Skip to main content

Majalah Sunday

Kenapa Nama Tan Malaka Jarang Ada di Buku Pelajaran Sekolah?

Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga

tan malaka
sumber: Wikimedia Commons

Sunners, coba ingat-ingat lagi nama-nama pahlawan yang sering muncul di buku pelajaran sekolahmu. Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman, pasti telingamu sudah tidak asing lagi dengan nama-nama tersebut dan kisah perjuangan mereka sudah melekat di otakmu.

Namun, pernahkah Sunners mendengar kisah tentang seorang tokoh nasional yang berpindah-pindah negara dengan belasan nama samaran karena menjadi buronan politik dan bukunya menjadi dasar terbentuknya Republik Indonesia? Tokoh nasional itu bernama Tan Malaka. Menariknya, meskipun beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan dijuluki “Bapak Republik Indonesia”, kisah hidup dan pemikiran besarnya malah terkesan sengaja “dihilangkan” karena namanya jarang ditemukan di buku-buku sejarah dan kurikulum sekolah negara kita. Kenapa bisa begitu? Yuk, simak artikel di bawah ini untuk mencari tahu jawabannya!

Siapa itu Tan Malaka?

Lahir di Pandam Gadang, Sumatra Barat pada tanggal 2 Juni 1897, Tan Malaka adalah seorang negarawan, guru, penulis, dan pemikir politik. Ia lahir dengan nama asli Ibrahim Simabua Datuak Sutan Malaka.

Tan Malaka mengenyam pendidikan di Kweekschool Bukittinggi yang merupakan sebuah sekolah untuk mencetak lulusan guru. Bukan sembarang sekolah, hanya orang-orang penting dan golongan priyayi yang bisa masuk ke Kweekschool. Setelah lulus dari Kweekschool, pada tahun 1913, Tan Malaka melanjutkan pendidikan keguruan di Rijkskweekschool Haarlem, Belanda, dan disinilah wawasan dan pola pikirnya tentang politik mulai terbuka.

Selama belajar di Belanda, Tan Malaka berkenalan dengan pemikiran-pemikiran politik di Eropa seperti liberalisme, nasionalisme, dan komunisme. Terlebih lagi, Revolusi Rusia baru saja terjadi pada Oktober 1917 sehingga Tan Malaka banyak mempelajari tentang komunisme dan sosialisme. Ia juga membaca buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Wawasan dan gagasan yang Tan Malaka pelajari memengaruhi semangatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang pada masa itu masih berada di bawah kolonialisme.

sumber: Wikipedia

Setelah kembali dari Belanda, Tan Malaka bekerja sebagai guru bahasa Melayu bagi anak-anak buruh di perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Di sana, ia melihat kenyataan pahit penderitaan kaum buruh. Tenaga mereka dikuras habis, tetapi dengan segala kerja keras yang telah mereka lakukan, mereka tetap mendapat upah rendah bahkan sering ditipu oleh kaum borjuis. Tan Malaka menyadari bahwa ada ketimpangan yang sangat jauh antara kaum buruh dengan para penguasa. Maka dari itu, dengan dibekali wawasan komunisme dan sosialisme yang ia pelajari, Tan Malaka bergabung dengan berbagai organisasi politik untuk memperjuangkan hak kaum buruh, salah satunya Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang nantinya berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia. Tan juga bergabung dengan Sarekat Islam bersama H.O.S Tjokroaminoto dan membangun sekolah untuk anak-anak Sarekat Islam, dimana ia mengajarkan calistung (baca, tulis, hitung), pendidikan politik dan berorganisasi, serta pendidikan anti-kolonialisme.

Berbagai aktivitas politik Tan Malaka inilah yang menyebabkan dirinya menjadi buronan politik pemerintah kolonial. Tan diasingkan ke Belanda pada tahun 1922, tetapi setelah itu, ia kabur dan melintasi berbagai negara di Eropa dan Asia. Ia juga menggunakan banyak nama samaran, membentuk gerakan bawah tanah, dan bergonta-ganti pekerjaan.

Saat singgah di Tiongkok dan menjadi wakil Komunis Internasional untuk Asia Tenggara, Tan menuangkan pemikirannya tentang konsep bangsa Indonesia dalam buku Naar de Republiek Indonesia. Dalam buku ini, Tan berpendapat bahwa bentuk negara republik-lah yang cocok untuk bangsa Indonesia. Tan juga mengekspresikan cita-citanya agar bangsa Indonesia segera lepas dari belenggu kolonialisme.

Setelah membaca biografi Tan Malaka di atas, Sunners mungkin berpikir bahwa Tan Malaka telah banyak berjasa untuk Indonesia dan perjuangannya patut dihormati masyarakat. Namun, pertanyaannya, kenapa nama Tan Malaka dibenci dan jarang disebut di buku-buku pelajaran sejarah, bahkan seolah-olah “hilang” dari sejarah bangsa kita?

Kenapa Tan Malaka Dibenci dan “Hilang” dari Sejarah Indonesia?

