunners, mengenal Ume Kbubu bukan hanya tentang mengetahui bentuk sebuah rumah adat, tetapi juga memahami bagaimana nenek moyang kita dimasa itu mampu melahirkan inovasi yang tetap relevan hingga sekarang. Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik mengenal dan melestarikan warisan budaya Indonesia, karena di balik setiap tradisi, selalu ada pelajaran berharga yang layak diteruskan kepada generasi berikutny

Produk Rekomendasi Sunday

Ini paragraf kesimpulan atau penutup
(Tidak harus ada keyphrase di dalamnya!)

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4