Skip to main content

Majalah Sunday

Self Silencing: Memilih Diam Saat Disalahkan

Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya

Sunners, pas kalian kecil atau mungkin sampai saat ini terjadi, kalian pernah gak sih disalahin tentang suatu hal padahal sebenarnya bukan salah kalian? Nah, apa yang kalian lakukan ketika hal tersebut terjadi? Apakah kalian tipe yang membela diri atau tipe yang diam aja? Ternyata jika kita diam aja, itu berpengaruh besar lho untuk kesehatan mental kita dan biasanya disebut dengan self silencing. Kok bisa? Yuk cari tahu.

Self Silencing: Memilih Diam Saat Disalahkan

Self Silencing? Diam Aja Ketika Ada Konflik?

Sebenarnya, ketika kita self silencing atau berdiam diri pada saat terjadinya konflik, bukan berarti kita sepenuhnya mau diam. Terkadang terdapat trauma yang tersimpan dalam diri kita dan trauma tersebut yang dapat mempengaruhi diri kita untuk bersuara. Oleh karena itu, seringkali mengurungkan diri untuk melindungi diri sendiri.

Melindungi diri tapi diam aja? Itu memang termasuk ke pembelaan diri karena ketika kita sadar kalau kita tipe yang self silencing, tentu akan merasa lebih aman. Jika kita bersuara, belum tentu dapat didengar dengan baik dan takut membuat pihak lain menjadi lebih marah, gak terima, dan lain-lain.

Namun, self silencing bukanlah solusi terbaik ketika adanya konflik. Kenapa? Hal ini bisa mengefek kepada kesehatan mental kita. Nantinya akan lebih sering stress, overthinking, depresi, dan lainnya sehingga sangat perlu diperhatikan agar kesehatan kita gak drop.

Suatu gambaran ketika kita memilih diam. (Pict by Canva)

Apa Alasannya Ketika Kita Memilih Diam Aja Saat Konflik Terjadi?

Berhubungan dengan pembahasan sebelumnya bahwa alasan kita memutuskan untuk self silencing sebenarnya karena kita lagi melindungi diri sendiri dari ancaman yang ada. Selain agar kita gak merasa terancam, terkadang ada perasaan untuk mendahului perasaan orang lain. Kesannya seperti people pleaser gitu deh.

Hal tersebut juga terjadi karena takut adanya penolakan dari orang lain dan takut kalau bersuara gak akan ditemani lagi atau jadi muncul perasaan kesal, dendam, dan lainnya pada pihak lain. Bisa kita ketahui kalau hubungan yang dimiliki juga terkesan toxic atau nggak baik. 

Lalu, Bagaimana Agar Kita Dapat Bersuara, Mengeluarkan Apa yang Kita Rasakan?

Menurut The Center of Mindfulness & CBT bahwa untuk kita bisa lepas dari self silencing yaitu dengan taklukkan perasaan takut kita dulu. Kita harus dari zona nyaman atau toxic itu agar kita bisa berubah menjadi lebih baik. Kemudian, kita dapat bercerita kepada orang-orang tertentu agar ada yang menyemangati meskipun hanya sekadar kata-kata tetapi dampaknya akan besar.

Jika kita udah lebih berani, kita bisa tuh untuk coba memperbaiki hubungan itu dengan memperbaiki cara berkomunikasi antara satu sama lain. Kita bisa terbuka atau mencurahkan hati kita sepenuhnya ke mereka agar mereka itu tahu apa yang sebenarnya kita rasakan pada saat konflik-konflik tersebut terjadi.

Sekiranya kurang didengar baik oleh mereka, mungkin bisa meminta bantuan dari seseorang yang profesional agar dibantu. 

Mencoba berani untuk membuka suara agar kita nggak berakhir dengan diam terus. (Pict by Unsplash)

Ada kalanya kita perlu menyuarakan perasaan kita kepada orang lain ketika suatu konflik terjadi. Dengan kita mengungkapkan apa yang dirasakan bukan berarti kita menjadi orang yang egois tetapi kita ingin orang lain untuk dapat mengerti kita juga terutama dari perspektif lain. Sesekali terjadi termasuk hal yang wajar, tetapi jika terus diam diri secara menerus akan berdampak negatif ke mental kita. Oleh karena itu, ayo kita mulai belajar untuk mengekspresikan apa yang ingin kita rasakan agar bisa menyelesaikan konflik serta berkomunikasi lebih baik lagi.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 7