Sebelum tahu jawabannya, Sunners perlu flashback ke masa sebelum Indonesia merdeka, dimana pemerintah masih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi. Perundingan Linggarjati dan Renville yang disepakati Soekarno-Hatta dianggap oleh Tan Malaka sebagai bentuk kompromi dan ia sangat menolak keras kesepakatan tersebut. Bahkan, Tan Malaka sempat membentuk kelompok Persatuan Perjuangan dengan tuntutan utama “Merdeka 100%” melalui perlawanan bersenjata dan menolak strategi diplomasi lunak yang dilakukan Kabinet Sutan Sjahrir.

Akibat aktivitas politik Tan dan dukungannya terhadap laskar bersenjata yang dianggap menyaingi pemerintah pusat, pada tahun 1946, Tan ditahan oleh pemerintah. Kemudian, pada masa kabinet yang dipimpin Mohammad Hatta, Tan sempat dibebaskan untuk meredam gejolak politik lain yang diinisiasikan oleh PKI di bawah pimpinan Musso.

Meskipun Tan Malaka merupakan tokoh golongan kiri, ia sering berselisih dengan sesama anggota PKI. Ia juga sangat menentang Pemberontakan PKI di Madiun.

Setelah bebas dari tahanan, Tan Malaka digadang-gadang sebagai penerus Soekarno saat ia dan Mohammad Hatta diasingkan ke Pulau Bangka. Hal ini dikarenakan Soekarno kagum dengan pemikiran Tan Malaka sehingga ia menulis testamen politik kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya saat pengasingan, Tan-lah yang akan melanjutkan perjuangannya.

Namun, alih-alih mendapat dukungan, sejumlah masyarakat Indonesia yang berseberangan dengan Tan Malaka malah menuding ia hendak menggulingkan Soekarno sehingga ia harus ditangkap. Tan Malaka juga dituduh dengan klaim-klaim lain yang tidak pernah dipastikan kebenarannya.

sumber: Wikipedia

Sayangnya, saat sedang bergerilya melawan Belanda di Kediri, Tan dieksekusi mati oleh anggota Tentara Nasional Indonesia pada tanggal 21 Februari 1949. Selama bertahun-tahun, kabar kematian Tan Malaka disembunyikan dari masyarakat. Namun, pada tahun 1963, Soekarno menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tan Malaka.

Maju sedikit ke rezim Orde Baru, segala hal berbau komunisme dan Marxisme sangat dilarang oleh pemerintah. Karena Tan Malaka pernah aktif memimpin gerakan komunis pada masa hidupnya, segala sejarah tentangnya dikubur sedalam-dalamnya dan distigma negatif. Bahkan sampai saat ini, masih ada beberapa pihak yang menganggap Tan Malaka tidak layak dijadikan Pahlawan Nasional.

Belajar Berpikir Kritis dari Tan Malaka

Selama masa hidupnya, Tan Malaka telah menuangkan pikiran dan gagasannya melalui buku, seperti Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Dari Penjara ke Penjara, Naar de Republiek Indonesia, dan Aksi Massa.

sumber: @tokobukumainmain/via Instagram

Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Madilog. Dalam buku ini, Tan Malaka menulis tentang beberapa poin penting yang dapat kita pelajari:

  • Materialisme (Berpikir Berdasarkan Fakta) : Mengajarkan kita untuk menilai dunia berdasarkan bukti nyata dan hal-hal konkret, bukan sekadar angan-angan atau kekuatan ghaib. Dengan memahami hal ini, kita bisa mencari akar masalah berdasarkan yang benar-benar terjadi di masyarakat, seperti ketimpangan ekonomi dan pendidikan.
  • Dialektika (Memahami Perubahan) : Segala hal yang ada di dunia ini dinamis (selalu bergerak) dan seringkali saling bertentangan. Kita bisa belajar bahwa segala perubahan dan pertentangan yang terjadi akan bisa diselesaikan untuk menciptakan situasi yang lebih baik.
  • Logika (Berpikir Rasional) : Ketika kita menemukan suatu informasi atau masalah, kita perlu berpikir menggunakan akal sehat dan menarik kesimpulan yang masuk akal. Kita juga perlu menolak hal-hal mistis dan jangan menggantungkan nasib pada jalan pintas, takhayul, atau mitos.
  • Mentalitas Merdeka : Madilog mengajarkan kita untuk tidak pasrah dengan keadaan dan percaya bahwa kita ditakdirkan untuk menderita. Kita perlu berani untuk bertindak proaktif mengubah keadaan.

Sunners, menelusuri kembali jejak Tan Malaka yang sempat terpinggirkan dari kurikulum sekolah kita adalah salah satu refleksi yang dapat kita lakukan bahwa ada tokoh perjuangan yang berusaha dibungkam oleh bangsanya sendiri. Namun, pada akhirnya, status pahlawan yang sesungguhnya tidak ditentukan dengan seberapa tebal halaman buku sejarah yang membahas tentang namanya, melainkan seberapa besar kontribusinya terhadap bangsa dan pemikirannya yang masih melekat di kepala generasi muda Indonesia. Dengan membaca tulisan Tan Malaka, kita bisa belajar untuk menjadi generasi penerus yang berpikir kritis, tidak gampang disetir pihak lain, dan berani berpikir merdeka untuk masa depan yang lebih baik.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 13