Skip to main content

Majalah Sunday

Baca Dulu, Overthinking Nanti

Penulis: Amelia Listiany – Universitas Kristen Indonesia

Have you ever—pernahkah kamu merasa kewalahan oleh pikiran sendiri sampai sulit tidur? Baru mau merem, eh, malah tiba-tiba kepikiran masa depan, salah chat orang minggu lalu, atau cemas mikirin hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Remaja jaman sekarang tuh sering banget terjebak dalam siklus overthinking tanpa henti. Maunya rebahan buat istirahat, tapi otak malah kerja rodi bikin skenario horor sendiri. Di tengah gempuran informasi modern yang bikin kepala makin penuh, kita butuh banget pelarian yang positif dan sehat buat mental.


Fenomena kecemasan kolektif ini bukan hal sepele. Beban akademik, ekspektasi sosial di media sosial, hingga fear of missing out (FOMO) bikin tingkat stres anak muda melonjak drastis. Masalahnya, banyak dari kita yang salah memilih pelarian. Alih-alih mendapatkan ketenangan, doom-scrolling di TikTok atau Instagram justru bikin kepala makin mumet. Padahal, menjaga kesehatan mental di era digital butuh strategi atau coping mechanism yang benar-benar efektif dan terbukti secara ilmiah.

Kenalan Sama Coping Mechanism: Kenapa Pelarian yang Tepat Itu Penting?

Menurut prinsip Terapi Perilaku Kognitif (CBT), coping mechanism yang salah seperti kecanduan gadget atau pengabaian emosi adalah bentuk perilaku maladaptif yang didorong oleh distorsi kognitif. Pelarian ini hanya memberikan kelegaan instan yang semu, namun dalam jangka panjang justru memperkuat siklus kecemasan dan memperburuk kesehatan mental seseorang.


 
Baca Dulu, Overthinking Nanti
Source: Pinterest

Kenapa Membaca Bisa Jadi Terapi Alami?

Berdasarkan studi terbaru tahun 2026 yang dirilis oleh University of Cambridge dan yayasan The Queen’s Reading Room dalam jurnal Psychological Medicine, kebiasaan membaca untuk kesenangan terbukti secara medis mampu mengubah struktur dan fungsi otak manusia. Penelitian berskala besar ini menemukan bahwa membaca secara aktif memperkuat area otak yang mengatur regulasi emosi, kontrol eksekutif, dan kognisi sosial. Hebatnya lagi, aktivitas ini mampu menurunkan risiko penyakit Alzheimer dan demensia hingga 33%, sekaligus menjadi “penghancur” rasa sepi paling efektif karena memberikan simulasi hubungan sosial lewat karakter cerita.
Mengapa hal tersebut bisa berdampak begitu mendalam pada kesehatan mental? Para peneliti menjelaskan bahwa melalui pemindaian otak modern (brain scans), membaca terbukti bertindak sebagai bentuk olahraga otak (mental workout) yang merangsang pembentukan jalur saraf baru. Proses ini secara langsung melatih otak untuk mengontrol emosi dengan lebih stabil dan mengambil keputusan lebih baik saat berada di bawah tekanan. Menenggelamkan diri dalam sebuah bacaan terbukti memberikan ketenangan psikologis yang setara dengan meditasi, sehingga mampu memutus rantai kecemasan kronis dan membebaskan pikiran dari belenggu overthinking.


Selain itu, membaca self help book memberikan sudut pandang baru (perspective shift). Saat kita merasa masalah kita adalah yang paling berat di dunia, membaca buku pengembangan diri sering kali membuka mata bahwa orang lain juga pernah mengalami fase serupa dan berhasil bangkit. Buku jenis ini mengajarkan kita langkah-langkah konkret untuk mengenali emosi diri sendiri tanpa harus menghakiminya.

Source: Pinterest

Tips Praktis: Cara Asyik Mulai Membaca Buat Kamu yang Gampang Bosen

Buat kamu yang terbiasa dengan konten serba cepat berdurasi 15 detik, duduk diam membaca satu bab buku rasanya mungkin mirip tantangan hidup mati. Supaya nggak langsung burnout, terapkan tips santai ini:
  • Mulai dari yang Ringan (Jangan Sok Ide): Nggak usah langsung sok sibuk menamatkan buku filsafat setebal bata. Mulailah dari novel fiksi remaja, komik, atau self help book dengan gaya bahasa santai yang relatable dengan keseharianmu.
  • Terapkan Aturan 10 Halaman: Berkomitmenlah membaca minimal 10 halaman atau 5-10 menit sebelum tidur. Kalau keterusan dan seru, silakan dilanjut. Kalau ngantuk, ya, syukuri karena itu pertanda kamu bisa tidur dengan pulas.
  • Puasa Gadget Sementara: Jauhkan smartphone dari jangkauan tangan saat kamu mulai membuka buku. Notifikasi chat atau media sosial adalah musuh utama fokus yang bikin overthinking kambuh lagi.
  • Jadikan Rutinitas yang Nyaman: Seduh minuman hangat, pasang lampu kamar yang redup atau temaram, dan ciptakan vibe yang menenangkan agar membaca terasa seperti me-time mewah, bukan kewajiban.
Source: Pinterest

Rekomendasi Buku yang Wajib Masuk Reading List Kamu

Biar nggak bingung mau baca dari mana, berikut adalah beberapa pilihan buku yang pas banget dibaca saat pikiran sedang ruwet:
 
  • “The Things You Can See Only When You Slow Down” oleh Haemin Sunim: Buku asal Korea Selatan ini punya ilustrasi estetik dengan kalimat-kalimat pendek yang menenangkan jiwa. Cocok banget buat kamu yang merasa hidup terlalu buru-buru.
  • “Filosofi Teras” oleh Henry Manampiring: Buku lokal bertema stoisisme yang dikemas dengan bahasa santai ala obrolan Gen Z. Buku ini ngebantu banget buat kita belajar memilah mana masalah yang bisa dikontrol dan mana yang nggak perlu dipikirkan.
  • “Loving the Imperfect” oleh Haemin Sunim: Buku terjemahan ini berfokus pada cara menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain. Sangat direkomendasikan jika kamu sering merasa insecure atau terlalu keras pada diri sendiri saat menghadapi kegagalan.
  • “Atomic Habits” by James Clear: Buku ini mengajarkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan mental dan hidup dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari. Sangat praktis untuk kamu yang ingin menata ulang rutinitas hidup yang berantakan.
  • “Why Has Nobody Told Me This Before?” by Dr. Julie Smith: Ditulis oleh seorang psikolog klinis, buku ini seperti toolbox kesehatan mental. Isinya memberikan solusi praktis dan instan untuk menghadapi kecemasan, stres, motivasi yang drop, hingga cara memproses kesedihan.
Source: Pinterest

Produk Rekomendasi Sunday

Overthinking itu manusiawi, tapi membiarkannya merusak kesehatan mentalmu setiap malam tentu bukan keputusan yang bijak. Alih-alih membiarkan otak terus-menerus terjebak dalam skenario buruk yang belum tentu terjadi, mari ubah arah fokus kita lewat kebiasaan kecil yang bermakna.
Membaca bukan cuma soal menambah wawasan, tapi tentang merawat kewarasan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Jadi, mulai malam ini, yuk kurangi doom-scrolling, matikan data seluler, ambil bukumu, dan biarkan halaman demi halaman kertas membawamu pada ketenangan.
Baca dulu, overthinking-nya urusan belakangan!

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1