Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda Mulia
Sunners, misalnya kalau ada yang bertanya ke kamu, “Di mana rumahmu?”, mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab nama kota atau desa tempat tinggal. Namun, bagi leluhur Suku Bajo, rumah bukan hanya sebuah tempat yang berdiri di atas tanah. Selama berabad-abad, mereka menghabiskan hidup dengan berpindah dari satu laut ke laut lainnya menggunakan perahu.
Cara hidup yang begitu dekat dengan laut ternyata bukan hanya menarik perhatian para peneliti dan sejarawan. Bahkan, sutradara James Cameron mengungkapkan bahwa kehidupan masyarakat laut di dunia nyata, termasuk Suku Bajo, menjadi salah satu inspirasi dalam membangun klan Metkayina di film Avatar: The Way of Water. Karena cara hidup itulah, Suku Bajo dikenal sebagai Pengembara Laut.

Julukan Pengembara Laut bukan muncul karena Suku Bajo tinggal di rumah-rumah yang berdiri di atas air seperti yang sering terlihat di media sosial. Julukan ini berasal dari cara hidup leluhur mereka yang dahulu berpindah-pindah mengarungi lautan menggunakan perahu tradisional.
Mereka mengikuti musim ikan, mencari perairan yang aman, sekaligus berpindah dari satu pulau ke pulau lain tanpa menetap dalam waktu lama. Bahkan, sebelum batas negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina terbentuk, masyarakat Bajo telah berlayar melintasi kawasan Asia Tenggara.
Karena itulah, banyak peneliti menyebut mereka sebagai sea nomads atau masyarakat pengembara laut. Julukan tersebut menggambarkan bagaimana laut bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi rumah, jalur perjalanan, dan bagian dari kehidupan mereka.

Menariknya, asal-usul Suku Bajo hingga kini masih menjadi perdebatan para peneliti. Salah satu teori menyebutkan bahwa mereka berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina Selatan, kemudian menyebar ke berbagai wilayah pesisir Indonesia dan Malaysia.
Namun, ada pula penelitian yang menunjukkan hubungan erat masyarakat Bajo dengan Sulawesi karena interaksi mereka yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Itulah mengapa identitas Suku Bajo tidak dibentuk oleh satu daerah saja, melainkan oleh perjalanan panjang mereka di lautan Asia Tenggara.

Kalau dipikir-pikir, berpindah-pindah di lautan selama berabad-abad tentu bukan hal yang mudah. Agar bisa bertahan, masyarakat Bajo tidak hanya mengandalkan kemampuan berlayar, tetapi juga mewariskan pengetahuan tentang laut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejak kecil, anak-anak Bajo sudah dikenalkan dengan kehidupan laut. Salah satu tradisi yang masih dikenal hingga kini adalah Tamuni, yaitu prosesi memperkenalkan anak kepada laut sebagai simbol bahwa laut akan menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga cara orang tua menanamkan rasa hormat kepada alam sejak dini.
Selain itu, masyarakat Bajo juga mengenal berbagai pamali atau pantangan ketika melaut. Misalnya, menjaga ucapan, tidak bersikap sombong, hingga tidak mengambil hasil laut secara berlebihan. Bagi mereka, laut bukan sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sahabat yang harus dihormati agar tetap memberikan kehidupan.
Cara pandang seperti inilah yang membuat hubungan Suku Bajo dengan laut tetap terjaga hingga sekarang.

Keunikan Suku Bajo ternyata tidak hanya menarik perhatian peneliti budaya, tetapi juga ilmuwan dari berbagai negara.
Pada 2018, sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell menemukan bahwa masyarakat Bajo memiliki ukuran limpa yang rata-rata 50% lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat di sekitarnya. Limpa berperan menyimpan sel darah merah yang akan dilepaskan saat tubuh kekurangan oksigen, termasuk ketika menyelam. Temuan ini diduga menjadi salah satu faktor yang membantu mereka bertahan lebih lama di bawah air bahkan hasil uji yang dilakukan mendapati masyarakat suku Bajo mampu menahan nafas saat didalam air selama 1-13 menit.
Namun, kemampuan menyelam Suku Bajo tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis. Kebiasaan hidup yang dekat dengan laut sejak kecil, latihan yang dilakukan secara turun-temurun, serta pengalaman bertahun-tahun juga berperan besar dalam membentuk keterampilan tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Bajo bukan hanya menarik dari sisi budaya, tetapi juga menjadi contoh bagaimana manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Julukan Pengembara Laut bukan sekadar sebutan bagi Suku Bajo, tetapi cerminan dari perjalanan panjang masyarakat yang menjadikan laut sebagai bagian dari kehidupan dan identitas mereka. Meski kini banyak yang telah menetap di wilayah pesisir, semangat hidup berdampingan dengan alam dan menjaga tradisi tetap diwariskan dari generasi ke generasi.
Ternyata, Indonesia menyimpan banyak kisah menarik yang sering kali luput dari perhatian kita, ya, Sunners. Yuk, terus jelajahi keberagaman budaya Nusantara, karena di balik setiap daerah selalu ada cerita yang bisa membuat kita semakin mengenal dan bangga dengan Indonesia.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.